Capter 17-- Menjadi Akrab

0 1 0
                                    

 
Aku mengejar Yogi yang berlari setelah membuat rambutku berantakan. Tepat dilapangan basket aku secara tidak sengaja berpapasan dengan Sinta dan Ara dari arah kantin.

"Putri!!" Triak Sinta memanggil dari seberang koridor. Aku menoleh lalu berjalan menghampirinya, diikuti oleh Yogi berjalan dibelakang ku.

"Hy, Sinta!" Sapa ku

"Kalian berdua dari mana?" tanya Sinta heran melihatku bersama Yogi.

"Kami dari balkon atas gudang Sin!" Jawabku menunjuk tempat yang baru saja kudatangi.

"Ohh!! kalian ngapain disana, kok ngajak aku sih?" tanya Sinta lagi sangat ingin tau.

"Trus itu gitar siapa?" Tambahnya lagi. Membuatku bingung harus jawab seperti apa.

"Emm.. gini Sin, aku ke atas balkon gudang untuk mengambil gitar milik temanku. Trus aku tidak sengaja bertemu Yogi di tangga, iya kan Yog!" Jelasku lalu menginjak kaki Yogi seraya berbalik ke arahnya dengan terseyum.

"Iyaa.. bener kata lo Put!" Saut Yogi dengan segera. Dia langsung faham dengan kode injakan yang kuberikan.

   Sedangkan Ara hanya Diam memerhatikan dengan permen lolipop yang di emutnya sekarang.

"Ku fikir kalian sengaja berduaan saja!" Ucap Sinta mengernyitkan dahinya.

"Tentu saja tidak!, mana mau aku berduaan dengan bocah berandalan seperti dia." Balasku sedikit terkekeh kemudian menunjuk Yogi dengan jari telunjukku.

"Gue pergi dulu!" Pamit Yogi mulai berjalan.

"Tunggu Yogi!" saut Sinta menghentikan Yogi.

"Ada apa imut?"

"Niih! kamu kan belum makan," ujar Sinta memberikan roti dan minuman kaleng.

"Makasih imut!" Balas Yogi mengambil roti itu.

"Ntar pulang bareng ya Yog?"

"Serrah lo!"

    Mereka berdua berjalan dan terus berjalan menuju kelas, seraya mengobrol.

"Sinta lupain Ara dan Putput!" keluh Ara sedih

"Ara jangan sedih, kan masih ada aku!" Ucap ku mencoba menghibur Ara.

"Putput beliin kripik yaa!" Pinta Ara dengan wajah polos nya itu. Membuatku tak bisa menolaknya.

"Iya..  iyaaa Ara!" Jawabku pasrah.

"Horeeee!!" Sautnya dengan senang.

     Ara benar-benar mirip dengan anak kecil berumur Empat tahun, tingkahnya dan ekpresinya membuat siapa saja yang melihatnya tidak bisa menolak permintaannya. Wajahnya yg bulat kecil menambah kesan keimutannya.

    Aku dan Ara berjalan menuju kelas. Setibanya kami berdua di kelas, aku melihat Sinta asyik ngobrol dengan Yogi. Mereka terlihat sangat akrab.

    Ara kembali kekursinya, begitupun dengan aku. Tak lama kemudian, Ibu Guru masuk memberi materi pelajaran.

    Sepulang sekolah, lagi-lagi aku melihat Sinta berjalan dengan Yogi. Selama mengenal Sinta, aku belum pernah melihatnya seriang itu. Tawa yang kulihat benar-benar bahagia dibibir manis Sinta.

¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬

Keesokan harinya disekolah, aku melihat Sinta sudah ngobrol dengan Yogi.

"Pagi Putput!" Sapa Ara dengan tersenyum.

"Pagi juga Ara" balasku kemudian duduk dikursiku.

    Aku sedikit bingung, biasanya Sinta ikut menyapaku tapi kali ini. Dia sama sekali tidak melihatku. Melainkan asyik sendiri dengan Yogi.

IllusionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang