PART 14 : KEDUA KALINYA

15 4 0
                                        

"Huah!"

Dengan napas tersengal-sengal bak seusai lari maraton, Mentari terbangun dari tidurnya. Keringat dingin serta wajah pucat menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Itu benar. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk.

Sial! Mentari tak habis pikir, mengapa masa lalu kelam itu suka sekali hadir. Masa lalu kelam yang seharusnya terbenam, tapi malah meraja di kepalanya. Perihal ini jugalah yang membuat Mentari mengalami gangguan stres pasca trauma. Sebenarnya ganguan itu tidak selalu ada, hanya saja seringkali hadir jika Mentari merasa tidak aman pada keadaan sekitar.

Atmosfer di sekeliling Mentari berubah, pikiran macam-macam dan tindak asusila menguasai otaknya. Gangguan itu hadir, kilas balik akan kejadian mengerikan itu muncul. Ini membuat Mentari seperti orang kerasukan makhluk astral. Ia merintih sembari mengacak rambutnya, memeluk tubuhnya sendiri seakan ancaman akan tiba, padahal ia hanya seorang diri di kamar.

Aksi Mentari tak berlangsung lama, sebab Tarina datang dari arah pintu dan langsung memeluk putrinya itu. Ia mendekap erat hingga kondisi Mentari mereda. Tarina mengucapkan kata-kata yang membuat sang putri tenang sembari mengusap pucuk kepala Mentari dan menciuminya tanpa henti. Sedang Mentari sendiri merasa dekapan Tarina adalah tempat teraman dari berbagai ancaman.

"Udah, ya, Sayang. Ada Bunda di sini."

"Bunda, ta-takut." Mentari berucap getir.

"Jangan takut, ada Bunda. Oke?" Tarina masih berusaha membuat Mentari tenang, dan ia senang karena Mentari menganggukkan kepalanya.

"Sekarang siap-siap, ya! Kamu 'kan mau sekolah."

"Iya, Bun."

***

Kemalasan menyerang diri Raja. Jujur saja, sebenarnya Raja sangat menyukai pendidikan jasmani dan kesehatan atau yang biasa disebut pelajaran olahraga, tetapi saat ini dirinya dihantui malas gerak. Namun, Raja tiba-tiba saja tertarik. Ia bisa melihat, betapa ganasnya Arka dalam memainkan bola tendang itu.

"Ja, ayolah. Gabung!" seru Arka pada Raja yang hanya memperhatikan di pinggir lapangan.

"Dav, sono ikut!" Netra Raja melirik Dave yang sedang asyik minum air mineral dari sedotan plastik.

"Enggak ah! Arka mainnya kasar." Dave berucap setelah minumnya ia sedot habis.

"Masa, sih? Keknya biasa aja dia." Raja tak percaya dengan apa yang dikatakan Dave.

"Kalo sama gue dia sengaja. Coba aja kalo–"

"Woi! Masuk dong! Keren enggak gocekan gue?" Arka berseru heboh kala bola yang ia tendang masuk ke dalam gawang lawan.

"Enggak, biasa aja," celetuk Dave.

"Eh, Dape, gue enggak nanya lo, ya!"

"Hahaha." Raja tertawa kecil melihat keduanya, ia kemudian bangkit dan menghampiri Arka. "Gue ikut, Ka. Di mana nih? Di lo apa di Faisal?"

"Faisal aja noh, dia cuma empat orang."

Permainan yang mereka mainkan adalah futsal, karena rasio siswa dan siswi yang berbeda jangan lupakan barisan malas gerak. Tidak mungkin bukan jika kesebelasan yang dimainkan.

Arka memiliki taktik yang bagus, karena sedari kecil cowok itu sudah menekuni dunia sepak bola. Permainan yang ia lakukan tak jarang masuk ke gawang lawan, membuat skor permainan penghilang bosan ini unggul di tim Arka.

"Yang bener dong, Ki!" Damar berucap pada Rifki yang berposisi sebagai kiper.

"Gue kebelet beser! Gue kamar mandi, ya," pamit Rifki, sebelum alhirnya cowok itu lari meninggalkan posisi.

Raja BumiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang