Malam kini hadir di kota kembang itu. Di sana terdapat tiga orang yang sedang makan malam. Tidak ada satu orang pun yang bersuara, kecuali dentingan sendok yang meramaikan ruang makan itu.
"Mentari, gimana di sekolahan? Lancar 'kan?" tanya pria paruh baya di sampingnya.
"Lancar kok, Yah. Aman," jawab Mentari seadanya.
"Ujian nanti nilai yang kurang tingkatkan lagi ya. Pokoknya harus diusahakan lebih bagus dari sebelumnya. Ayah ngomong kayak gini, buat kamu juga," ujar Sadewa-Ayah Mentari.
Sadewa memang jarang ada di rumah, ia sering pergi ke luar kota atau luar negeri untuk urusan bisnis. Kebetulan, untuk beberapa bulan kedepannya dia akan jarang berpergian karena Tarina yang memintanya.
Sadewa memang agak sedikit keras terhadap Mentari, karena pikirnya agar Mentari bisa menjadi pribadi yang baik. Tetapi kepada Tarina-istrinya, dia pasti selalu menuruti permintaannya.
"Iya, Yah. Mentari selalu usahakan," jawab Mentari sembari tersenyum.
"Emm, Mentari makannya udah. Kalau gitu Mentari duluan ke kamar ya, Yah, Bun."
"Iya, sayang, selamat malam," jawab Tarina.
Jika ditanya lelah? Iya, Mentari lelah karena selalu dituntut harus sempurna oleh Ayahnya. Tetapi, Mentari pun sadar bahwa harapan kedua orang tuanya, sepenuhnya terletak pada Mentari. Jadi, sebisa mungkin Mentari selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang disayangnya.
Di kamarnya, Mentari sedang menulis sesuatu di buku diary nya. Menjadi sebuah kebiasaan bagi Mentari untuk menulis hal-hal yang telah dilalui. Setelah dirasa cukup, Mentari akan menatap langit malam.
Tetapi kali ini, pintu balkonnya pun tertutup, Mentari hanya bermain ponsel. Padahal yang mengiriminya pesan tidak ada, tapi dia terus saja bolak-balik men-scroll aplikasi di ponselnya.
Sedang asyik-asyiknya men-scroll, ada satu pesan masuk.
_*Meilany*_
Tumben banget jam segini belum tidur neng.
Udah ngantuk sih, tapi pengen buka hp aja.
_*Meilany*_
Heleh, kayak ada yang chat aja.
Yaudah, bye, mau tidur dulu.
_*Meilany*_
Dih ngambek? Hahaha, yauda met malem
Iya, iya.
***
Di lain tempat, tiga orang lelaki sedang bermain play station. Setelah Raja mengantarkan Bulan, Arka dan Dave langsung menyusul ke rumah Raja. Jika mereka bertiga sudah bermain play station, bisa menghabiskan waktu ber jam-jam tidak ada bosan-bosannya.
"Ah, payah. Gue kalah mulu perasaan."
"Yee, seorang Arka 'kan jagonya mainin cewe."
"Kampret! Asal lu tau ya Dave yang terhormat, gue tuh bukan mainin cewe, tapi masih dalam pencarian. Lah emang elu, gak ada sama sekali pengalaman bareng cewe," ujar Arka dengan tertawa terbahak-bahak.
"Suka-suka gue lah, syukur-syukur sekalinya dapet bisa sampe maut memisahkan," timpal Dave tak mau kalah.
"Heleh, sok-sokan ngomong masa depan. Belajar dulu tuh yang bener."
Begitulah jika Arka dan Dave bertemu, selalu saja beradu mulut tentang hal-hal yang tidak jelas. Mereka akan berhenti jika Raja yang menghentikannya, atau jika tidak mereka akan terus beradu mulut sampai ada yang mengalah.
Sedangkan Raja, masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang dia pikirkan, tapi kepalanya terasa penuh dan sesak. Setelah beberapa saat, karena terganggu oleh kedua sahabatnya itu, Raja langsung menghentikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raja Bumi
RomantiekSetiap manusia layak untuk dicintai. Tidak peduli seberapa buruknya seseorang, seberapa hancurnya seseorang, dan seberapa menyedihkannya seseorang, tapi dia tetap layak untuk dicintai. Seiring berjalannya waktu, yang ditakdirkan pasti akan dipertemu...
