Part_2

193 157 379
                                        

"Bel ikut ke cafe di dekat taman asri yuk," ajak Vanya setelah aku memasukkan seluruh buku ku kedalam tas.

"Gw gabisa lama-lama, gw mau temani mama belanja."jawabku sembari menyamakan langkahku dengan langkah mereka

"Yaelah, gitu doang kan ada bibi di rumah lu."sambung Ririna sembari merangkul ku dan tersenyum.

"Hmm bentar aja ya,"jawabku.

"Oke."jawab mereka bersamaan sembari membulatkan jari jempol dan jari telunjuk menandakan mereka setuju.

Di perjalanan menuju cafe aku hanya diam, hanya Vanya dan Ririna yang saling berbicara namun aku tak begitu mendengar kan mereka.

***

"Mau pesan apa?"tanyaku pada Vanya dana Ririna.

"Gw lemon tea sama kentang goreng."jawab Vanya lalu ia memberikan daftar menu pada Ririna.

"Gw lemon tea sama steak."sahut Ririna lalu ia kembali sibuk dengan Vanya berbicara.

Aku tak begitu mengerti mereka, mereka selalu saja berbicara banyak hal tanpa mengajakku walaupun aku juga tidak begitu tertarik pada obrolannya.

"Saya cappucino aja,"sahut pada pelayan cafe.

Ku perhatikan kedua sahabatku yang sibuk berbicara tentang banyak hal dan mereka hanya mengabaikan ku sendiri. Dan akhirnya aku selalu bercengkrama dengan kesepian walau mereka selalu ada di dekatku. Aku sedikit memasang wajah kecewa sesaat namun mereka tetap tidak menghiraukan ku.

"Kalian lagi ngomongin apa?"aku memberanikan diri bertanya pada mereka.

"Gaada, kita cuma lagi liat-liat foto di Instagram,"jawab Vanya sedikit tersenyum.

"Gw tertarik sama anak baru itu,"sahutku tanpa pikir panjang.

"Ha? Seriusan?"tanya Vanya merasa tak yakin.

"Gw, ga tahu juga tapi gw kagum aja Izumi,"

"Ga mungkin lah Bell, yakali lu langsung suka sama orang yang baru lu temui,"sahut Ririna seperti bercanda.

"Yang suka siapa? Gw tadi bilang cuma tertarik ter-ta-rik bukan suka." sanggah ku.

"Tapi menurut gw Izumi lumayan juga tuh,"sahut Vanya sembari tertawa kecil.

"Tapi Arkan juga menarik," ucap Ririna.

Ririna pindah dari tempat duduknya dan duduk di samping ku.

"Yaudah lu tinggal lupain Arkan aja,"sahut Vanya seakan tak acuh.

Kulihat wajah Vanya yang sedikit serius sembari menyeruput minum miliknya, aku sempat merasa canggung saat mengatakan hal tadi pada mereka namun entah mengapa mulut ku tergerak sendiri mengatakan itu.

"Menurut gw Izumi lebih tampan dari Arkan,"sahut Ririna menggoda ku.

"Tapi Arkan tampan juga haha,"jawabku.

"Lebih tampan Izumi dari Arkan,"sahut Vanya.

"Izumi tinggi, kulit putih pasti kulitnya halus, rambut Izumi juga kek yang di manga dan di anime, matanya juga cantik hampir mirip mata Karakter kebanyakan anime. Kalau Arkan mungkin sedikit pendek dari Izumi, rambut Arkan biasa-biasa aja seperti kebanyakan rambut laki-laki, tapi Arkan keren sih jago main basket. Arkan juga baik kok,"jelas Ririna panjang lebar.

Aku dan Vanya hanya mengangguk paham tentang semua penjelasan dari Ririna.

"Tapi Izumi lebih menarik dari Arkan,"sahut Vanya.

"Yaudah makan dulu itu, udah Dateng pesanan kalian."sahutku.

***

Aku melihat jam pada ponselku menunjukkan jam 03:30 dan bergegas ingin pergi.

About Us (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang