PART 17 : Kisah Yang Berbeda

15 5 0
                                        

Rintik hujan sedang bersemayam malam ini, menemani yang belum juga lelah berinteraksi dan berlari. Raja terdiam di depan pintu rumahnya, dengung-dengung suara itu masih terdengar, sumpah dan serapah dari dua manusia yang dulunya pernah mengikat janji suci dengan hati. Dengan ragu yang berat di dadanya, ia raih knop pintu mengkilap itu dan melenggang masuk tidak memedulikan ayah dan ibunya yang sepertinya dalam keadaan perang dingin.

"Kenapa telat pulangnya, Raja?" Wanita dengan kerut samar-samar itu berjalan menghampiri putranya. "Raja kam--"

Blarr--

Raja membanting pintu kamar, sang ibunda hanya menatap punggung Raja yang menghilang setelah pintu mulai membatasi dan sunyi menenggelami. Beberapa detik dirinya menyelami benak di depan pintu kamar tersebut, tidak lama setelah itu, kembali dia meluncur ke dapur karena suara teko yang semakin erat memeluk gendang telinganya.

Sayang sekali, tidak ada dari mereka berdua yang sadar jika pria di usia nyaris setengah abad itu berdiri di balik tembokujung lorong. Sama sekali tidak bergerak, sibuk dengan debar dadanya yang tidak ingin bekerja sama.

Sedangkan anggota termuda dari keluarga itu sibuk melepaskan seragamnya, melempar ransel kosong, kemudian membanting diri ke ranjang.

Malam ini sama sekali tidak istimewa, sama seperti malam-malam sebelumnya. Raja menutup arah cahaya dengan tangannya, menahan bibirnya yang mulai bergetar kencang. "Sialan ...."

Ting!

Sebuah nama muncul di lock screen ponsel Raja, tapi pemuda itu sama sekali tidak berniat beranjak dari tempat tidurnya.

Cahaya bulan merangkak dari jendela kamarnya, membuat debu tampak jelas berterbangan. Suara hujan semakin memekakkan telinga, berdansa di loteng atas rumah tersebut. Raja tidak memedulikan apa-apa malam ini, dirinya hanya ingin cepat tertidur dan melupakan segala sesuatu yang terjadi padanya.

Mungkin, kali ini Raja sedang ketakutan.

Suara langkah kaki terdengar dari luar, hembusan napas berat itu disembunyikan suara hujan. "Raja ... ini Papa, makan malam sudah siap, ayo keluar." Setelah beberapa detik tidak mendapat jawaban, ia raih knop pintu. "Raja, ayo--"

Mata layu itu semakin kehilangan cahayanya, menatap Raja yang sekarang tertidur dengan wajah damai, seakan lebih bahagia bermain di alam mimpinya daripada realita.

"Raja ... apa Papa salah?" gumamnya, lalu pergi menghilang dibawa cahaya kecil lampu lorong.

                                         ••••

Tangga yang dilapisi kayu itu berdecit, tergambar sesosok pemuda yang diam-diam melangkah. Di luar masih gelap, tapi dirinya sudah bersih dan rapi dengan seragam sekolah.

Raja dengan pelan mengambil sepatunya, membuka pintu perlahan dan menuju ke kendaraan roa duanya. Ia bernapas lega, tangannya mengusap dahi yang penuh keringat. "Jam lima lebih empat puluh tujuh menit," katanya sembari menatap arloji.

Pemuda itu dengan lincah membawa motornya menjauh dari perkarangan rumah, berjaga-jaga jika suara mesinnya akan membangunkan dua orang yang masih tertidur di rumah tersebut.

Langit yang masih biru tua pekat itu menjadi saksi bisu seberapa berantakannya Raja hari ini. Jalan raya lengang, angin dingin masih dengan setia memeluk dedaunan yang berterbangan di trotoar. Sesekali embun bertamu ke kaca helm Raja, tapi pemuda itu sama sekali tidak menggubris, semakin panjang jarum jam bergerak, semakin kencang kendarannya melaju di sebuah dunia yang tampak kosong nan hampa.

"Arka ...." Raja melambatkan sepeda motornya, melihat salah satu sahabatnya itu dari jauh, duduk di teras rumah dengan kepala menunduk dan sesekali menjambak rambut legamnya, dengan samar ia menangkap wajah yang tampak lelah dan mengantuk itu, beberapa lebam di leher belakang yang jelas ditimpa lampu jalan.

Raja BumiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang