Jogja 2022
Mendung masih menggelayuti Jogja pagi ini, tetapi tak banyak berpengaruh pada gadis yang tengah berkendara dengan hati-hati menyusuri jalanan, Sabtu pagi ini. Motor matic buatan Jepang itu berhenti di depan gerbang yang masih terkunci. Gadis tadi mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang yang membuatnya menunggu sekitar lima menit sebelum pintu gerbnag terbuka.
"Biar aku yang masukin motornya."
Arisa mengacungkan jempol sembari mengambil plastik yang tergantung di motornya. Gadis itu membuka kardus yang dibawanya dan mengeluarkan korek api.
"Raz tolongin idupin."
"Ntar di dalem aja Mbak, kena angin mati dong."
Arisa akhirnya menurut, mereka masuk dengan langkah pelan agar tak begitu bersuara.
"Mas! Mas!" Faraz, setengah berbisik, membangunkan pemuda yang tertidur sembari memeluk mushaf di sofa itu.
Fabian membuka matanya, dia terkejut mendapati Arisa sudah sampai di sana. Sementara si gadis tadi tersenyum melihat pemuda yang masih mengenakan peci dan sarung itu.
"Buruan cuci muka sana, ayo kita kagetin Mama."
Fabian mengangguk kemudian pergi ke kamar mandi. Arisa dan Faraz perlahan menaiki tangga, sayup-sayup terdengar suara seseorang melantunkan ayat-ayat dari kitab suci. Faraz segera menghidupkan lilinnya tepat di saat Fabian menyusul mereka.
"Otanjoubi omedetou gozaimasu, Mama!" teriak Faraz dan Arisa kompak sembari masuk ke kamar wanita itu.
Tidak hanya Farah yang terkejut, laki-laki yang tidur di pangkuannya ikut menoleh dan bangun. Farah menyudahi kegiatan mengajinya, menutup kitab itu dan meletakkan di meja. Dua putranya mendekat dan memeluk sang ibu erat. Arisa ikut terharu melihat kebahagiaan keluarga itu. Bukan pertama kalinya dia menjadi saksi kebahagiaan keluarga Azwar. Sejak dulu, dia selalu ambil bagian dalam setiap perayaan ulang tahun anggota keluarga itu, meski delapan tahun terakhir, dia tak melakukannya.
"Arigatou," lirih wanita yang menangis haru itu sembari pasrah menjadi sasaran pelukan dan ciuman dari tiga laki-laki yang begitu menyayanginya.
"Mama Fara, make a wish dulu dong. Ini penggembiranya pegel di sini," seloroh Arisa.
"Dih, nggak ikhlas banget. Siapa suruh jadi kambing congek di situ? Pulang sono," decih Fabian.
Arisa terkejut, matanya mengerjap-ngerjap.
"Ian, jangan gitu ih." Farah menjewer telinga putra sulungnya.
"Udah, udah ayo tiup lilin. Keburu meleleh di kue itu," kata Faruk sembari mengecup kening istrinya.
Arisa maju mendekat, Farah menutup mata dan berdoa.
"Sebutin dong Ma doanya, kepo nih," kata Faraz.
Farah tersenyum. "Mama pengen kita semua bahagia, diberi kesehatan, keberkahan hidup, umur panjang nan berkah. Kalian dimudahkan kerjanya, sukses, dapat jodoh terbaik, diberi keturunan soleh solehah."
"Amiiiin," ucap keempat orang lain.
"Dan, semoga tahun ini doa Mama untuk punya anak perempuan diijabah."
"Eeee????!!!" teriak Fabian dan Faraz.
"Ma, Ian udah dua enam Ma! Faraz udah dua puluh mau dua satu loh."
Faruk ikut terkejut. "Kamu mau hamil lagi? Beneran?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Bukan gitu, Pa. Mama pengen punya mantu."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNMEI (END)
RomanceJatuh hati pada dua pria yang punya nama panggilan yang sama membuat Arisa terjerat rumitnya perasaan. "Ian pergi dan meninggalkanku begitu saja, kemudian Mas Ian datang dan menawarkan surga. Namun, aku kembali kehilangan Ian ku, dan Ian yang lain...
