Pagi hari yang seharusnya menjadi pagi yang damai bagi Heeseung malah berbanding terbalik dengan kenyataannya. Hari ini pagi yang paling buruk baginya. Bahkan ia tidak bisa menghampiri Ryujin untuk sekedar berbincang santai sebelum pergi kerja.
Dengan tergesa-gesa lelaki itu pergi menuju ATM untuk mengambil uang dengan nominal yang diminta oleh sang penculik yang menyulik dua muridnya. Ia tahu dua juta won bukan nominal yang kecil, tetapi ia akan mengorbankan semuanya demi Dongsan dan Dongkyu.
Ia meletakkan uang itu di dalam sebuah koper kecil dan keluar dari ATM. Menunggu balasan dari nomor itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
unknown
saya sudah mengambil uangnya|
sekarang kembalikan murid saya|
|pagi sekali
|saya baru saja membuka mata saya
cepat kembalikan murid saya|
|baiklah
|kau tau di mana muridmu bersekolah?
ya|
|datang ke sana setelah jam makan siang
|jam 1 siang
|jangan datang sebelum waktu yang saya tentukan, atau muridmu tidak akan pernah bisa kembali
Heeseung menghela napasnya kasar. Padahal ia sudah berniat untuk segera pergi ke sekolah dua muridnya itu dan menunggu mereka kembali, tetapi kalau ia datang sebelum waktu yang ditentukan, muridnya akan tertimpa hal buruk yang entah apa itu.
Dengan langkah yang di seret ia berjalan di trotoar. Sudah beberapa menit ia berjalan, kakinya yang lemas tidak sanggup untuk berjalan lagi. Ia pun memilih untuk duduk di pinggir trotoar dan mengistirahatkan tubuhnya.
Setelah mengambil napas beberapa kali, lelaki itu membuka ponselnya dan menghubungi orangtua kedua muridnya. Pertama ia akan menghubungi ibu dari Dongsan, Mina.
"Pagi, Bu Mina."
"Pagi, Pak Heeseung. Bagaimana kabar Dongsan?" tanya wanita itu dengan suara yang lirih dan tak berdaya. Heeseung sangat paham bagaimana perasaan wanita itu, hilangnya sang anak pasti membuat wanita itu khawatir bukan main.
"Bu Mina bisa tenang sekarang, saya sudah tau di mana Dongsan. Tapi saya belum bisa bawa dia, siang nanti saya usahakan bisa mengantar Dongsan pulang ke rumah," ucap Heeseung bersungguh-sungguh.
Ia bisa mendengar suara isak tangis penuh rasa syukur di seberang sana. "Terima kasih banyak, Pak Heeseung. Terima kasih banyak sudah berusaha untuk mencari Dongsan. Saya berhutang banyak dengan Pak Heeseung," ucap wanita itu.
"Tidak, Bu Mina. Maaf saya tidak bertanggung jawab dalam menjaga anak Ibu," ucap Heeseung penuh sesal.
Setelah berbincang dengan Mina, ia beralih untuk menghubungi orangtua Dongkyu. Kurang lebih respon yang diberikan sama. Mendengar isak tangis bahagia karena anaknya ditemukan membuat hati Heeseung terasa lega tetapi juga terdapat rasa sakit di hatinya entah kenapa.
Setelah menghubungi para orangtua, lelaki itu terdiam memandangi orang yang lalu lalang di trotoar juga kendaraan yang berjalan sesuai tujuan sang pengemudi. Ia tidak berdiam diri terlalu lama karena ia ingat dengan pekerjaannya.
Dengan taksi online lelaki itu berangkat menuju tempat kursus menyanyi dan mulai mengajar murid-muridnya sembari menunggu jam 1 siang. Harus diakui kalau selama mengajar ia merasa tidak tenang. Pikirannya berputar kepada dua muridnya yang entah apa kabar mereka. Apakah mereka sudah makan? Apakah mereka terluka atau tidak?
"Heeseung, anda baik-baik saja?" tanya seorang perempuan berkemeja putih dan rok span berwarna hitam.
Heeseung yang awalnya sedang melamun di ruangan kelas yang kosong pun membuyarkan lamunannya. "Oh, Sumin. Ya, tidak apa-apa." Setelah menjawab pertanyaan rekan kerjanya, lelaki itu kembali melamun.
KAMU SEDANG MEMBACA
PONZONA
FanfictionDan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Nope. Salah besar. Kedatangan perempuan itu di hadapan Jake bersaudara membuat kebahagiaan itu sirna seketika. Tidak ada yang pernah menyangka kalau perempuan itu ternyata bagian dari perkumpulan Sojung dan S...
