"Permisi!"
Mendengar suara seseorang serta suara dentingan bel yang terus-terusan berbunyi membuat Winter terpaksa beranjak dari sofa dan pergi keluar rumah untuk memeriksa siapa yang bertamu. Ia membuka pagar dan mendapati seorang perempuan berambut ikal pendek seleher berdiri di hadapannya. Tubuhnya tinggi membuat Winter sedikit merasa terintimidasi.
"Siapa ya?" tanya Winter.
Dengan wajah datar tanpa emosi, perempuan itu membuka suaranya. "Jadi kamu anggota baru yang direkrut Eunseong dan langsung kerja tanpa training terlebih dahulu?" tanyanya.
Entah kenapa kalimat itu sangat menusuk di hati Winter, ia merasa sedang disindir. "Mungkin ... iya?" jawabnya ragu. Dalam hatinya ia berpikir keras siapakah perempuan di hadapannya ini. "Anda siapa ya?" tanyanya.
"Lebih baik kita berbicara di dalam saja." Perempuan berambut pendek itu masuk ke dalam mendahului Winter seakan-akan sedang masuk ke dalam rumah miliknya sendiri. Dengan langkah berat Winter mengikutinya.
Perempuan itu membanting tubuhnya di atas sofa dan menyugar rambutnya beberapa kali. Setelah Winter duduk di sofa yang berhadapan dengannya, perempuan itu mengulurkan tangannya ke arah Winter.
"Harumi. Sudah bekerja dengan nyonya Sojung sejak usaha ini dijalankan, tetapi setelah bekerja satu tahun bersamanya, saya diperintahkan untuk bekerja di bagian Jepang dan Indonesia. Saya campuran Jepang dan Korea, ayah saya Jepang dan ibu saya Korea."
Mendengar perkenalan diri yang cukup lengkap itu membuat Winter sedikit kewalahan menerima informasi itu. "Saya Winter, salam kenal." Ia pun berjabat tangan dengan perempuan yang bernama Harumi itu. Kelihatannya perempuan itu jauh lebih tua darinya dan juga Dosie.
"Jadi bagaimana caramu bisa bergabung menjadi salah satu bagian dari kami?" tanya Harumi lalu mengangkat kakinya dan bersila di atas sofa. Tanpa meminta izin perempuan itu meraih segelas teh yang sebenarnya milik Winter lalu menyesapnya. "Ah! Terlalu manis. Kamu gak takut diabetes? Memang anak muda gak pernah peduli dengan kesehatannya," omel perempuan itu.
"Maaf ...," ucap Winter lirih.
"Ya sudah, ayo jawab pertanyaanku yang sebelumnya," balas Harumi ketus.
Winter mulai menceritakan latar belakang ia bergabung dengan usaha jual-beli illegal ini. Ia menceritakan bagaimana ibunya yang sedang berjuang melawan penyakitnya di Seoul dan dirinya yang berusaha mencari uang untuk menebus biayanya. Hingga pada akhirnya Dosie menawarkannya untuk bekerja di usaha ini.
"Perempuan malang," ucap Harumi entah itu sebuah tanda iba atau sebuah hinaan.
"Kalau anda ... kenapa anda kembali ke Korea? Bukankah anda bilang bekerja di Jepang dan Indonesia?" tanya Winter. Ia cukup penasaran dengan pekerja yang bekerja di negara lain.
"Saya punya satu rekan dari Indonesia yang selalu bekerja sama dengan saya, sama seperti nyonya Sojung dan nyonya Sohee. Kinerja dia cukup baik, tapi satu kelalaian membuat karirnya hancur, kamu tahu alasannya?" tanya Harumi. Lantas Winter menggeleng.
"Anak rekan saya melihatnya membunuh target, lalu melaporkan ayahnya ke polisi di Indonesia. Akhirnya rekan saya itu memilih untuk membunuh dirinya sendiri dan menyumbangkan tubuhnya untuk kami jual kepada pembeli."
Napas Winter tercekat mendengar cerita tragis itu. Seketika ia membayangkan perasaan sang anak, pasti dia sangat kecewa melihat pekerjaan orangtuanya yang sangat buruk seperti ini. Padahal ia yakin orang itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sang anak, hanya saja caranya salah.
"Sebenarnya secara teknis dia tidak bunuh diri, tetapi dibunuh oleh anaknya." Winter menautkan alisnya mendengar ucapan Harumi. "Saat rekan saya mau memberikan pesan terakhir sebelum membunuh dirinya, anaknya mengambil pistol yang rekan saya genggam dan menembak tepat di jantungnya. Saat melihat itu dari jauh, saya berpikir untuk mengajak anak itu bekerja, tapi sepertinya dia tidak akan mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
PONZONA
FanfictionDan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Nope. Salah besar. Kedatangan perempuan itu di hadapan Jake bersaudara membuat kebahagiaan itu sirna seketika. Tidak ada yang pernah menyangka kalau perempuan itu ternyata bagian dari perkumpulan Sojung dan S...
