"Apa yang sudah kalian dapat?"
Salah satu pria yang duduk di sofa membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Winter. Foto seorang lelaki tinggi yang sedang berbincang dengan dua murid SMA di depan gedung les musik.
"Siapa dua anak itu?" tanyanya lagi. Perempuan berambut pirang itu mengenali lelaki tinggi di foto tersebut, tapi tidak dengan kedua murid yang sedang berbincang dengan lelaki itu.
"Sepertinya murid yang Heeseung ajari, kalau tidak salah dengar nama mereka Dongsan dan Dongkyu," jawab salah satu pria yang memiliki goresan di bagian alisnya, Stephen.
Senyum licik tersungging di bibir Winter setelah otaknya merancang rencana yang tentunya sangat menguntungkan untuk dirinya. Ia pun mengambil ponsel miliknya. "Kirim foto itu, saya ingin membicarakan sesuatu dengan kak Eunseong," perintahnya.
"Biasain pakai nama samaran, Winter," tegur pria yang bernama Jeongin.
Winter berdecak sebal. "Iya saya tahu, kau sendiri tidak menggunakan nama samaran. Lagi pula kita sedang tidak di tempat umum," balasnya sinis. Setelah Stephen mengirim foto yang diminta, Winter mengirimnya kepada Dosie.
Kak Eunseong
/winter send a picture/|
|apa ini?
|eh ... sebentar
ada apa?|
lupakan dulu, aku mau memberi tahu|
ide bagus
bagaimana kalau aku menculik kedua anak|
itu lalu meminta heeseung menebusnya?
kita tidak usah beri tahu ini kepada|
nyonya sohee ataupun nyonya sojung
keuntungannya kita bagi dua nanti|
bagaimana?|
Bukannya membalas pesan Winter, perempuan yang bertugas meracik ponzona malah meneleponnya. Tanpa berpikir Winter pun mengangkatnya dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa? Kenapa sampai meneleponku?" tanya Winter sinis.
"Kau dapat itu dari mana? Mereka siapa?" tanya Dosie.
Winter menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa Kak Eunseong seperti hilang ingatan sih? Dia Heeseung, anak dari nyonya Sojung," jawabnya.
"Bukan, bukan dia yang aku tanya, tapi dua anak sekolah yang bersamanya."
"Oh, mereka muridnya Heeseung, Dongsan dan Dongkyu. Kenapa? Kak Eunseong kenal mereka?"
Di seberang sana Dosie menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak kenal mereka. Tapi wajah mereka sangat familiar. Seperti dua anak nyonya Sojung yang sudah tiada," ujar perempuan itu dengan nada kebingungan.
Winter tertawa kecil. "Apa-apaan ini? Apakah mereka semacam reinkarnasi? Hebat sekali," timpalnya. "Tapi lupakan itu, sekarang mari bicarakan ide yang aku buat tadi. Bukankah itu ide bagus, Kak? Kita tidak perlu membunuh mereka."
"Hm ...." Dosie menggumam sembari berpikir apakah ide yang Winter utarakan tadi akan memberikan keuntungan. "Ya sudah, lagi pula nyonya Sohee dan nyonya Sojung juga tidak akan tahu," ucapnya.
"Yes!" Winter memekik dan mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya ke udara. "Baik kalau begitu, mulai besok aku akan jalankan ide itu."
"Cepat sekali? Memang kau sudah mengaturnya serapi mungkin? Kalau gagal aku tidak akan segan mengeluarkanmu dari pekerjaan ini," ancam Dosie. Ia khawatir temannya itu ceroboh karena pikirannya terlalu terpaku dengan uang. Bisa saja nanti dirinya yang terjebak di sel penjara bersama pemilik perusahaan tempat ia bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
PONZONA
FanfictionDan mereka hidup bahagia selama-lamanya. Nope. Salah besar. Kedatangan perempuan itu di hadapan Jake bersaudara membuat kebahagiaan itu sirna seketika. Tidak ada yang pernah menyangka kalau perempuan itu ternyata bagian dari perkumpulan Sojung dan S...
