"Kamu mau ke mana?" tanya Harumi yang sedang berbaring santai di atas sofa sambil menonton televisi dan kedua tangannya memeluk bantal. Matanya memandangi Winter yang memakai kaus hitam dan celana training hitam.
"Saya ingin membeli makan malam," jawab Winter.
"Kalau begitu aku ikut. Enak saja kamu makan sendirian sedangkan aku di rumah kelaparan," ujar Harumi. Perempuan itu berjalan ke kamarnya untuk mengambil jaket berwarna hijau tua miliknya dan memakainya. "Kamu gak pakai jaket? Memang di luar gak dingin?" tanya Harumi kepada Winter.
Lantas Winter menggaruk pipinya. "Oh ... iya, saya lupa." Ia pun mengambil jaket berwarna abu-abu miliknya dan memakainya.
Mereka berdua meninggalkan rumah menyusuri jalanan yang sepi dan minim penerangan menuju rumah makan dekat perumahan mereka. Beruntung Winter menemukan rumah makan ini saat berkeliling untuk mencari angin. Makanan di sana sangat murah dan rasanya enak.
"Tempatnya jauh?" tanya Harumi guna memecah keheningan di saat mereka berjalan di pinggir jalan raya menuju rumah makan.
"Sekitar tiga menit lagi," jawab Winter.
"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini?" tanya Harumi lagi.
"Saya lupa, maaf."
Harumi mendengus kesal. Kenapa perempuan berambut pirang di sampingnya ini sangat pasif jika diajak berbicara? Apakah kesan pertama Winter terhadapnya sangat berpengaruh hingga perempuan itu takut berbicara dengannya? Memang dirinya sengaja untuk memberi sedikit tekanan kepada Winter saat pertama kali mereka bertemu, tetapi dalam hatinya ia hanya bercanda.
Harumi menyikut lengan Winter pelan. "Jangan terlalu kaku. Orang akan berpikir kita bukan saudara sepupu sungguhan," ujarnya berharap setelah ini Winter setidak berbicara santai dengannya tanpa bahasa yang terlalu formal.
Winter tersentak saat lengannya bertabrakan dengan lengan Harumi. "Maaf," ucapnya lirih.
"Satu lagi, kamu boleh mengucapkan kata maaf kalau aku bilang kamu melakukan kesalahan."
"Baiklah," jawab Winter. Ia ragu bisa melakukan apa yang Harumi katakan, terutama merubah gaya bahasanya saat berbicara. Saat bersama Dosie saja ia masih menggunakan bahasa yang sedikit formal walaupun mereka sudah terbilang cukup dekat.
"Selamat datang di Rumah Makan Yangsan!"
Winter dan Harumi duduk di salah satu tempat yang kosong dan mulai membaca menu yang diletakkan di meja oleh sang pelayan. "Apa makanan yang enak di sini?" tanya Harumi.
"Aku kurang tau, tapi aku biasanya makan nasi goreng kimchi atau bibimbap," jawab Winter kaku karena masih merasa tidak terbiasa dengan bahasa yang ia pakai.
Napas Harumi tercekat. "Bibimbap! Oke aku mau pesan itu," ujarnya bersemangat. Sudah lama sekali ia tidak makan makanan khas Korea. Selama ini ia hanya makan makanan Jepang atau makanan Indonesia.
Winter pun memanggil pelayan dan memesan dua porsi bibimbap dan dua gelas teh hangat, satu teh hangat manis dan satu teh hangat tawar untuk Harumi yang tidak bisa meminum minuman yang terlalu manis.
Selagi menunggu mereka berdua hanya berdiam diri tanpa membuka pembicaraan. Winter mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Matanya memandangi pelanggan yang lalu lalang dan pelanggan yang sedang menikmati makan malamnya. Ini yang Winter lakukan setiap malam, tapi bedanya kali ini ia ditemani oleh seseorang.
"Kak Winter?"
Seseorang yang ia kenal muncul di hadapannya bagaikan sihir. "Sedang apa kamu di sini malam hari seperti ini, Donghyeon?" tanya Winter.
KAMU SEDANG MEMBACA
PONZONA
FanfictionDan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Nope. Salah besar. Kedatangan perempuan itu di hadapan Jake bersaudara membuat kebahagiaan itu sirna seketika. Tidak ada yang pernah menyangka kalau perempuan itu ternyata bagian dari perkumpulan Sojung dan S...
