Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita hanya fiksi.
*
*
*
Masih dengan jadwalnya kemarin, siang ini Didi kembali mengitari desa. Kali ini dia mencoba berjalan lebih jauh dan berbelok beberapa kali.
Didi memang agak sulit mengingat jalan tapi hari ini dia yakin tidak akan tersesat. Karena jalanan desa lebih mudah diberi patokan ketimbang jalanan kota yang hampir mirip di setiap persimpangan.
Setelah melewati kebun pisang Didi berbelok. Dari jauh tampak kebun kopi yang sangat luas. Beberapa penjaga kebun terlihat memeriksa pohonnya. Mungkin untuk mengira-ngira apakah buahnya sudah bisa dipanen atau belum.
Tapi tunggu, ada seorang penjaga yang terlihat familiar di mata Didi. Laki-laki berpostur tinggi dan tegap. Ah tentu saja! Bagaimana mungkin Didi lupa, itu si prince charmingnya desa.
Didi terkikik geli dengan julukan yang dia berikan sendiri. Terdengar sedikit tidak cocok. Tapi biar saja, julukan itu hanya dia sendiri yang tahu.
Pria yang Didi tidak tahu namanya itu berdiri sambil tersenyum manis pada seorang perempuan. Di tangannya terdapat benda seperti tempat makan.
Sepertinya si perempuan adalah kekasih si lelaki. Jika bukan, untuk apa perempuan itu repot-repot mengantarkan makanan. Kira-kira bagaimana ya reaksi para penggemar laki-laki itu saat tahu idola mereka sudah punya pacar. Apa wanitu itu akan di bully seperti netizen penganut idol is mine?
Meninggalkan tempat itu Didi kembali berbelok di ujung jalan. Lurus lalu berbelok lagi ke arah kanan. Kemudian dia menemukan jalan setapak. Kanan kiri terdapat banyak pepohonan rindang, hampir seperti hutan.
Didi mengikuti jalan setapak itu. Tidak jauh dia menemukan sungai kecil yang airnya sangat jernih. Di pinggirnya ada bebatuan cukup besar. Didi menatap kagum pada pemandangan di depannya. Perlahan Didi turun untuk duduk di salah satu batu.
Sayang sekali dia sendiri di sini, jika membawa teman Didi pasti akan menyuruh untuk memotret dirinya dengan latar pemandangan indah di belakang.
Menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Udaranya sangat bersih serta sejuk. Benar-benar tempat yang tepat untuk meningkatkan imun.
Setelah cukup lama berada di sana sendiri, Didi melihat ada seseorang yang juga datang. Jarak mereka tidak begitu jauh. Dan entah kebetulan macam apa, orang itu adalah si prince charming. Dia ke sungai untuk membasuh tangan dan kakinya. Sepertinya dia sudah selesai bekerja.
"Kang! A'... eh, Mas!" Panggil Didi dengan berbagai macam panggilan. Tidak yakin bagaimana harus memanggil pria itu.
Si pria datang menghampiri Didi yang memanggilnya dengan lambaian tangan. "Ada apa ya, mbak?"
Kini Didi tahu mengapa perempuan di sini suka pada pria ini. Dia tampan. Sungguh! Didi biasanya sangat pemilih untuk menyebut seorang pria dengan sebutan tampan. Tapi sekarang Didi mengakui jika pria ini good looking.
"Boleh minta tolong?"
"Apa itu, mbak?"
"Tolong fotoin saya, dong." Didi memasang senyum termanis miliknya. Tak lupa membuat matanya berbinar agar pria di depannya mau mengikuti permintaannya.
"Baik, mbak."
Didi tersenyum senang. Untung saja ada si prince charming. Dia jadi bisa berswafoto. "Ini, mas." Didi memberikan ponselnya yang sudah menampilkan aplikasi kamera.
Pria yang Didi tidak tahu namanya menerima ponsel. Didi pun bersiap bergaya.
"Tapi, mbak..." tahan si pria. Menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Ini gimana cara pakainya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cukup Hanya Dirimu
General FictionNiatnya Didi datang ke kampung ini hanya ingin berlibur, setelah lelah bertahun-tahun menjadi budak korporat. Juga sebelum dia beralih menjadi babunya Arman. Tapi baru dua hari di sini Didi malah dinikahkan! Dengan prince charming idola para wanita...
