10

38 3 0
                                        

"Sialan," gerutu Jake yang sedang berjalan menuju mini market yang sedikit lebih jauh dari perumahannya. Niatnya hari ini ingin membeli bahan-bahan masakan untuk stok di rumah, tetapi di mini market tempat ia biasa belanja, hampir semua bahan masakan habis. Terpaksa ia berjalan lebih jauh.

Begitu tiba di mini market tersebut, Jake masuk ke dalam lalu mengambil keranjang belanja. Ia mulai membaca notes yang berisi daftar belanjaan sembari menyusuri tiap lorong untuk mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan.

Seharusnya belanja menjadi pekerjaan Jay atau Ryujin karena mereka berdua lebih paham tentang bahan masakan, tetapi keduanya tidak memiliki waktu untuk belanja. Ryujin harus mengajar karena anak muridnya akan mengikuti lomba beberapa hari lagi, sedangkan Jay sedang sibuk dengan tugasnya.

"Sekalian beli jajanan boleh kali ya," gumam Jake lalu mengambil beberapa bungkus camilan dan beberapa minuman, sudah pasti untuk dirinya sendiri.

Begitu semua barang yang diperlukan sudah masuk ke keranjang, lelaki itu berjalan menuju kasir. Ia baru menyadari kalau sedari tadi ia sendirian di dalam mini market. Tidak ada pegawai satupun di sana. Bagaimana ia bisa membayar kalau tidak ada satupun pekerja?

Terpaksa Jake meninggalkan keranjang belanjaan yang sudah penuh itu dan memilih untuk mencari mini market lain.

"Nyusahin banget—"

"AAKH!"

Jantung Jake seperti berhenti seketika saat mendengar suara teriakan seseorang setelah keluar mini market. Setelah berkutat dengan pikirannya, akhirnya lelaki itu memilih untuk mencoba menghampiri sumber suara. Langkahnya mengendap-endap berjalan menuju jalan kecil di belakang gedung mini market.

Matanya membelalak begitu ia menemukan dua orang di sana. Satu orang berdiri memandangi seorang perempuan yang terduduk di jalanan dengan keadaan menyedihkan. "Woi! Ngapain lo?!" seru Jake lalu melangkah mendekati dua orang itu.

Di hadapannya berdiri seorang perempuan berambut hitam panjang diikat. Pakaiannya yang serba hitam dan permen di mulut perempuan itu semakin membuatnya terlihat menyeramkan di mata Jake.

"Ganggu lo," ujar perempuan itu datar. "Lo siapa? Kalo gak ada kepentingan mending pergi," lanjutnya lagi.

"Gue ...." Jake melirik sekilas ke arah perempuan yang terkapar di jalanan. "Gue kakaknya dia," jawabnya tegas serta dagunya yang diangkat tinggi menandakan kalau dirinya tidak takut dengan perempuan di hadapannya.

Lantas perempuan itu menaikkan sebelah alisnya. Ia membuang permen yang ia makan sembarangan. "Oh punya kakak ternyata. Berarti bisa dong bayarin utang adeknya?" tanya perempuan itu.

"Bisa. Gue bisa bayar berapapun. Adek gue punya utang sama lo? Sebutin aja berapa, gue bakal bayar sekarang," balas Jake. Walaupun terlihat tegas dan dingin, sebenarnya lelaki itu merasa sangat takut di dalam hatinya.

Setelah perempuan di hadapannya menyebutkan nominal hutang yang harus dibayar, Jake pun mengeluarkan dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang sesuai dengan permintaan perempuan berambut panjang itu.

"Udah, 'kan?" tanya Jake. "Sekarang mending lo pergi dan jangan ganggu adek gue lagi," ucap Jake penuh penekanan. Lantas perempuan itu melangkah pergi.

Setelah dirasa aman, Jake berlutut di hadapan perempuan berseragam, ia tebak perempuan itu adalah karyawan di mini market tempat ia belanja. "Lo gapapa?" tanyanya, walaupun ia sudah tahu kalau perempuan itu tidak baik-baik saja.

"Gapapa, Kak. Makasih ya udah bantuin saya," ucap perempuan berambut panjang dengan poni yang menutupi dahinya. Perempuan itu berusaha untuk berdiri sambil memegang perutnya.

Lantas Jake membantu perempuan itu untuk berdiri. "Tadi lo teriak? Lo diapain emang?" tanya Jake.

"Perut saya dipukul, Kak. Tapi gapapa, bukan pertama kali juga," ujar perempuan itu, entah kenapa terdengar menyakitkan bagi Jake. Bukankah berarti perempuan angkuh tadi sudah pernah menyakiti perempuan berponi ini sebelumnya?

"Tapi pipi lo bonyok juga, sakit gak? Yaudah kita pindah dulu deh, jangan di sini," ucap Jake lalu melangkah mendahului perempuan yang memiliki lebam di pipi. Mereka berjalan menuju gedung mini market. Jake mengambil satu botol air mineral yang dingin, lalu ia membersihkan permukaan botol tersebut dengan tissue sebelum diberikan kepada perempuan itu.

Lelaki itu berjalan keluar mini market, tempat di mana perempuan tadi duduk. "Nih, tempelin ke pipi lo," perintah Jake. Ia lantas duduk di kursi yang berhadapan dengan perempuan yang lebam.

Perempuan itu menerima botol yang diberikan lalu menempelkannya di bagian pipi yang lebam. "Maaf ya, Kak, jadi ngerepotin," ucapnya.

"Gapapa, by the way kenalan dong. Masa adek-kakak gak kenal satu sama lain," gurau Jake lalu mengulurkan tangan kanannya.

"Ahaha! Saya Jayoon, Shim Jayoon," ucap perempuan itu dengan wajah yang sumringah, ia pun membalas uluran tangan Jake dan saling berjabat tangan.

Mata Jake melebar begitu mengetahui nama yang cukup mirip dengannya. "Gila, nama kita udah kayak anak kembar," ucapnya takjub. "Gue Jaeyun, tapi lebih sering dipanggil Jake sih sama keluarga gue," ujarnya.

Jayoon tak kalah terkejut mendengarnya. "Kalo gitu aku panggil Kak Jaeyun aja ya?"

Jake mengangguk. "Oke, kalo kita ketemu lagi jangan takut buat sapa-sapa ya." Lelaki itu lantas memandangi perempuan di hadapannya dengan tatapan yang teduh, entah kenapa ia merasa seperti menjadi seorang kakak bagi perempuan itu. Padahal mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu.

"Cewek tadi sering gangguin lo?" tanya Jake.

"Kak Yubing? Ya ... gitu lah, tiap bulan selalu datengin kostan aku dan minta uang bulanan kost. Dia anaknya pemilik kos, mungkin dia suka disuruh orangtuanya. Padahal aku udah bayar kost buat bulan ini, tapi dianya keras kepala dan nyuruh bayar double buat bulan ini," jelas Jayoon panjang lebar mengenai perempuan angkuh tadi.

"What?! Itu namanya ngerampok!" seru Jake geram. Hampir saja ia menggebrak meja. "Lo gak mau laporin ke orangtua cewek itu? Gimana kalo orangtuanya gak tau kelakuan anaknya yang kayak preman itu?"

"Kalo nanti malah gue yang diusir dari kostan gimana, Kak?" tanya Jayoon. Semua orangtua pasti tidak akan pernah percaya kalau anaknya melakukan hal yang tidak baik. Percuma saja Jayoon melapor.

"Iya juga, yang ada lo diamuk ntar," ujar Jake kikuk. "Yaudah setidaknya lo udah ada gue, kalo diapa-apain tinggal telepon. Ini nomor telepon gue." Jake memberikan nomor teleponnya kepada Jayoon.

"Segampang itu?" tanya Jayoon. Ia sedikit terkejut melihat Jake yang dengan mudahnya memberikan nomor telepon yang sifatnya privasi.

Jake terkekeh. "Ya kalo lu ternyata bukan orang baik-baik gue tinggal hajar aja, gampang. Untuk sekarang gue anggep lo orang baik dulu," ucapnya.

Jayoon tertawa kecil. "Oke-oke. Udah aku catet ya," balasnya setelah menulis ulang nomor telepon Jake di notes ponselnya. "Kalo mau pulang, pulang aja gapapa. Aku bisa kok sendirian," lanjutnya.

Jake mengangguk pelan sebelum tersadar satu hal penting. "Oh iya, gue belom bayar belanjaan gue!"

《《《 》》》

《《《 》》》

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PONZONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang