4

81 11 0
                                        

Seorang perempuan yang sudah tertidur hampir setengah hari akhirnya membuka matanya. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat wajah tunangannya dan adiknya di hadapannya.

"Kalian kenapa ngeliatnya gitu amat sih?" tanyanya masih dengan keadaan setengah sadar.

"Kamu tidur hampir seharian, Ryu. Sekarang udah jam 10 malem," balas Heeseung.

Ryujin membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka kalau dirinya tertidur selama itu. "Hah?! Kok lama amat?"

Heeseung menghela napasnya. "Ya mana aku tau. Ini Jake sama Niki juga kayak kamu, lama banget tidurnya gak bangun-bangun," katanya lesu.

"Laper ...." Di sisi lain si bungsu keluarga Han keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruang makan, tapi tidak ada apa-apa. Akhirnya ia pergi ke kamar kakaknya.

"Kak, gue lap—hoi! Ngapain lo berdua di sini?" tegur Niki melihat Jay dan Heeseung berdiri di depan Ryujin yang sedang terbaring di kasurnya. Bukannya mau menuduh yang tidak-tidak, tapi berada di kamar seorang perempuan apalagi malam hari seperti ini sedikit kurang pantas.

"Heh jangan bikin gue keliatan mesum ya. Gue abis jagain Ryujin, dia pingsan seharian, lo sama Jake juga pingsan," jelas Heeseung. "Kalian kenapa sih? Kok bisa begini?" tanyanya.

"Gue pingsan? Pingsan?! Gue gak kelas dong tadi?" tanya Niki dengan intonasi tinggi.

"Iya lah. Gapapa udah sekali doang ini," balas Jay santai.

Napas Niki tercekat, rasanya berdosa sekali tidak mengikuti kelas hari ini. Entah apa yang membuatnya menjadi serajin ini, padahal semasa sekolah menengah dulu lelaki itu cenderung pemalas, pekerjaan rumahnya banyak yang tidak terselesaikan.

"Yaudah gue mau nyiapin makan dulu buat Kak Ryu sama Niki," ujar Jay lalu pergi menuju dapur untuk menghangatkan burger yang sudah ia beli beberapa jam yang lalu.

"Besok ada kelas?" tanya Heeseung kepada Ryujin. Yang dimaksud lelaki itu bukanlah kegiatan belajar yang dilakukan mahasiswa, melainkan kelas tari modern yang Ryujin jadikan pekerjaan tetap sejak tahun lalu. Singkatnya, perempuan itu adalah guru tari.

"Ada dong, kamu?" Sama seperti Ryujin, Heeseung juga menjadi guru di sebuah tempat les vokal. Suaranya yang indah membuka jalannya untuk menjadi seorang guru.

Heeseung mengangguk. "Iya, ada." Bicara tentang les vokal, lelaki itu teringat dua muridnya yang selalu membuat lelaki itu teringat pada seseorang yang berharga di hidupnya. Dongsan dan Dongkyu, kedua muridnya itu sangat mirip dengan mendiang adik-adiknya. Saat pertama kali bertemu ia pikir mereka adalah reinkarnasi dari Sunoo dan Jungwon.

Mungkin dunia paham kalau Heeseung sangat rindu dengan kedua adiknya, maka Dongsan dan Dongkyu hadir di hidupnya untuk mengobati rasa rindu kepada adik-adiknya.

"Kak Ryujin! Ini burgernya nanti keburu dingin lagi," sahut Jay dari arah dapur.

Mereka berdua lantas keluar dari kamar dan menghampiri ruang makan. Ryujin dan Niki melahap burgernya, sedangkan Jay dan Heeseung hanya memandangi mereka karena mereka sudah makan lebih dulu.

"Oh iya, Kak Ryu. Mau nanya dong," celetuk Niki.

Ryujin menoleh ke arah sang adik. "Apa?"

"Kak Ryu sama Kak Heeseung kapan nikahnya."

"Uhuk!" Ryujin sontak tersedak gigitan burger yang sedang ia makan. Jujur perempuan itu sedikit sensitif jika seseorang membicarakan rencana pernikahannya dengan Heeseung. Entah kenapa ia tidak ingin pergi ke jenjang yang lebih serius dengan tunangannya.

"Kalo gak Sabtu ya Minggu," jawab Heeseung sembarangan. Ia juga tidak ingin cepat-cepat menikah dengan Ryujin, bukan karena ia tidak cinta dengan perempuan itu, tapi karena penghasilannya belum cukup untuk keluarganya kelak. Ia ingin menabung terlebih dahulu agar dirinya dan Ryujin nanti tidak perlu melewati masa-masa sulit terutama di bagian ekonomi.

PONZONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang