"Bisa dibilang mengganggu orang yang ada !", ucap Ice yang sebenarnya mendengar percakapan mereka.
-
-
-"Thorn tak tau, saat itu Thorn juga melihat warna pada ramuan agak berbeda dengan yang punya Solar", jelas Thorn
"Apa Thorn ada tambahkan dikit kayak daun, buah, paku, soda ?", tanya Solar
"Hmm oh ya, Thorn ada tambahkan serbuk sari jeruk yang dikantin, agar rasanya tidak aneh", jawab Thorn lagi.
"Ohhh, umm Taufan, Firasatnya masih ada ?", tanya Solar ke Taufan yang masih mencari ketenangan.
"Agak dikit", jawab Taufan.
Bel berbunyi, tanda waktunya kembali ke kelas.
-
-
-
-
-
-Pada saat pulang, kembali ke Taufan
Dia merasa sudah tidak ada gangguan darinya.Taufan rasa efeknya sudah selesai.
Seseorang memanggilnya dan Taufan membalikkan badannya menuju suara tersebut."Boleh bantu aku sebentar ?", tanya Dina, tapi rasanya udah tidak berfirasat buruk lagi oleh Taufan. Taufan pun mengangguk kepalanya.
"ambilkan buku di atas lemari itu, soalnya aku tidak sampai", ucap Dina dengan membuat senyuman palsu kepasa Taufan.
Rencana yang sekarang dibuat oleh Dina, yaitu menusuk Taufan dari belakang.
Dia segera mengambil pisau kecil didalam tasnya, dengan perlahan menuju ke belakang Taufan.
"Eh buku yang mana, Dina ? Yang tebal atau tipis ?", tanya Taufan membalikkan kepalanya, serentak Dina menyembunyikan pisau tersebut yang masih tangannya, meletakan tangannya ke belakang
"Uhm yang tebal bukunya", jawab Dina
Taufan yang mendengarkan itu langsung membalik kembali kepalanya ke tempat semula, sambil mencari buku tersebut.
Dina segera mengeluarkan pisau kembali, dan langsung menarik dan mendorong pisau itu ke belakang Taufan.
Tetapi keberuntungan yang terjadi, Tangan Dina di tahan oleh seseorang yang dia jatuh cinta, Gledek. Hali menahan tangan Dina yang hampir ingin menusuk Taufan dibelakang, pisau tersebut hampir 3 inci dari punggung Taufan, memang tepat waktu
Dina langsung serentak dan melepaskan tangannya yang sebelumnya ditahan oleh Hali, rasa yang malu ditambah dengan kesal karena Hali menggagalkan rencananya.
Taufan yang penasaran apa yang Dina lakukan, langsung menghadap ke belakang , alangkah terkejutnya tiba-tiba Hali disini dan Dina masih memegang pisau kecil.
Karena Taufan berpositif thinking, dia pun bertanya
"Kalian sedang buat apa ? Potong rambut ?", tanya Taufan dan mereka terdiam bagaikan patung yang berdiri selama 24 jam.
"Uhh, oke.. Nah Dina, ini bukunya", ucap Taufan segera memberikan buku yang diminta oleh si Dina, dan Dina hanya mengangguk kepalanya.
Taufan pun beranjak untuk segera ke rumah.
Hali juga pergi meninggalkan si Dina yang masih berdiam
Setelah Jarak diantara dia dan Hali sudah sangat jauh, dia pun berteriak kencang, kerena rencanannya gagal lagi, dan juga dihentikan oleh orang yang sama.
Dia pun membanting semua barang yang ada dikelas, seperti spidol, barus, vas bunga, hingga kursi dan meja juga dia tendang
/harus diganti kalau hancur/"Hoi hoi hoi ! Tenang lah sikit, kayak kerasukan aja", ucap Gopal yang tadinya melihat aksi tersebut dan segera pergi.
"Itu siapa ??", tanya Fang yang berada di samping Gopal

KAMU SEDANG MEMBACA
Our Life
AcciónMenceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Taufan pindah ke sekolah lainnya, disebabkan kasus pembulian yang menyebabkan ia tidak tenang dan hampir stress 'ntahlah' Tetapi kehidupannya telah berubah saat dia berada di sekolah barunya Karakter...