PART 18 : Hati Berlabuh

19 5 0
                                        

Semilir angin menerpa wajah oval gadis yang sedang merapikan bukunya. Bel pulang telah berhenti kurang lebih sejak satu menit tadi, kendati demikian, Mentari baru membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja.

Dirinya saat ini bersama lima teman lain di kelas, murid yang lain sudah berhamburan, tentu yang tersisa hanyalah petugas piket. Setelah Mentari merapikan seluruh barang miliknya, ia ikut bergabung membersihkan kelas.

Kaki kursi beradu dengan lantai menimbulkan decitan, efek dari itu membuat Mentari ngilu. Sejurus kemudian, ada salah seorang temannya yang menyuruh Mentari untuk mengambil kain pel di toilet, serta menjadi pelaku pembersihan dengan benda tersebut, dan hanya dia yang harus melakukan tugas itu, sebab yang lain sudah selesai dengan tugasnya.

Ingin sebal, tetapi tak mungkin bukan? Tahu jika akan seperti ini, barangkali Mentari tidak menunda aksi merapikan barang-barangnya, dan bergegas dengan apa yang harus dikerjakan. Namun, agaknya buku novel bergenre roman yang ia baca tadi telah memanipulasi otak gadis itu, sehingga kecanduan tak dapat ditahan.

Dengan langkah gontai, Mentari menyusuri koridor sekolah, menuruni anak tangga, hingga akhirnya berlabuh pada toilet. Mentari ke toilet hanya untuk mengambil ember dan kain pel, tidak ada sedikit pun keinginan untuk buang hajat. Seusai mengisi ember dengan air, Mentari menambahkan setutup botol pewangi lantai, lalu kembali ke kelasnya dengan raut wajah tanpa gairah.

Tugas mulia ini dengan segera Mentari lakukan, tak lain dan tak bukan karena sekolah sudah mulai sepi. Ini tentu membuat Mentari mulai dihantui rasa cemas. Yang didambakan Mentari pun tiba, ia sudah selesai berurusan dengan kain pel dan kelas tercinta.

"Bumi? Kamu ngapain di sini?"

"Lo sendiri kenapa ada di sini? Enggak pulang?" Raja menitikberatkan pandangannya pada tangan Mentari yang sedang memegang ember. "Lo piket?"

"Iya, barusan selesai."

"Sendiri aja piketnya? Lo ditinggal? Lo cuma sendiri? Solidaritasnya mana?!"

"Eh, enggak gitu." Mentari mencoba membenarkan, tetapi apa mau dikata, Raja mencerca lagi.

"Enggak gitu gimana? Yang lain pada kabur, ya? Lo disuruh dan lo mau aja?"

Mentari meralat, "Bumi, cicing heula ih. Tadi tuh mereka udah piket duluan, jadi aku bagian yang ngepel."

"Oh, gitu? Jadi lo enggak sendiri?"

"Enggak," jawab Mentari, sembari menggelengkan kepalanya.

Raja menghela napas kala mendengar jawaban Mentari. Jujur, Raja sendiri ngeri jika berada di sekolah cukup lama, barangkali ada penghuni tak tampak wujudnya berkeliaran di sekolah.

"Ya udah, mau pulang, 'kan?"

"Iyalah! Masa nginep, sih?" Mentari berucap sedikit sebal atas pertanyaan rumit Raja.

Sejoli itu menuruni anak tangga, Mentari jalan terlebih dahulu, sedang Raja mengekor. Hingga akhirnya mereka tiba di gerbang sekolah. Mentari berhenti, Raja pun melakukan hal yang serupa.

"Kamu ngapain ikutin aku?"

"Lo tau tempat nongkrong yang hits gitu enggak?"

"Hah? Tempat nongkrong?" tanya Mentari, memastikan.

"Iya, lo tau enggak?"

"Enggak tau," jawab Mentari seraya mengerucutkan bibirnya.

Raja menepuk jidatnya, ia melupakan satu hal. "Ah, iya! Baru inget gue ... kalo tempat makan, makanan sunda-sunda gitu, yang enak. Kalo itu lo tau enggak?"

Raja BumiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang