5. Ruang Tenang

102 28 102
                                        

———

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


———

"Tenang, La, tenang..."

Berulang kali, pelafalan tersebut mengalun tipis bak mantra sihir di mulut Sarla. Ritme jantungnya berdetak kencang, serupa paluan gaduh antara sol sepatu pada lantai marmer yang kini menguasai suara dalam telinga. Terdapat amplop coklat berukuran F4 di dekapan. Sengaja Sarla peluk erat tatkala gugup kian gencar mengikat langkahnya.

Sesuai perintah, dua hari usai pertunjukan sang kakak, Sarla telah bersiap mengantarkan hasil fotonya di hadapan Bu Asri. Menjajaki koridor Bakti Nusa yang dipenuhi lalu-lalang murid selepas bel istirahat bergaung beberapa menit lalu. Rasa cemas tetap menyambangi, meski seruan semangat Alea dan Faugi sejak pagi masih tersimpan rapat di otaknya.

"Ah, iya, Sarla!" Sapaan Bu Asri menyentuh lembut indera pendengarannya begitu pintu besar telah Sarla buka. "Gimana? Ibu sudah bisa lihat fotonya?"

"Iya, Bu, bisa," Sarla mengangguk pelan. Mengambil posisi lebih dekat ke arah meja sang guru. Pandangannya membentang sekeliling ruangan. Kubikel di sekitar sudah diisi oleh para pengajar yang tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sesaat Sarla menghirup dalam-dalam oksigen yang membumbung luas, meringkus keberanian sebelum menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Bu Asri.

Bu Asri balas mengangguk, menatap lekat benda persegi yang sukses mendarat di atas mejanya. Lembar foto ia keluarkan, sambil sesekali membenahi bingkai kacamata yang melorot dari pangkal hidung. Hening menyelimuti beberapa waktu. Sarla merasakan peluh mulai menggapai permukaan kulitnya.

"Ini bagus, Sarla..." Decak kagum Bu Asri berderai hangat. "Bagus sekali," ulangnya, mengukuhkan takjub di depan mata. "Semua foto yang kamu ambil di sini sudah pas, sesuai porsi. Tapi tetap kelihatan indah dan sangat menarik."

"Kamu belajar dari mana? Bahkan hasil foto anggota Jurnalistik sebelumnya nggak ada yang bikin saya sekagum ini. Foto dari kamu berhasil melampaui ekspektasi saya, loh." Bu Asri terus memamerkan rasa bangga. Memandang tertarik pada seorang anak didiknya.

Sarla terkesiap. Pupil matanya melebar. Tubuhnya bahkan sedikit merendah guna memastikan sesuatu yang baru saja menjamah pendengaran. "Iya, Bu?"

"Kamu luar biasa. Benar apa yang kakak kamu bilang, kamu sangat berbakat di dunia fotografi," pujinya tak main-main. "Mau bergabung dengan tim Jurnalistik, Sarla? Baru kelas sepuluh, kan? Masih panjang waktu kamu di sekolah ini."

Beragam sanjungan dari Bu Asri mencerai-berai kekhawatiran Sarla sebelumnya. Kerikil ketakutan atas tanggapan sang guru ketika menerima hasil fotonya melebur entah kemana. Garis bibirnya melengkung ringan, memperlihatkan lega yang mengguyur tubuh.

Lingkar BelengguTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang