Hai!
Aku datang!!!!
Happy reading ya guys❤️
Dia mencintaimu hanya saja dia tak memberitahu mu:)
"Bella," sapa Ririna dari ambang pintu kelas.
"Sini, kita mau buat mahkota nih," sambungnya.
"Mau buat mahkota apa?"
"Ikut aja." ujar Vanya menarik tanganku.
Didalam kelas aku melihat Izumi dan Arkan yang sedang memisahkan bunga-bunga sesuai dengan warna. Aku merasakan aura mengcekam diantara mereka, mata mereka yang saling bertatapan namun sinis. Entah apa yang kurasakan saat itu, tapi aku tersenyum melihat Izumi dan Arkan yang duduk berdekatan.
"Luu–duduk–sini–aja," ucap Izumi melihat wajahku dengan senyum paksa.
"Sini aja Bel." Arkan menarik tanganku dan membuatku terduduk di kursi sebelahnya.
"Nah, gw duduk di sini." ucap Ririna dan duduk tepat di samping Izumi.
"Nih contoh mahkotanya." sahut Vanya melemparkan ponsel Arkan.
Wajah Arkan seketika kaget melihat ponselnya yang baru saja dilempar oleh Vanya, "Vanya anj-" ucapan Arkan berhenti dan mencoba tersenyum pada Vanya.
Seperti tak merasa bersalah Vanya hanya cuek melihat Arkan dan balik menatap Arkan dengan tatapan sinisnya.
"Mahkotanya nora-"
Vanya mendorong kursinya hingga membuat orang yang berada dibelakangnya terjatuh dan berhenti berbicara.
"Eh maaf, tadi lu mau ngomong apa!?" ucap Vanya memegang pipi Jura.
"Apa sih lu, buta mata lu!?" Jura menghempaskan tangan Vanya dan balik membentak Vanya.
"Maaf Jur, tapi mata gw ada di depan bukan dibelakang. Lagian siapa suruh lu ada dibelakang gw," balas Vanya tersenyum.
Kulihat tangan Jura yang menggenggam erat roknya hingga membuat urat ditangannya sedikit terlihat. Tanpa menjawab perkataan dari Vanya Jura dan Lura pergi meninggalkan kami dengan wajah kesal.
"Gelang lu tu NORAK!" jerit Vanya mengejek gelang dari bunga milik Jura.
Vanya melihat kearah kami dan menaikkan alis serta bahunya secara bersamaan.
"Yaudah lanjut," sahut Izumi.
"Emang ini tugas dari siapa?" tanyaku sembari menyambungkan batang bunga yang satu dengan yang lainnya.
"Dari Pak Surya," jawab Ririna.
"Bukannya bisa merusak bunga ya?"sambung Izumi.
"Ini kan bunganya khusus, setiap tahun itu emang kita disuruh buat keterampilan dari bunga yang udah disiapin sama sekolah." jelas Ririna.
Aku mengangguk dan melihat kelihaian tangan Vanya dalam merangkai bunga dengan sangat mudah. Vanya memang sedikit pendiam, tapi Vanya lebih banyak tahu dari pada kami. Vanya juga paling berani diantara kami, Vanya seperti perisai kami yang siap melindungi. Kata-katanya kadang menyakitkan tapi Vanya tetaplah sahabat kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Us (On Going)
RomanceArabella Fransiska seorang gadis SMA yang menyukai manga dan anime dipertemukan oleh 3 cinta yang harus ia pilih. Arkan Denfara, Izumi Kyoto dan Agatsuki Kiyomo. Aku hanya bersembunyi dibalik rasa cintaku _Arkan Denfara_ Biarkan danau...
