bagian 7

1 0 0
                                    

“Maaf, Anda… Anda siapa?” tanyaku menghindar dari perempuan itu.
“Riri! Ini aku! Ini aku… Eka!”
Aku menatapnya tak percaya. “Kau…?”
Kau masih mengangguk-angguk dengan gaya yang masih histeris. “Iya, aku sahabat masa kecilmu. Aku juga mantan cinta pertamamu, “ lanjutan kata-kata terakhirnya adalah tawamu dan Aldo yang terbahak-bahak bersahutan.
“Tapi.. kenapa kamu….” Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku.

 “Ceritanya panjang sayang. Yang pasti inilah aku yang sekarang. Mungkin ibuku dulu benar, bahwa jiwaku yang sesungguhnya adalah perempuan. Sekarang aku telah memilih menjadi aku yang sebenarnya.”
Aldo tersenyum dan menarik lenganmu untuk duduk di pangkuannya. Aku membuang muka, mengenyahkan perasaan campur aduk yang ada di dadaku.

“Aku menemukan kebahagiaanku yang sejati, juga cintaku yang sejati,” katamu sambil mencium pipi Aldo sekilas. “Oh, ayolah, sekarang kamu pasti lapar dan bosan menungguku. Lebih baik kita pesan makanannya.”

Saat kau melambaikan tangan ke arah waitress, dunia di sekelilingku terasa sedikit membingungkan. Aku tidak suka dan tidak bisa menyimpan kenangan, tapi mungkin akan menyimpan satu kenangan hari ini seumur hidupku. Aku menghargai pilihanmu, meski kenyataannya aku merasa kehilanganmu. Angin malam mengempaskan lilin yang ada di depan kami. Remang-remang cahaya menciptakan siluet wajahmu yang cantik tampak memesona. Kau mendekatiku dan memelukku dari belakang, lalu membisikkan kata-kata lama.

“Aku akan mencintaimu selamanya.
Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan.
Melupakan, barangkali hal tersulit dalam hidup ini, apalagi melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kenangan salah satunya.
“Kita bisa dengan mudah melupakan seseorang tapi sulit melupakan kenangan bersamanya.”

Saat ini aku sedang dalam proses menyembuhkan luka. Bukan, bukan dia yang menyakitiku, tapi perasaan ini yang terlalu berlebihan kepadanya. Aku terlalu berharap lebih kepada dia, sehingga membuatku lalai, abai bahwa mengharap selain kepada-Nya hanya akan membuatku kecewa.
“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Imam Ali bin Abi Thalib.
Aku memang tak pandai berkata jujur tentang perasaanku. Berkali-kali aku mencoba mengatakanya padamu, namun aku tak bisa. Kau pernah berkata padaku bahwa disampingku kau merasa sangat nyaman, tak pernah kau merasa senyaman itu, tidak juga dengan kekasihmu itu. Kau bilang andai kau mengenalku dari dahulu, andai kita dipertemukan lebih awal, mungkin kau bisa memilihku.
“Kau tak usah menyalahkan takdir, jika kau berani, tinggalkan orang yang selalu menyakitimu — yang kau sebut kekasih itu, dan jalinlah hubungan dengan orang yang membuatmu nyaman — diriku.”
Lalu kau terdiam, agak lama.
“Semua sudah terlambat.” begitu katamu

***

kenangan tadi malamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang