Bab 7 | Preman Kampung

6 0 0
                                        

Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita hanya fiksi.

*
*
*

Hidup di kota dan desa memang berbeda. Di kota semua bisa didapatkan dengan mudah. Toko bahan makanan, minimarket, sampai mall yang menyediakan berbagai kebutuhan dalam satu tempat.

Jika malas memasak di rumah, berbagai restoran, warung dan cafè bisa disinggahi. Dari makanan tradisional hingga yang khas negara lain.

Untuk mencari hiburan kota besar menyediakan bioskop dan club malam. Itu yang biasa Didi cari. Sepaket dengan alkohol di dalamnya.

Namun sudah tiga bulan ini dia tidak merasakan minuman memabukkan itu. Terakhir dimalam setelah dia meninggalkan pekerjaannya. Seminggu sebelum datang ke desa ini.

Memang sekarang dia tidak sedang penat dan stres. Jadi tidak terlalu membutuhkan alkohol. Hanya rindu ingin merasakannya saja.

Dulu Didi kira dia tidak akan sanggup hidup di desa seperti ini. Tanpa ada mall dan lainnya. Dia memang sangat menyukai suasana sejuk dan damai, sawah serta ladang, juga perkebunan. Tapi Didi pikir itu hanya dibutuhkan untuk liburan, bukan untuk ditinggali.

Lalu tanpa diduga dia (sebelumnya) terpaksa tinggal di sini. Kemudian menjadi istri. Tidak begitu buruk, justru dia bisa menikmati.

Didi memasuki kamar setelah mandi. Meski tinggal di desa, dia tidak lupa dengan skincarenya. Peralatan perawatan kulit wajah itu disimpan pada meja samping tempat tidur.

Setelah memakaikan masker pada Arya tempo hari, Didi menyuruh suaminya ikut menggunakan skincare. Tapi pria itu menolak. "Aku gak biasa pakai-pakai yang seperti itu. Muka ku nanti keliatan aneh." Katanya saat itu. Memang sih, skincare milik Didi untuk kulit wanita. Mungkin nanti Didi akan membelikan Arya perawatan khusus wajah pria.

Selesai dengan urusan wajahnya, Didi mengambil ponsel. Sudah lama juga tidak memeriksa keadaan media sosial dan perkembangan ibukota.

Didi sudah rapi, berniat pergi ke saung agar notifikasi bisa masuk. Tidak lupa mengunci rumah agar tidak ada yang masuk. Arya sudah pergi bekerja sejak pagi tadi.

Keadaan sepi karena orang-orang pasti sedang sibuk di ladang atau rumah mereka sendiri. Didi duduk sendiri di saung itu. Tempat dia digrebek bersama Arya.

Setelah data seluler hidup, notifikasi berebut masuk. Kebanyakan dari aplikasi pesan, beberapa teman yang sadar Didi menghilang mulai bertanya melalui pesan.

Pertama-tama Didi membuka media sosial. Banyak teman yang menandainya di postingan atau kolom komentar. Namun ada satu yang menarik perhatian Didi.

@mahardikachristian
Cantik ❤

Pada foto terakhir yang Didi posting. Foto saat di sungai. Pujian itu disertakan bersama emotikon hati. Orang itu berkata cantik padahal wajah Didi tidak begitu terlihat karena posenya tidak menatap kamera.

Lalu sebuah pesan datang.

Arman H. Santoso: dika nyariin lo ke gw. lu gak blg sama dika kl lo pergi?

Divya Hardana: enggak. Cuma lo yg tw kalo gw pergi

Arman H. Santoso: jadi gw musti ngomong apa nih ke dy?

Divya Hardana: gak ush di bls
Divya Hardana: btw gmn keadaan jkt?

Arman H. Santoso: lock down udh dilonggarin. Org dr luar boleh masuk.

Divya Hardana: jadi cafè lanjut?

Arman H. Santoso: lanjutlah. Kan biar lo ada kerjaan. Biar lo gk jobless.

Cukup Hanya DirimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang