Suasana dikelas begitu tenang, para murid yang belajar didalam kelas terlihat begitu santai. Sementara Ibu Guru Hidayah sedang menulis soal Matematika dipapan tulis.
"Anak-anak, Ibu akan memanggil satu demi satu dari kalian. Untuk mengerjakan soal yang sudah Ibu tulis dipapan ini." Jelas Ibu Hidayah, seraya menunjuk kearah papan tulis.
"Baiik .. .. Bu Guru!" saut serentak murid didalam kelas.
"Yang pertama, silahkan Tina untuk maju kedepan." Ibu Hidayah, memanggil muridnya.
Tina langsung berdiri, kemudian berjalan kedepan papan tulis.
Dia mulai mengerjakan soal nomer satu.
Tina mulai sedikit kebingungan, sesekali ia menoleh kearahku, mengedipkan sebelah matanya sebagai kode agar aku memberinya kunci jawaban dari soal yang ia kerjakan. Padahal soal itu sangat mudah bagiku.
Aku mulai menulis dibuku tulis, menulis jawaban dari soal diatas. Setelah selesai aku memerhatikan keadaan sekitar agar tidak ketahuan oleh Ibu Guru. Rupanya Ibu Hidayah tengan mengerjakan sesuatu di mejanya. Ini peluang besar untuk aku membantu Tina.
Aku langsung mengangkat buku tulisku dengan posisi buku yang terbuka dan menghadap kedepan. Bersamaan dengan Tina menoleh arahku.
Dengan sigap Tina mulai mengerjakan soal dipapan tulis.
"Sudah selesai Buk," ucap Tina dengan lantang.
"Bagus! sekarang giliran Putri yang maju." Panggil Ibu Guru.
Mendengar namaku dipanggil, aku langsung berdiri kemudian berjalan menuju depan papa tulis.
Aku mengerjakan soal nomer Dua, setelah selesai tanpa sadar aku mengerjakan soal berikutnya. Karena terlalu asyik dengan soal matematika yang sangat aku gemari.
Aku mengerjakan semua soal yang ada dipapan tulis tanpa sisa sedikitpun.
"Aku udah selesai Buk!" ucap ku dengan senyum senang. Seraya berbalik ke hadapan teman-teman.
Tanpa menoleh kearahku, Ibu Guru langsung memanggil nama berikutnya.
"Yang berikutnya, Ayu." Panggil Ibu Hidayah, masih memerhatikan tumpukan kertas yang ada dihadapannya.
"Ibu Guru, lihat kelakuan Putri? dia menjawab semua soal yang ada dan tidak menyisakan kami untuk ikut menjawab juga." Ayu berteriak, seraya menunjuk ke arah depan.
Dia sedikit kesal karena kesalahanku. Begitu pula dengan Rani yang duduk disampingnya.
"Mana sih!" saut Ibu Guru. Seraya berdiri kemudian berjalan menuju depan papan tulis.
"Waah .. . seperti biasa, Putri hebat dalam pelajaran matematika," puji Ibu Hidayah. Membuat ku semakin senang.
Tapi, berbeda dengan Rani. Dia merasa kesal oleh pujian Ibu Hidayah terhadapku.
"Ibu, gimana sih! Putri ngerjain semua soalnya sendirian. Padahalkan aku dan teman yang lain ingin menjawab juga." Protes Rani dengan sikap Ibu Guru.
"Tenang Ran .. .. tenang," ucap Ibu Hidayah. Mencoba menenangkan Rani.
"Ibu jangan pilih kasih dong!" Tambah Ayu ikut protes juga.
"Aku minta maaf teman-teman, aku tidak bermaksud untuk mengerjakan semuanya. Hanya saja soal diatas begitu mudah untuk ku jawab," balas ku. Dengan lesu karena sudah mengecawakan teman yang lain.
"Iya .. .. kita tau kok, kamu itu pintar, peringkat satu berturut-turut. Murid paling teladan disekolah ini. Bahkan banyak guru yang menyukaimu," saut Rani. Dengan sengaja menyindiri ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Illusion
Mystery / ThrillerMasa lalu yang kelam, membuatku terpuruk. Aku tak bisa melupakan masa lalu ku, begitu juga dengan dirinya.
