8: (MASIH) TANGIS KABIRU

1.3K 137 1
                                    

Di dalam mobil, Kabiru masih saja diam. Sudah berapa kali aku berusaha membujuknya dengan berbagai cara tetapi tetap saja gagal. Bocah ini sepertinya merasa sangat sedih. Ibu-ibu tadi memang sudah sangat keterlaluan. Percuma cantik dan terlihat berkelas dari segi penampilan kalau tutur bahasa dan sikap mereka tidak ubahnya seperti orang yang tidak berpendidikan dan bermoral.

"Biru jangan sedih lagi ya. Om Papa jadi ikutan sedih kalau Biru sedih begitu." ucapku sambil membelai rambutnya namun sayangnya bocah ini masih tetap diam dan enggan menanggapi semua perkataanku kepadanya.

Sesampainya di rumah, Kabiru langsung turun dan berlari masuk. Tidak ada ucapan terima kasih atau basa-basi sedikit pun yang dia lontarkan untukku seperti biasanya. Aku memaklumi karena mungkin Biru masih sangat bersedih.

Aku ikut turun setelah memastikan mobil mercyku terparkir dengan aman dan tidak menghalangi pengguna jalan lainnya, bisa gawat kalau lecet.

"Bahar, Kabiru kenapa?" tanya Laura saat aku sudah berada di depan pagar dan berjalan menuju ke dalam rumahnya.

"Ngambek."

"Iya aku tahu. Tetapi kenapa?"

"Mulut temen-temennya sama ibu-ibunya lemes banget sih. Gw saja kesel apalagi Kabiru yang masih kecil."

"Memang mereka bilang apa lagi?"

Apa maksudnya Laura dengan kata "lagi"? Jadi bukan sekali ini saja mereka bersikap dan berkata begitu?

"Mereka itu memang suka nyinyir ya?"

"Tetapi yang mereka omongin itu memang hampir semuanya benar."

"Terus elo bakal diem saja gitu kalau mereka terus jadiin elo dan Kabiru bahan gunjingan mereka semua? Gila, elo bener-bener sudah beda La sama Laura yang dulu. Laura yang gw kenal enggak akan ngebiarin siapa pun buat ngomongin apalagi ngerendahin dirinya." ucapku sedikit kesal. Laura hanya diam dan sepertinya enggan menanggapi omonganku barusan.

Apa aku sudah keterlaluan ya tadi?

"Makasih Bahar karena kamu sudah mau nemenin Kabiru. Sekarang kamu bisa pergi."

"Elo marah makanya ngusir gw?"

"Enggak. Untuk apa aku marah sama kamu?"

"Terus kenapa elo nyuruh gw pulang?" Laura kembali diam namun tidak lama dia pun mengatakan sesuatu dengan nyaris berbisik.

"Memang kamu mau ngapain lagi? Menginap?"

Benar juga ya, aku kok jadi sensi banget sih.

"La. Kalau mereka masih ngomongin elo, elo jangan diem saja. Bales lagi kata-katanya biar mereka enggak semena-mena sama elo apalagi Kabiru kan masih kecil, kasihan. Elo lihat sendiri kan tuh anak nyampe rumah langsung masuk kamar dan gw rasa masih nangis." aku kemudian berjalan mendekat ke arah Laura yang sejak tadi berdiri di dekat pintu masuk.

"Elo masih sakit? Kalau iya biar gw antar ke dokter."

"Enggak usah. Aku sudah baikan kok."

"Ya sudah kalau begitu. Gw mau lihat Kabiru dulu, baru pulang." aku pergi ke kamar Kabiru yang sudah tertutup rapat namun ketika aku membukanya dapat kudengar suara tangisnya yang terdengar sangat memilukan untukku.

Kasihan bocah malang ini, pikirku.

"Kok nangis sih? Anak laki-laki enggak boleh sering-sering nangis." bukannya berhenti, Biru justru semakin menutupi wajah dan tubuhnya dengan selimut.

"Biru kalau masih nangis terus malah bikin Om Papa jadi ikutan sedih. Nanti di rumah, Om Papa kepikiran terus sama Biru yang lagi nangis bagaimana?"

Kabiru sedikit menurunkan selimut yang menutupi dirinya, terlihat wajah dan hidungnya yang sudah sangat memerah akibat terus menangis sejak di mall. Aku mengelus rambut tebalnya sambil tersenyum, mencoba menenangkannya sebisaku. Laura datang dan hanya berdiri di depan pintu kamar sejak tadi, menyaksikan diriku yang mencoba menenangkan anaknya.

"Tuh, bunda juga jadi ikutan sedih kalau Kabiru nangis melulu. Kasihan, apalagi bunda juga masih sakit. Biru jangan nangis lagi ya? Nanti Om Papa beliin mainan baru."

Kabiru tiba-tiba saja bangun dan langsung memelukku sambil menarik ingusnya yang sudah keluar-keluar dan dapat kudengar suara tarikan ingusnya yang kencang. Bukannya merasa jijik aku justru ingin tertawa karena lucu.

"Om Papa mau pulang?" tanyanya yang masih memelukku dengan suara parau.

"Iya, sudah sore. Besok pagi, Om Papa harus pergi soalnya jadi sekarang mau siap-siap dulu."

"Mau kemana?"

"Mau melindungi negara supaya Kabiru bisa makan, main, dan bobok dengan nyaman serta aman." Kabiru kembali terdiam. Entah apa yang dipikirkannya sekarang. Apakah keterdiamannya ini tanda dia mengerti ucapanku atau justru tidak sama sekali.

"Apa Om Papa enggak bisa ngelindungin bunda juga?" ucapnya pelan yang masih bisa aku dengar dengan jelas.

***

Ucapan-ucapan Kabiru tadi masih terus bergema dalam pikiranku. Bagaimana bisa anak yang bahkan belum genap berusia 7 tahun seperti dirinya mempunyai pemikiran sedewasa itu. Maksudku sebelum aku pulang dia mengatakan jika dia hanya ingin aku melindungi bundanya karena menurutnya dia masih terlalu kecil sehingga belum mampu untuk melakukannya. Belum lagi, tadi Kabiru juga bertanya kapan aku pulang dan apakah aku akan bermain dengannya lagi atau tidak karena dia merasa takut jika aku pergi dan tidak kembali untuk bertemu dengannya dan Laura.

Kurebahkan tubuh kekarku di atas ranjang king size milikku sambil menatap langit-langit kamar yang bercat putih. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat lelah. Bukan secara fisik seperti lelah setelah latihan di lapangan tetapi lebih kepada lelah batin dan pikiran.

Memang benar jika sebuah ucapan terkadang lebih menyakitkan dari pada sebuah pukulan dan lebih berbahaya dari sebuah benda tajam sehingga terkadang ucapan seseorang dapat membunuh orang lain.

Entah mengapa aku merasa tidak tenang saat ini dan jika sudah begini aku akan bercerita ke sahabatku, Gadis.

Pukul 7 malam dia pasti sedang sibuk mengurus anak dan suaminya tetapi dia memang selalu sibuk sih. Gadis bilang menjadi ibu rumah tangga itu jam kerjanya 24 jam jadi kalau ada yang tanya kapan dia enggak sibuk maka akan di jawab ENGGAK ADA. Sudahlah aku telepon saja dari pada hati resah dan berujung merana.

Tidak lama suara lembut wanita beranak otw enam itu terdengar.

"Assalamualaikum Dis."

". . ."

"Mau curhat."

". . ."

"Bukan soal gw sih, tetapi temen gw. Dia lagi bingung sama anak kecil. Maksudnya dia lagi bingung ngadepin anak kecil yang lagi sedih. Berhubung gw belum punya anak jadinya gw juga enggak tau caranya. Menurut elo bagaimana?"

". . ."

"Ish dibilangin bukan gw. Lagian anak siapa yang mau gw urus?" elakku cepat. Oh iya, baik Stevan maupun Gadis memang belum tahu jika aku kembali dekat dengan Laura Entahlah aku memang belum ingin bercerita saja kepada mereka.

". . ."

"Kalau enggak salah sih ya, anaknya sedih gitu karena... karena... enggak punya papa."

". . ."

"Masalahnya dia juga sering di ledek temen-temennya."

". . ."

"Maka dari itu gw bingung jadinya. Elo kan sudah punya anak makanya bantu gw kasih solusi dong. Eh salah maksudnya bantuin temen gw cari solusinya dong." dan setelahnya aku dan Gadis berbincang-bincang mengenai anak.

Astaga, lama-lama aku merasa jika saat ini sedang di ospek atau sedang mendapatkan pelatihan serta diklat menjadi seorang ayah. Eh gimana? Halu kamu Bahar anak siapa coba? Ibunya saja enggak ada. Cari dulu terus bikin baru ada anak, ucapku dalam hati.

Re-Tied (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang