8

46 5 7
                                        

Jam sudah lewat pukul 4 sore dan anak murid Heeseung belum kelihatan. Tidak biasanya kedua muridnya yang satu itu tidak hadir tanpa kabar apa pun. Bahkan orangtua mereka tidak memberi tahu apa yang terjadi sehingga anaknya tidak bisa mengikuti les minggu ini.

"Kenapa ya?" gumam Heeseung lalu membuka ponselnya. Tidak ada satupun notifikasi pesan dari muridnya maupun orangtuanya. Seharusnya kalau tidak bisa hadir mereka memberi tahu lebih dulu.

Lelaki itu pun meninggalkan ruang mengajarnya lalu menghampiri ruang lain. Ia menanyakan kabar anak muridnya yang tak kunjung datang kepada guru-guru lain, tapi tidak ada satupun guru yang mengetahui kabar Dongsan dan Dongkyu.

Heeseung menjatuhkan tubuhnya di atas kursinya, hari ini ia akan mengajar murid lain saja. Mungkin minggu depan jika mereka berdua datang ia akan menanyakan alasan ketidakhadiran mereka.

Sampai waktu berganti menjadi malam pun Heeseung belum mengetahui kabar kedua murid kesayangannya. Dengan perasaan yang sedikit gusar lelaki itu pun pulang ke rumahnya berharap kabar akan datang secepatnya.

"Gimana tadi ngajarnya?" tanya pria yang sedang menonton pertandingan bola di televisi.

"Lancar, tapi Dongsan sama Dongkyu gak dateng. Gak ada kabar juga dari orangtuanya, kenapa ya?" balas Heeseung lalu melepas dasi dan kancing kemejanya. Ia berjalan menuju kamarnya dan mengganti bajunya dengan kaus dan celana pendek.

Ponselnya yang berdering membuat Heeseung yang tadinya sudah berada di ujung pintu pun kembali mengambil ponselnya yang tergeletak di kasur. Nama orang tua dari muridnya yang tidak ada kabar tertera di layar. Tanpa berpikir panjang ia pun mengangkatnya.

"Selamat malam, Bu Mina," sapa Heeseung.

"Pak, apa Bapak tau ke mana Dongsan? Sampai sekarang kenapa belum pulang ya?" tanya wanita itu dengan nada khawatir.

Alis Heeseung bertaut. "Dongsan belum pulang? Saya pikir Dongsan memang tidak bisa hadir karena ada keperluan keluarga. Hari ini saya tidak bertemu dengan Dongsan, Bu," balasnya. Lantas jantungnya berdegup kencang entah kenapa.

"Begitu kah, Pak? Gimana ya ... Dongsan gak izin juga mau pergi ke mana, saya gak tau dia ada di mana sekarang," lirih sang ibu dari Dongsan.

"Sebentar, saya coba hubungi dia. Ibu sudah coba hubungi Dongsan?" tanya Heeseung.

"Sudah, saya sudah telepon berkali-kali tapi tidak diangkat."

"Kalau begitu saya akan coba hubungi, saya akhiri teleponnya ya, Bu." Heeseung menekan tombol mati lalu mencari kontak Dongsan, tetapi ada beberapa pesan dari orangtua muridnya yang lain, ibu Dongkyu.

Ibu Dongkyu

|pak heeseung
|apa les hari ini sampai malam?
|dongkyu belum pulang juga sampai sekarang

dongkyu belum pulang bu?|
hari ini dongkyu tidak hadir|
saya pikir dongkyu memang sedang ada|
urusan keluarga

|kira kira dongkyu kemana ya pak?
|sudah malam seperti ini belum pulang..

saya akan coba hubungi dongkyu|
dongkyu pasti akan segera pulang, bu|

Heeseung mengacak rambutnya frustrasi. Bagaimana bisa dua muridnya kesayangannya hilang tanpa kabar secara bersamaan seperti ini. Tetapi dengan cepat lelaki itu kembali fokus dan mencoba untuk menenangkan pikirannya.

PONZONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang