bagian 4

4 0 0
                                    

Lanjut lagi yukk...
Angin malam yang dingin menelusup ke dalam kardigan rajutku. Aku mulai sedikit menggigil kedinginan. Jam di tanganku menunjukkan pukul delapan malam dan kau belum menampakkan diri. Alunan musik klasik kesukaanmu yang memenuhi ruang kafe seolah berdansa dengan nyala lilin yang bergoyang-goyang tertiup angin. Aku meneguk minuman hangat sekali lagi dan seorang waitress tersenyum padaku. Seolah lewat senyumannya ia mengatakan agar aku bersabar menunggumu.

Seperti apa kau sekarang? Aku tersenyum geli menyadari tanganku mulai berkeringat dingin membayangkan tatapan matamu. Mungkin sekarang kau berubah lebih laki-laki, lebih dewasa dan lebih memesona. Aku hampir yakin bahwa kau akan menjelma sosok pria dewasa yang bisa menaklukkan puluhan perempuan dalam sekali kerling. Mungkin juga kau akan menemuiku dengan kekasihmu. Mendadak perutku mual membayangkan kau datang bersama seorang perempuan yang menggelendot manja di bahumu. Oh, kau berhasil memaksaku kembali ke masa lalu, bahkan membuatku cemburu dengan bayanganmu.

"Mbak menunggu seseorang?" tanya waitress menghampiriku.

Aku mengangguk. "Ya, kami ada janji jam tujuh tadi. Tapi ini sudah lewat satu jam dan temanku belum datang."

"Ada yang ingin bertemu Anda," kata waitress.
Waitress melambaikan tangan pada lelaki asing yang berdiri di pintu kafe untuk mendekat. Lelaki itu berjalan mendekati mejaku dan tersenyum ramah. Waitress mengangguk dan meninggalkan kami.

"Anda Riri?" tanya lelaki itu.

Aku mengangguk. "Ya."

Lelaki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Kenalkan, saya Aldo, teman dekat Eka."

"Oh." Aku membalas senyum Aldo dan menangkap tangannya yang kokoh.

"Tepatnya saya ditugaskan Eka menemani Anda sebelum dia datang."

Aku tersenyum, mengangguk.

Lelaki bernama Aldo itu duduk di hadapanku dan tersenyum simpatik. Setelah memesan segelas orange juice pada waitress, ia tersenyum menatapku.

"Maaf sudah menunggu lama."

"Tidak apa, saya suka berlama-lama di kafe ini."

"Oh, begitu? Saya juga suka melakukannya bersama Eka. Kafe ini sangat romantis dan bisa membangkitkan cinta."

"Anda mirip dengan Eka. Menyukai hal-hal yang dramatis dan romantis."

Aldo mengangguk, matanya berbinar. "Ya, kami memang mirip dan memiliki banyak tujuan hidup yang sama. Bahkan pandangan soal cinta kami juga sama."

"Oya? Kalian menyukai tipe wanita yang sama?"

Aldo menyambar mataku dengan tatapannya yang setajam elang. Aku membuang pandang. Sungguh tidak lucu kalau aku jatuh cinta pada lelaki dan itu sahabatmu. Aku tidak akan menghancurkan pahatan kenangan yang kau simpan rapi dalam benakmu.

"Hmmm, tipe kami? Tergantung kebutuhan. Kalau Anda?" tanya Aldo menggoda.

Aku menggeleng. "Hmm, tergantung kebutuhan juga."

Lalu kami sama-sama tergelak seperti sepasang teman yang lama tak berjumpa. Obrolan demi obrolan begitu cair dan lancar, sementara kau tak juga muncul di depan mataku.

***

kenangan tadi malamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang