"Abis ini ke tempat kak Ryu mau gak?" tanya Niki kepada tiga saudaranya.
"Gue sih ayo aja, lagi gak ada kerjaan," balas Jake.
Niki membuka ponselnya dan kedua tangannya sibuk mengetik pesan untuk seseorang. Tak jarang lelaki itu menyunggingkan senyumnya membuat Jake merasa penasaran apa alasan adik bungsunya tersenyum seperti itu.
"Chattingan sama siapa sih?" tanya Jake lalu berusaha mengintip layar ponsel Niki. Tapi dengan cepat lelaki itu menjauhkan ponselnya dari pandangan Jake.
"Temen," jawab Niki singkat. Lelaki itu mengabaikan kakaknya dan kembali asyik berbalas pesan dengan seseorang di ponselnya. "Kak Jay sama kak Sunghoon gak bareng kita, 'kan? Duluan aja yuk?" ajaknya setelah menaruh ponselnya di dalam saku.
"Yaudah." Jake dan Niki saat itu juga berjalan menuju parkiran. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika kelas mereka selesai di siang hari mereka akan menghampiri tempat mengajar Ryujin agar perempuan itu bisa pulang bersama mereka.
Lagu bergenre pop menemani perjalanan mereka. Biasanya Niki akan membuka suara dan memulai pembicaraan dengan Jake, tapi kali ini lelaki itu hanya fokus dengan ponselnya dan mengabaikan Jake yang terlihat bosan menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.
"Ngobrol sama siapa sih dari tadi gak ada abisnya," tanya Jake ketus.
"Temen, kan udah dibilangin dari tadi juga," balas Niki.
Jake mendengus kesal. "Awas aja lo ngebalap gue. Masih kecil jangan pacaran dulu," ucapnya.
Niki tertawa remeh. "Dih? Sorry kalo gue lebih jago dibanding lo," ejek Niki.
Lantas Jake memilih untuk tidak membalas ucapan adiknya. Ia fokus menyetir hingga tiba di tempat pelatihan menari milik Ryujin. Ia memarkirkan mobilnya di salah satu tempat kosong. "Yuk, Ki," ucapnya sebelum turun dari mobil.
Mereka berdua berjalan menuju lobi dan duduk di sofa yang disediakan. Kedepannya mereka akan menunggu Ryujin selesai mengajar. Jake sibuk memainkan ponselnya sambil memeluk bantal, sedangkan Niki berdiri di luar lobi entah apa yang ingin dilakukan lelaki itu.
Perhatian Jake teralihkan dari ponsel ketika ia melihat seorang perempuan berambut panjang dengan kemeja flanel nuansa merah dan celana berwarna hitam terlihat sedang berbincang dengan adik bungsunya. Pikirannya menerka-nerka apa yang mereka berdua sedang bicarakan.
Melihat Niki yang tertawa bersama perempuan itu membuat Jake semakin merasa heran. Saat perempuan itu masuk ke dalam gedung, matanya memandangi ke mana perempuan itu berjalan hingga matanya tidak lagi mampu menjangkaunya.
"Heh, ngapain liat-liat gitu?" tegur Niki dengan wajah datar, berbeda dengan sebelumnya yang murah senyum. Lelaki itu lantas duduk di samping sang kakak.
"Siapa itu? Muridnya kak Ryujin?" tanya Jake.
"Bukan lah, murid kak Ryujin mah bocil semua," balas Niki. "Namanya Hyewon. Temen seangkatan gue," ucapnya guna menjawab rasa bingung serta penasaran Jake. "Udah gak kepo lagi, 'kan?" tanyanya dengan nada jahil.
Jake memicingkan matanya. "Bocil," ucapnya singkat entah untuk apa tiba-tiba ia mengatakan itu.
Niki tersenyum paksa sambil menganggukkan kepalanya, dianggap anak kecil untuk selama-lamanya sepertinya salah satu kutukan untuknya. Berapapun umurnya, berapapun tingginya, ia akan dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
PONZONA
Fiksi PenggemarDan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Nope. Salah besar. Kedatangan perempuan itu di hadapan Jake bersaudara membuat kebahagiaan itu sirna seketika. Tidak ada yang pernah menyangka kalau perempuan itu ternyata bagian dari perkumpulan Sojung dan S...
