Bab 12 | Menikah Lagi

10 1 0
                                        

Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita ini hanya fiksi.

*
*
*

Sejak beralih dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga, Didi mulai terbiasa berbelanja bahan makanan sendiri. Dulu hal itu hanya dilakukan Bi Aini, dia hanya memberikan uang lalu wanita paruh baya itu yang melakukan sisanya. Didi juga tidak tahu dimana Bi Aini berbelanja. Yang jelas jika uang itu habis dia akan memberikan lagi.

Tapi kini Didi yang melakukan semuanya. Berbelanja sayuran, ikan, lalu memasak. Seperti sekarang ini, dia sedang memilah cabai dan beberapa jenis sayur di warung dekat rumahnya.

Ada tiga orang pembeli lain selain Didi. Bu Lastri, Bu Ratna, dan seorang lagi yang Didi tidak tahu namanya tapi sepertinya pernah dia lihat.

"Eh... bu, denger-denger si Tari anaknya juragan Mulya lagi hamil." Mulai wanita dengan daster batik dan berjilbab maroon itu. Bu Ratna, orang yang dulu mengatai Didi wanita tidak baik.

Aih! Sebenarnya Didi malas mendengarkan namun apa daya ikan yang dia beli belum selesai dipotong. Terpaksa dia menunggu. Dan dengan tidak rela telinganya tercemar gosip.

"Kok bisa? Dia 'kan belum nikah?" Sambung si pemilik warung. Diikuti nada yang sama dari dua orang lain. Kecuali Didi tentu saja.

"Yah biasalah bu, anak-anak jaman sekarang. Pergaulannya suka kebablasan. Kayak orang kota." Si Ratna ini melirik Didi dengan ekor matanya.

Jangan pedulikan dia, Di. Tidak perlu marah, kamu tidak seperti yang dia katakan.

Didi tetap diam. Mengabaikan ibu-ibu tukang gosip itu. Dia melihat ikan miliknya sudah mulai dipotong. Ah! Syukurlah. Sebentar lagi belanjaannya akan dihitung dan dia bisa segera pulang.

"Trus yang ngehamilin si Arya!"

Deg!

Jantung Didi berdetak cukup kencang mendengar nama suaminya dibawa-bawa. Menghamili perempuan lain? Yang benar saja! Mana mungkin Arya seperti itu. Untuk menyentuh Didi saja, Arya jarang meminta, apalagi untuk meniduri anak Juragan Mulya.

Arya tidak mungkin melakukannya. Iya, 'kan?

Mereka yang menggosip di depan orangnya langsung semakin semangat melihat wajah Didi yang mulai agak cemas. Memikirkan kemungkinan gosip itu benar atau tidak.

"Kalau gitu neng Divya bakal punya madu dong," bu Diah pemilik warung mulai ikut serta. Masih sempat-sempatnya meski tangannya sibuk memasukkan sayuran ke dalam kantong sembari menghitung harganya.

Inilah yang Didi tidak suka dari berbelanja di kedai seperti ini. Terlebih kedai yang sedang dipenuhi ibu-ibu. Durasi mereka bergosip lebih lama daripada belanja.

"Kalau saya jadi neng Divya sih, gak apa-apa dimadu. Lagian Arya kan ganteng, gak mungkin dong istrinya cuma satu."

Ingin sekali Didi meratakan mulut orang-orang di depannya ini. Kantong yang berisi belanjaan diserahkan bu Diah padanya. "Jadi bener Arya mau nikah lagi, neng?"

"Yah kan mending kita nanya langsung ke orangnya 'kan, ibu-ibu? Dari pada ngegosip trus gak bener jatohnya jadi fitnah." Sambung bu Ratna.

Semakin geram Didi dibuatnya tapi jika dia marah mereka akan semakin senang dan menjadi-jadi. Tidak! Didi adalah orang yang pintar menyembunyikan amarahnya. Lagipula itu tidak benar, untuk apa dia marah.

Mengehela napas agak panjang guna meredam emosi. Kemudian Didi menyerahkan selembar uang berwarna merah pada bu Diah.

"Kembaliannya jadi tujuh puluh tujuh ribu ya, neng."

"Kembaliannya ambil aja, bu. Gak apa-apa. Buat kalian nanti beli gorengan sama es campur biar makin enak ngegosipin suami saya." Kata Didi sambil tersenyum sangat manis. Kemudian Didi melangkah menuju rumahnya, diiringi bisik-bisik yang tidak terlalu pelan berasal dari para penggosip itu.

Di rumah dia meletakkan belanjaan di dapur. Sialnya kembali memikirkan ucapan grup gosip tadi. Bagaimana jika itu benar?

Kesempatan mereka untuk tidur bersama sangat besar. Tentu saja pada masa panen kopi sebulan lalu. Arya beberapa kali pulang larut bahkan menginap di rumah juragan Mulya. Tempat dimana Tari juga ada.

Mereka bisa melakukannya saat itu. Tari yang memang menyukai Arya mungkin akan menggodanya meski Arya sudah beristri. Dan kucing mana yang tidak tertarik disuguhkan ikan segar di depannya.

Apa-apaan sih kamu, Di?! Arya itu laki-laki baik! Mana mungkin dia tega mengkhianati kamu. Dia cinta banget sama kamu. Lagian lebih cantik kamu dari pada si Tari itu. Dia cuma menang anak juragan disini.

Ya, benar! Tidak seharusnya Didi terpengaruh. Sudah semestinya dia percaya dan yakin Arya akan setia padanya. Pria itu tidak akan mendua apalagi sampai menikah lagi.

*
*
*

Rumah Arya dan Didi masih terang karena listrik belum padam dari server. Wanita itu merapikan pakaian yang siang tadi dia setrika ke lemari. Sesekali melirik suaminya yang sedang salat isya. Arya melakukannya sendiri karena tadi Didi sudah melaksanakan kewajibannya duluan.

Otaknya masih saja memikirkan kemungkinan itu. Tentang Arya dan Tari. Berpoligami memang tidak dilarang tapi, Didi bukannya golongan wanita yang rela berbagi. Lebih baik dia melepaskan daripada melihat suaminya bersama dengan perempuan lain.

"Di, aku mau ke rumah juragan Mulya dulu ya." Arya menghampiri Didi. Meletakkan sarung yang tadi dia pakai ke meja kecil di samping lemari.

"Mau ngapain lagi ke sana?" Didi bertanya terdengar tidak senang.

"Ada urusan."

"Urusan apa malam-malam begini? Bukan urusan tentang Tari, 'kan?"

Bahu Arya tampak sedikit menegang. Dan itu tidak luput dari pandangan Didi. Pria ini pasti terkejut karena Didi tahu maksud kepergiannya menuju rumah pemilik kebun itu.

"Kenapa jadi Tari? Aku ke sana untuk urusan kebun. Kamu ini jangan bicara aneh-aneh, Di." Nada yang dikeluarkan Arya lain. Seperti marah di telinga Didi.

"Aneh-aneh gimana? Jujur aja deh, Ar. Kamu ada main sama si Tari itu, 'kan?! Dan malam ini kamu mau nemuin dia, iya, 'kan?!"

"Kamu makin ngelantur." Arya tidak ingin pertengkaran ini semakin berlanjut. Memutuskan segera pergi menuju rumah bosnya.

Didi mengikuti Arya sampai ke ruang depan. Menarik lengan pria itu agar berbalik menatapnya. Enak saja dia pergi sementara pembicaraan mereka belum selesai. Sungguh Didi tidak suka hal itu.

Saat ada masalah malah menghidar. Itu bukan Didi. Dia lebih suka masalah diselesaikan saat itu juga. Agar tidak berlarut-larut. Tapi sepertinya Arya tipe orang yang lebih suka lari dari masalah.

"Kita belum selesai bicara, Arya." Menatap  mata suaminya dalam. Tidak tampak kebohongan di sana tapi, Didi butuh pernyataan langsung dari suaminya, bukan hanya mengira-ngira.

"Jujur sama aku, malam-malam saat kamu bilang mengurus kebun yang sedang panen, kamu juga bersama Tari waktu itu, 'kan?"

"Di, bisa kita bicarakan ini nanti? Aku harus pergi, juragan Mulya nungguin aku." Firasat Arya mengatakan pembicaraan ini pasti memakan waktu lama. Dia harus segera pergi.

Mendengarnya Didi langsung melepaskan tangan Arya. Kadar rasa percayanya pada sang suami menurun. Meski masih tersisa sedikit, itulah yang menjadi pegangan Didi untuk bertahan. Menanti penjelasan dari Arya.

"Kita harus segera menyelesaikan masalah ini, Ar." Kalau tidak, aku bisa melakukan sesuatu yang kamu nggak akan nyangka aku bisa melakukannya.

"Aku pergi dulu, assalamualaikum." Arya pergi begitu saja. Tanpa ciuman atau pelukan yang biasa dia beri pada istrinya.

*
*
*

To be continued...

With love,
Babu Bohay.

Cukup Hanya DirimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang