2

95 15 0
                                        

"Tebak siapa yang akan jadi kaya raya sebentar lagi?"

"Jangan terlalu banyak berkhayal, Minjeong."

"Aku beneran tau! Sebentar lagi para pekerja yang lain akan datang membawa anak Nyonya Sohee ke markas."

"What? Secepat itu? Hei, Nyonya Sojung saja gagal menghabisi mereka. Apalagi kamu, pekerja baru."

"Mungkin karena aku lebih jenius dibanding dia? Ahaha, sudah lah sebentar lagi mereka datang. Doakan aku berhasil ya, bye!"

Perempuan pirang itu menaruh ponselnya di saku celananya. Sesekali melirik ke sekitarnya menunggu seseorang untuk datang. Saking semangatnya, ia tidak bisa menahan senyumannya.

"Aku tidak mengerti kenapa kak Eunseong bilang ini pekerjaan yang sulit. Padahal aku bisa menyelesaikannya tidak lebih dari seminggu," gumamnya sambil memandangi rumah depannya.

Seorang lelaki tinggi yang berjalan masuk ke rumah itu membuat Winter gusar. "H-hei! Siapa kamu?" tanyanya kepada lelaki itu walaupun sebenarnya ia sudah tahu identitas lelaki itu.

Lelaki itu menoleh, bola matanya sedikit bergetar karena terkejut. "Saya Lee Heeseung, kamu siapa?"

Winter gelagapan. Rasa senang di hatinya seketika berubah menjadi panik dan geram. "Saya ... Winter. Penghuni baru di sini," balasnya.

"Oh gitu, salam kenal. Saya tinggal di sana," balas Heeseung sambil menunjuk rumahnya yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Ini rumah tunangan saya, saya masuk dulu ya." Heeseung membungkukkan badannya lalu masuk ke dalam Rumah tersebut. Meninggalkan Winter yang masih diam mematung.

"Ryu! Aku boseeen, kamu gak ada kelas kan hari ini?" tanya Heeseung dari arah ruang tamu. Tapi tidak ada balasan dari Ryujin. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.

"Loh ini tidur apa gimana? Di lantai juga ada roti bekas gini," ujar Heeseung bermonolog. Pemandangan ini sangat aneh di matanya. Apa yang terjadi sebelum ia datang ke sini? Apakah Ryujin memakan roti ini dalam keadaan mengantuk dan berakhir menjatuhkan rotinya karena ketiduran?

Ia pun mengambil roti yang sudah tergigit dua-per-tiganya lalu menaruhnya di piring kecil. Ia berniat untuk menaruhnya di meja makan. Matanya melihat si bungsu keluarga Han sedang menumpukan kepalanya di atas meja makan dan memejamkan matanya.

Lagi-lagi ia merasa bingung. Apakah tunangannya dan adiknya ini habis begadang atau semacamnya. Ia pun menghampiri Niki, mencoba membangunkannya. "Ki. Lo tidur di sini? Emang lo gak ada kelas apa?" tanyanya sambil menepuk pipi Niki pelan.

Sama seperti yang Jay dan Ryujin alami sebelumnya, Niki tidak merespon apa-apa. Akhirnya ia memilih untuk kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa yang kosong. Untungnya ia sedang tidak ada kesibukan apa-apa, jadi ia bisa menjaga Ryujin dan Niki setidaknya sampai mereka terbangun.

Sekitar 45 menit ia memandangi layar TV sambil memeluk bantal kecil, dan Ryujin belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Bahkan untuk bergerak saja tidak sama sekali, begitu juga dengan Niki. Heeseung merasa heran, apakah mereka berdua tidak merasa pegal? Apalagi Niki. Tubuhnya sudah membungkuk di meja makan untuk waktu yang cukup lama.

Heeseung pun menghampiri Niki lagi dan menggendongnya. Ia membaringkannya di kasur kamarnya. Untung dirinya cukup kuat untuk mengangkat tubuh Niki yang hampir sama besarnya dengan dirinya sekarang.

Ia kembali duduk di sofa. Kali ini ia duduk di sofa yang sama dengan Ryujin. Ia merangkul wanita itu dan menyisirkan rambut pendeknya menggunakam jari tangannya. Ryujin selalu tampak indah di matanya walaupun sedang tertidur.

Tangannya perlahan turun dari kepalanya ke wajah si pangeran cantik. Ia mengelus pipi Ryujin lembut, penuh kasih sayang. Jarang sekali ia bisa memperlakukan Ryujin seperti ini, karena pada dasarnya Ryujin tidak suka dibanjiri sentuhan. Wanita itu akan segera menghindar darinya kalau ia mencoba untuk membelainya.

PONZONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang