13

23 3 0
                                        

"Woy, sakit perut?" tanya Ryujin kepada adiknya yang sedari tadi tidak menyentuh makanannya. Alih-alih makan, Sunghoon hanya terdiam memandangi meja dengan tangan kanan yang menopang wajahnya.

"Gue gak laper," jawab Sunghoon singkat.

"Lagi nervous tuh, Kak. Abis taruhan sama orang," balas Niki sambil menatap Sunghoon jahil.

"Hah? Taruhan sama siapa?" tanya Ryujin bingung. Sedari tadi perempuan itu sibuk mengurusi anak muridnya. Bahkan sebenarnya perempuan itu baru saja tiba karena sebelumnya ia sedang mengurusi makan siang untuk anak muridnya.

"Sama Kim Chaehyun yang gue bilang itu, Kak. Ternyata orangnya ikut lomba juga," jawab Jake lalu melahap kentang gorengnya.

Lantas Ryujin tertawa kencang. "Kok bisa taruhan gitu sih? Apaan yang ditaruhin?" tanya Ryujin heran.

Sebelum pembicaraan ini semakin jauh, Sunghoon menggebrak meja. "Jangan diomongin lagi," pintanya dengan nada datar tetapi terdengar menyeramkan. Saat itu juga para saudaranya berhenti berbicara dan sepertinya ini adalah terakhir kalinya mereka membicarakan Chaehyun di depan Sunghoon.

Niat Sunghoon yang awalnya mencari angin sekaligus memberi dukungan untuk Ryujin yang mengantar anak muridnya mengikuti perlombaan tari modern hancur seketika saat perempuan berkulit sama pucat dengan dirinya muncul di hadapannya, menari penuh semangat di atas panggung ditemani sorakan dari bawah oleh para penonton.

"Kalo gue menang ... lo jadi pacar gue ya, Sunghoon?"

Andai suara cantik itu digunakan untuk bernyanyi dibanding melontarkan kalimat-kalimat menyebalkan mungkin Sunghoon tidak akan segeram ini setiap mendengar suara itu. Lelaki itu baru merasakan penyesalannya sekarang, kenapa ia bisa menyetujui taruhan tidak penting itu begitu saja? Apa jadinya kalau perempuan itu memenangkan taruhannya? Apakah Sunghoon benar-benar menjadi kekasih Chaehyun nanti? Membayangkannya saja sudah membuat lelaki itu mual.

"Eh, hai keluarganya Sunghoon. Boleh gabung? Soalnya tempat lain udah penuh semua."

Seluruh mata tertuju kepada perempuan berambut panjang bergelombang yang masih memaki kostum yang dipakai saat tampil tadi. Mendengar suara itu membuat Sunghoon menggerutu di dalam hatinya.

"Gak."

"Boleh dong!"

Sunghoon berdecak sebal mendengar jawaban Ryujin yang terdengar sangat ramah kepada perempuan itu. Padahal ia sudah menjawab tidak, tetapi suara Ryujin lebih lantang sehingga jawabannya tidak terdengar jelas.

"Geser, Hoon. Biar dia bisa duduk," perintah Ryujin.

Sunghoon menautkan alisnya. "Kenapa harus gue yang geser? Tuh di samping Niki masih kosong," balasnya sambil melirik ke arah tempat kosong di samping Niki.

"Ya kan dia temen kamu, 'kan? Masa duduknya deket Niki, kasian," ujar Ryujin, sorot matanya seketika berubah menjadi sorot mata kakak perempuan yang terlihat sangat menyeramkan di mata Sunghoon.

"Anjing lah," gumam Sunghoon lalu menggeser tubuhnya dan membiarkan Chaehyun duduk di tempatnya ia duduk sebelumnya.

"Makasih ya Kak, udah dibolehin numpang duduk," ucap Chaehyun kepada Ryujin.

"Iya gapapa santai aja, kan temennya Sunghoon juga," balas Ryujin dengan senyum ramahnya.

Selama makan siang berlangsung tidak ada obrolan penting di antara mereka. Sunghoon terlalu malas membuka suara, dan saudara-saudaranya tidak berani membuka suara karena melihat aura Sunghoon yang sangat menyeramkan.

"Aku duluan ya. Mau ngurusin anak-anak sebelom pengumuman lomba," ujar Ryujin yang sudah selesai menghabiskan makanannya.

"Eh, Kak. Aku boleh ikut gak?" pinta Chaehyun. Ia sedikit tidak nyaman jika hanya dirinya yang seorang perempuan di antara Sunghoon dan saudara-saudaranya.

PONZONATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang