3

713 63 1
                                        

"Ga bercanda, emang gua ga tau kelakuan lu kalo disekolah? lu godain temen-temen gua sampe mampus, yang abis baper lu tinggal. Belum lagi yang kemarin, lu sama anak baru. Tapi gua sadar, bukan siapa-siapa lu, ya gua biarin" Prem tidak tahu mengapa bisa berbicara seperti itu, padahal ia juga belum terlalu lama mengenal Boun, tapi ia merasa lega setelah berbicara itu kepadanya.

Boun menggenggam tangan Prem, dan menatapnya. "Gausah mikir macem-macem, yang penting sekarang lu sama gua" ucapnya kemudian dengan senyum yang berhasil membuat Prem percaya.

"Mau makan apa lagi abis ini" tanya Boun kemudian.

"Pulang aja, ntar duit lu abis, nyalahin gua" Prem memutar bola matanya, ia langsung mendapat sentilan di jidatnya, Prem meringis kesakitan.

"Ooiiii, kalo ngomong"

Beberapa menit setelah menghabiskan es krim, mereka pulang. Boun mengantarkan Prem kerumahnya.

"Besok kalo ngerjain yang teliti, jangan sampai salah" sampai di rumah Prem, Boun memberi pesan dengan tangannya yang mengusak gemas rambut nongnya itu. Prem mengangguk dan segera masuk rumah.

Terbayang wajah Prem saat itu? tentu sangat merah! Bahkan ibu Prem dibuat panik oleh wajahnya, ia kira Prem sedang demam, nyatanya Prem sedang menyembunyikan rasa malunya karena kepalanya di usak Boun. Ia hanya tersenyum ke arah ibunya, dan segera berlari memasuki kamarnya. Di kamar, Prem menelepon Fluke.

"Fluke!"

[Ya?]

"Apa yang lu rasain waktu suka sama p'Ohm?"

[Au, kenapa tiba-tiba nanya ginian?"]

"Jawab aja"

[Ehm, gua dulu selalu nyaman kalo deket sama dia, bawaannya salting mulu, isi otak juga dia terus]

"Ohhhh"

[Lu suka sama p'Boun kan?]

"HAH? E-ENGGA KATA SIAPA"

[Masa? Ga percaya~]

"Oiii lu sama aja kek si Sammy, udah lah makasih infonya, bye"

Prem langsung menutup teleponnya. Ia duduk di kursi dan memandang pantulan wajahnya di cermin.

"Apa iya gua suka sama p'Boun?" Prem bertanya kepada dirinya sendiri.

"Kalo iya, kenapa bisa coba?"

"Diliat-liat cakep juga sih"

"Arghh, bodo lah, pikir ujian besok Prem! bukan p'Boun!" gumamnya.

~~~

Hari ujian telah tiba. Prem tak lupa mempelajari dan membaca ulang yang diajarkan Boun padanya kemarin. Ia merasa sangat terbantu.

Satu per satu soal dikerjakan Prem dengan mudah. Hingga di soal terakhir Prem merasa sedikit kebingungan, tetapi ia bisa melewatinya. Setelah selesai ia keluar dari ruangan ujian terlebih dahulu. Fluke dan Sammy bingung, karena biasanya Prem akan lambat jika di mata pelajaran matematika, tetapi kali ini Prem malah lebih cepat dari kedua temannya itu.

Bel berbunyi, menandakan waktu ujian telah habis. Siswa siswi keluar dari ruang ujian. Fluke dan Sammy langsung menghampiri Prem.

"Cepet banget lu anjir" ucap Sammy yang disetujui Fluke.

"Oh jelas, gua gitu loh" Prem berbangga diri.

"Gimana tadi? lancar?" tiba-tiba seseorang menanyai mereka. Sumber suara berasal dari belakang mereka, ternyata itu adalah Boun. Prem berlari ke arah Boun dan langsung menubruknya dengan pelukan hangat, Boun membalas pelukan tersebut. Sedangkan kedua temannya pergi untuk memberi ruang bagi mereka berdua, lagi pula Fluke dan Sammy juga tidak ingin menjadi obat nyamuk.

"Makasih phiii" ucap Prem masih dalam pelukan. "Lancar banget tadi ngerjain" lanjutnya. Boun hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala Prem.

"Lanjut belajar buat besok, jangan kesenengan dulu, ujian masih kurang banyak"

Prem melepas pelukan, menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
"Cape"

"Ikut gua" Boun menarik tangan Prem mengajaknya ke mini market yang ada di dekat sekolahannya. Prem bingung, tapi ia tetap mengikuti Boun. Tanpa berbicara apa pun, Boun mengambil lima bungkus lays dan membayarnya di kasir. Ia langsung menyerahkan kelima bungkus lays itu ke Prem.

"Masih cape?" tanya Boun kemudian. Prem menggeleng dengan menunjukkan sederet giginya yang putih.

Setelah dari mini market, mereka langsung pulang ke rumah Boun, ingin melanjutkan belajar untuk ujian besok. Boun lebih dulu memasuki kamarnya karena ia ingin berganti baju. Sedangkan Prem menunggu di ruang tamu bersama ibunya Boun sambil sesekali mengobrol.

"Mae, kapan-kapan kalo ujian udah selesai, Prem main sini lagi ya?"

"Iya, boleh banget, main aja gausah bilang langsung kesini juga boleh" ucap ibu Boun diiringi tawanya.

"Premmm" terdengar suara Boun dari kamarnya. Prem segera pamit pada ibu Boun untuk masuk ke kamar Boun dan mulai belajar. Tak lupa ia juga menyiapkan laysnya.

"Ngobrol apa tadi sama mae?" tanya Boun berbasa-basi.

"Ssttt, otak sedang berpikir tidak bisa diganggu gugat" ucap Prem dengan menaruh jari telunjuk di bibir merahnya dan melanjutkan membaca soal dengan teliti. Sebenarnya Boun penasaran dengan apa yang dibicarakan Prem dengan ibunya tadi, tapi ia memilih diam, tidak bertanya lagi, dari pada mendapat ucapan pedas dari mulut Prem.

Tbc



Best Couple - BounpremCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang