Sinar matahari pagi menyusup ke sebuah kamar seorang perempuan. Kamarnya tidak sempit, tidak juga luas, tapi cukup untuk menjadi salah satu tempat yang menenangkan. Berbeda halnya dengan suasana hati Mentari, hatinya begitu tidak tenang. Memikirkan bagaimana di sekolah jika berpas-pasan dengan Raja? Atau dengan Bulan?
Mentari tidak takut. Hanya saja jika nanti melihat Raja, bukan lagi hangat yang dirasa, tetapi rasa sesak karena harus mulai menjauh dari Raja. Dan Bulan? Cantik, baik, pintar tetapi berbanding terbalik ketika Bulan kemarin mengancam Mentari.
Mentari kini menuruni anak tangga satu persatu, menuju meja makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Ayah dan Bundanya.
"Hai, selamat pagi, sayang," sapa Tarina yang terlihat sambil menyendoki nasi ke dalam piring untuk Sadewa.
"Pagi, Bunda."
"Loh, loh, kok mukanya kusut banget sih? Ada yang kamu pikirin?"
"Eh, enggak kok, Bun," jawab Mentari sambil tersenyum.
"Jangan terlalu banyak pikiran, tugas kamu cuman belajar, belajar, dan belajar," ucap Sadewa--ayah Mentari.
"Iya, Ayah."
***
"Good morning, Mentari ku sayang."
"Morning, Meilany. Kayaknya lagi bahagia banget, nih?"
"Iya, dong. Tau gak? Kemarin aku di notice sama cowok yang aku suka. Ya ampun seneng banget, akhirnya gak bertepuk sebelah tangan lagi," jelas Meilany yang sudah duduk di samping Mentari.
Apa katanya? Bertepuk sebelah tangan? Apa kabar Mentari yang perasaannya saja tidak tau dibalas atau tidak oleh Raja, tetapi harus mulai melupakan rasa yang dia miliki untuk Raja.
"Eh? Kok gak pernah cerita sih. Cowoknya siapa?" tanya Mentari.
"Ya, mau cerita gimana, Tar. Aku aja liat kamu kayak lagi punya banyak pikiran, jadi gak mau ngebebanin aja, hehehe. Cowoknya? Ada deh, nanti juga kamu tau hehe."
"Mana ada jadi beban, Mei. Justru aku ikut seneng, kalau akhirnya kamu gak bertepuk sebelah tangan, hahaha."
"Iya udah, lain kali aku bakalan cerita."
"Nah, gitu dong."
***
Setelah melewati beberapa mata pelajaran, akhirnya suara bel istirahat yang ditunggu-tunggu para murid sudah berbunyi. Dari setiap kelas langsung berhamburan keluar untuk menuju tempat, apalagi kalau bukan kantin.
"Mau ke kantin, gak?" tanya Meilany.
"Enggak deh, aku bawa bekal dari rumah. Kamu gimana?"
"Aduh samaan, aku juga bawa nih."
Mentari memang sengaja membawa bekal dari rumah, untuk meminimalisir bertemu dengan Raja atau Bulan. Mentari dan Meilany makan dengan tenang, sesekali berbincang dan tertawa, tidak terlihat jelas jika Mentari menyembunyikan suatu perasaan sesaknya.
Sedangkan di lain tempat, di meja kantin yang ada di pojok. Terdapat 3 sekawan yang sedang duduk dan melahap pesanan makanannya.
"Gue udah abis, gue duluan. Mau cari Mentari." Raja langsung bergegas meninggalkan Arka dan Dave.
"Lah, makanan lo siapa yang bayar woy?" sahut Dave tak terima.
"Alah, katanya lo kaya, apa susahnya bayarin sepiring batagor sih?" timpal Arka asal.
"Woiya, jelas. Anak ganteng kaya raya nan baik hati ini, akan membayarkan makanan pesanan Raja."
"Pala lo, jijik sumpah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Raja Bumi
RomansaSetiap manusia layak untuk dicintai. Tidak peduli seberapa buruknya seseorang, seberapa hancurnya seseorang, dan seberapa menyedihkannya seseorang, tapi dia tetap layak untuk dicintai. Seiring berjalannya waktu, yang ditakdirkan pasti akan dipertemu...
