Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita ini hanya fiksi.
*
*
*
Pandangan mata seorang wanita muda memindai isi kamarnya. Berpikir kira-kira apa yang akan dibawa.
Setelah bertahun-tahun menjadi budak korporat, kini wanita yang akrab dipanggil Didi itu akan berlibur. Seminggu yang lalu dia resign dari perusahaan periklanan tempat dia bekerja sejak usia tujuh belas.
Tidak ada lagi tanggung jawab bangun pagi lalu masuk kantor tepat waktu. Sekarang dia bebas. Recananya adalah dia akan menenangkan pikiran selama sebulan di luar kota. Di sebuah desa di Jawa Barat tepatnya. Kemudian dia akan bekerja mengurus cafè milik Arman, sahabatnya. Namun cafè tersebut belum dibuka. Masih dalam proses renovasi. Itu sebabnya dia memanfaatkan waktu untuk berlibur.
Merasa sudah tidak ada lagi yang tertinggal, Didi menutup tasnya. Meletakkan di samping pintu kamar. Besok dia akan berangkat dengan mobil travel. Didi mengetahui tempat yang akan didatangi juga dari temannya yang bekerja di travel tersebut.
Jika orang lain suka berlibur ke Korea, Amerika, atau Paris. Maka lain pula dengan Didi. Dia lebih memilih healing di desa yang sejuk serta asri.
Karena sangat bersemangat untuk pergi besok, dia jadi tidak bisa tidur hingga larut. Membayangkan akan meninggalkan kamar ini selama sebulan.
Didi tidak tahu bagaimana keadaan di sana. Apa dia bisa beradaptasi atau tidak. Bagaimana pun dia tidak tinggal hanya untuk sehari, dua hari.
Malam terlewat begitu cepat. Setelah Didi terlelap pukul satu pagi. Karena tidur lebih larut, membuatnya bangun agak siang.
Jam sepuluh pagi Didi turun dari lantai dua, bi Aini sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Mbak Didi berangkat jam berapa?"
Menelan roti yang dia kunyah, Didi menjawab. "Jam sebelas, bi." Melirik jam tangan kecil di pergelangan tangannya. "Ini udah jam sepuluh lewat. Bentar lagi saya jalan."
"Beneran gak mau bibi temenin ke sana, Mbak?" Aini memberi penawaran. Tidak tega juga membiarkan 'Nona'-nya ini tinggal sendiri di tempat asing.
"Gak apa-apa, bi. Saya sendiri aja. Bibi gak inget dulu saya sering camping pas ikut pramuka? Kalau tinggal di desa gini aja sih, kecil, bi."
Perempuan paruh baya itu menghampiri, menuangkan jus di gelas untuk Didi. "Tapi tetap aja bibi khawatir, mbak. Itu kan kampung orang, kalau mbak Didi kenapa-kenapa, gimana?"
"Percaya sama saya, bi." Didi menggenggam tangan perempuan kesayangannya -setelah ibunya- itu, menenangkan. "Saya bisa sendiri di sana. Lagian kalau bibi ikut, nanti pak Eko cari istri baru gimana?" Candanya.
"Kalau dia berani cari yang baru, bibi potong habis aja punya dia." Didi terbahak mendengar ocehan pembantunya itu.
Bi Aini dan suaminya, sudah bekerja untuk keluarga Didi sejak dia berusia lima tahun. Itu sebabnya Didi sangat dekat dengan mereka. Dan setelah kedua orangtuanya meninggal, mereka yang diandalkan untuk menjaga Didi.
Bagaimana dengan keluarga dari orangtuanya? Ayah Didi anak tunggal, sedangkan ibu Didi punya kakak laki-laki namun lebih mementingkan urusannya sendiri. Itu sebabnya Didi tidak dekat dengan mereka.
Untunglah ada bi Aini dan pak Eko, yang sudah Didi anggap seperti saudara kandung. Mereka sudah menganggap Didi seperti anak sendiri karena mereka belum dikaruniai keturunan.
Sebelum jam sebelas mobil yang menjemput Didi sudah datang. Dibantu oleh bi Aini dan pak Eko, Didi memasukkan koper dan dua tasnya ke bagasi mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cukup Hanya Dirimu
Fiksi UmumNiatnya Didi datang ke kampung ini hanya ingin berlibur, setelah lelah bertahun-tahun menjadi budak korporat. Juga sebelum dia beralih menjadi babunya Arman. Tapi baru dua hari di sini Didi malah dinikahkan! Dengan prince charming idola para wanita...
