Part 3. Langitku

103 16 27
                                        

Jogja 2016

Makam dengan nisan bernama Handoko Mahendra itu kini dihiasi bunga mawar merah dan putih. Sosok gagah yang masih berseragam putih lengkap dengan bagde dan celana hitam berjongkok di sampingnya.

“Pa, Ian datang sama calon mantu Papa yang cantik. Liat deh Pa, dia udah istiqomah sama jilbabnya. Cantik kan Pa?”

Arisa tersipu mendengar laki-laki itu memujinya.

Assalamualaikum, Pa,” ucap Arisa.

“Pa, sekarang aku udah bisa nerusin Papa. Aku udah bawa Mama jalan-jalan ke Bangkok, ke Dubai, ke Singapore, kayak dulu Papa ajak kami pakai pesawat Papa.”

Arisa mendengar getar suara dari laki-laki gagah di depannya itu. Dia tahu, pasti Julian merasa sangat sedih karena di saat dia bisa mewujudkan keinginan sang ayah meneruskannya menjadi pilot. Sang ayah sudah lebih dulu berpulang.

“Mas, Papa pasti bangga sama kamu.”

Julian mengusap air matanya, diusapnya nisan itu sebelum berdiri. Arisa ikut berdiri menyejajari sang kekasih yang kini merangkulkan tangan di bahunya.

“Eh gantengnya luntur kalau nangis,” ledek Arisa.

“Titip doa buat Papa ya,” lirih pemuda itu.

Arisa paham maksud Julian. “Selalu kok, aku selalu kirim doa buat Papa setelah salat. Aku ngajiin juga.”

Julian dan sang ibu memang berbeda keyakinan dengan sang ayah. Tetapi, kedekatan mereka dan keharmonisan rumah tangga keluarga Mahendra tak diragukan lagi. Handoko Mahendra, tak pernah memaksa sang putra untuk mengikuti jalan imannya. Hingga di akhir hayat pun, Handoko hanya berpesan pada Julian jika dia harus selalu menjadi sosok yang agamis, apapun kepercayaan yang dianutnya karena Tuhan sejatinya hanya satu, meski hamba-Nya memiliki cara berbeda untuk menyembah-Nya.

“Makasih, Sayang.”

Tatapan penuh cinta milik Julian selalu menjadi tatapan favorit yang dirindukan oleh Arisa.

“Sama-sama, Captain.”

“Kita ke Solo yuk? Aku mau ketemu sama Ayahmu, ada yang mau aku bicarain.”

“Ayah?”

Wajah Arisa mendadak berubah memucat. Tiga tahun dia menjalin kasih dengan Julian dan keluarganya menentang itu. Tak sekali dua kali Arisa dipaksa putus dan siancam oleh keluarganya sendiri, agar meninggalkan kekasihnya itu.

“Mas, tapi Ayah ....”

“Icha, kamu percaya sama aku. Aku bakal ngomong baik-baik sama Ayah dan Bundamu.”

“Tapi ... aku nggak mau kalau Ayah nyakitin Mas lagi. Aku takut, Mas.”

Arisa terisak.

“Aku nggak bisa terus menerus jadi pengecut, Icha. Aku cinta sama kamu dan aku akan memperjuangkan kamu. Aku mau ngomong sama Ayahmu. Aku serius sama kamu dan aku bakal nikahin kamu.”

Bayangan penolakan keluarganya atas Julian sudah memenuhi pikiran Arisa. Di sepanjang perjalanan, gadis itu tak henti berdoa agar Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kisah mereka.

“Mas aku takut, kalau kita disuruh putus lagi gimana?”

Julian tersenyum. “Sayang, berdoa aja. Jodoh nggak akan kemana, kok. Mau aku punya rute flight seruwet apapun. Aku bakal tetap mendarat di hati kamu.”

Kalimat manis dari sang pilot yang biasanya membuat Arisa tersipu, kini tak mampu meredakan ketegangan yang menguasai pikirannya.

“Mas, kita puter balik aja ya. Aku nggak mau pulang,” rengek Arisa.

UNMEI (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang