11 - Perkara Tiang Tembok

73 47 28
                                        

"M-ma-maaf Bu." Angga melepaskan earphone dan menurunkan alat pel yang berada di depan wajah Bu Rani.

"ANGGA! sampean masuk!! Pel-nya lanjut nanti pas istirahat." Bu Rani berusaha mengontrol amarahnya. Dadanya sudah naik turun menahan emosi yang kini bergemuruh.

"Sekarang aja deh Bu, kalo lagi istirahat malu Bu banyak murid dari kelas lain," pinta Angga.

"Punya malu juga sampean?"

"Kan saya manusia biasa Bu,"

"Kalo iya punya malu, terus tadi waktu nyanyi gak malu? Nyanyian kamu pasti terdengar kemana mana tahu!"

"Enggak. Eh-- perasaan Angga nyanyi pelan deh Bu." Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa aneh.

"Pelan ndasmu. Masuk!!!"

"Ntar Bu dikit lagi." Angga mempercepat caranya menge-pel lantai.

Bu Rani meninggalkan Angga. Sudah tidak peduli lagi dengan anak itu.

Setelah selesai mengepel, karena buru-buru ingin masuk kelas Angga tidak sengaja menyenggol ember berisi air yang ada di belakangnya kakinya, dan saat lelaki itu menghadap depan setelah sadar ia menabrak sesuatu, ia hampir terpeleset karena licin.

"Ow. Ow. Ow!" Angga memekik berusaha menyeimbangkan badannya.

Angga berusaha menyeimbangkan tubuhnya saat ia hampir jatuh dan ia berusaha meraih tiang yang tidak jauh di depannya, untung saja tiangnya berhasil ia raih dan sesegera mungkin ia memeluk tiang.

"BUNDAAAA!" teriak Angga hampir gagal meraih tiang. Akhirnya ia meraih tiang, "pyuhh!" Angga menyeka keringat merasa selamat. Bayangkan saja kalo terpeleset? Seragamnya basah, sakit bokong, malu-- ah tidak mungkin malu kan tidak ada orang di jam masuk seperti ini. Sudahlah Angga tidak ingin mempermasalahkannya, yang penting sekarang ia selamat.

Di luar kelas seberang ternyata ada Mira, Balqiss, dan Luna, mereka bertiga sedang berjalan ke arah kelas Angga, sepertinya mereka akan ke perpustakaan, karena masing-masing dari mereka membawa buku paket yang cukup banyak.

Dugaan Angga sepertinya salah, 'MALU?', seperti hal itu ADA. Karena itu, Angga hanya menyengir kuda saat tertangkap basah sedang menjerit dan memeluk tiang. Gila harga diri aing!

Tawa Balqiss dan Luna pecah saat itu juga.

Sedangkan ekspresi Mira berusaha datar, dan terlihat biasa saja. Padahal sebenarnya ia juga ingin tertawa, melihat tingkah aneh pacar pertamanya itu.

¤¤

Waktunya pulang sekolah.
Pukul 15 : 00.

"Met lo tahu tadi pas di waktu di hukum--"

"Hmm?" Metta mendehem sembari terus berjalan menuju parkiran bersama Angga.

"Lo jangan potong omongan gue dulu," ketus Angga.

"Siapa yang potong omongan lo?! Orang gue cuma mendehem aja!"

"Yaudah gue lanjut cerita ya,"

"Hmm,"

"Pas gue dihukum tadi pas pel lantai Mira lihat gue pas gue hampir terpeleset dan gue ketangkep basah lagi meluk tiang tembok, lagi nemplok di tiang gitu!" cerocos Angga sambil sesekali mengurangi volume suaranya, karena takut terdengar orang lain.

Metta terkekeh geli, ia berusaha menahan tawa dan kembali lagi untuk mendatarkan mimik mukanya. "Hmm."

"Lah, lo gak kaget?" tanya Angga mendekatkan wajahnya ke Metta, ia ingin memastikan apakah Metta benar-benar tidak tertawa.

AngGaTta [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang