segelas ice americano baru saja diantarkan seorang pelayan sebuah kafe, keberadaan pria tersebut yang baru saja menyesap americanonya itu membuat setiap wanita di sana berbisik mengagumi kesempurnaan wajahnya
pria itu tengah asyik mengutak atik ponselnya hingga sebuah suara mengalihkan atensinya "Lee minho-ssi" panggilnya
"ohh jonggi-yaa, duduklah"
joongi duduk di hadapan minho, "mianheyo membuatmu menunggu, ada hal yang harus ku kerjakan tadi" ucap joongi
"tidak apa-apa, oh ya pesanlah sesuatu, akan ku panggilkan pelayan" minho pun memanggil pelayan untuk mencatat pesanan joongi
"ice americano saja" kata joongi saat pelayan itu datang
minho kembali menyesap americanonya, "bagaimana kabarmu?" tanya minho
"baik, kau sendiri bagaimana?"
"baik, lalu ibumu dan adikmu?"
joongi menunduk sejenak lalu menghela nafasnya "eomma-ku sudah meninggal 2 tahun yang lalu, dan jieun baik-baik saja ia sedang kuliah 2 semester lagi selesai"
"maafkan aku joongi-yaa, aku turut berduka, aku tidak tau kalau ibumu sudah meninggal"
"gwenchanayo" joongi pun tersenyum "oh ya ada perlu apa mencariku minho-ssi?" lanjutnya
minho memberikan sebuah map pada joongi, "sebelumnya maafkan aku joongi-yaa, aku meminta nomermu dari kepala proyek tempat mu bekerja, dan itu adalah kontrak kerja, aku ingin kau menjadi kepala proyek pembangunan sebuah gedung milikku diseoul"
jantung joongi seakan berhenti sejenak saat mendengar kata seoul, ia teringat telah meninggalkan sesuatu yang berharga disana, membuatnya terdiam dan langsung menutup kembali map yang belum selesai ia baca
"maafkan aku minho-yaa, aku tidak bisa menerima ini"
minho mengerutkan alisnya "wae??? bukankah kau butuh pekerjaan dan adikmu masih butuh biaya banyak untuk berkuliah, aku sudah mencantumkan beberapa hal yang menguntungkanmu, sebagai teman baikmu aku hanya ingin kau hidup nyaman joongi-yaa"
"terimakasih atas perhatianmu tapi maaf aku tidak bisa menerima ini, ada beberapa hal yang membuatku tidak ingin kembali kesana" ucap joongi
minho menghela nafasnya "pikirkan lagi lee joongi, demi masa depan adikmu, aku tau jieun bekerja paruh waktu di sebuah minimarket,, aku tidak sengaja bertemu dia tadi saat dalam perjalanan ke sini"
"ingat kondisi jieun, lagi pula kalau kau menandatanganni kontrak ini, aku akan mengurus semuanya untukmu, apartment tempatmu tinggal, kepindahan jiuen ke universitas baru di seoul, jadi tolong pikirkan lagi" lanjut minho
"apa yang kau harapkan dariku? aku bahkan tidak selesai kuliah minho-yaa, lalu kau tiba-tiba menyuruhku untuk menjadi kepala proyekmu?? apa ini sebuah kebetulan atau ada hal lain di balik ini" rahang joongi sedikit mengeras, ia masih mempunyai trauma dengan sesuatu yang kebetulan, dan ia juga punya sejarah tentang sebuah map yang membuatnya harus mengorbakan semua yang ia miliki
minho tertawa "apa yang kau pikirkan?? demi Tuhan aku tidak mempunyai tujuan apapun. aku tau kau berhenti kuliah, tapi bukankah kau mahasiswa yang terbilang cerdas,hanya saja keberuntungan tidak pernah datang menghampirimu, maaf aku harus membahas ini, tapi pikirkan lagi, siapa tau dengan jalan ini kau bisa menaikan strata sosial keluargamu, setidaknya pikirkan tentang jieun"
joongi membuang pandangannya kearah lain, hati dan pikirannya sedang berperang, antara ego dan realita yang memang akan terjadi, mati-matian ia mencoba tetap bertahan tapi tetap saja dewa keberuntungan memang tidak pernah berada di pihaknya, tapi keegoisannya membuat ia pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup joongi,
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey Sky..
Romance"langkah kakiku sudah lelah, menapaki setiap jalan menuju kearahmu tapi aku tidak pernah sampai, seakan jalan itu membuatku semakin menjauh darimu, maafkan aku tidak seharusnya ini terjadi padamu tapi aku terpaksa memilih jalan ini, maafkan aku..." ...
