Bab 10 | Pakai Uangku Aja

15 1 0
                                        

Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita hanya fiksi.

*
*
*

Malam hampir datang. Langit berwarna oranye menandainya. Warga kampung satu persatu pulang ke rumah. Membersihkan diri yang lelah seharian mengurus kebun, ladang, ataupun sawah milik mereka.

Ada pula yang pulang mengendarai sepeda motor guna membawa hasil ladangnya. Hanya beberapa orang yang mempunyai kendaraan di kampung ini. Seperti Mulya, si pemilik kebun kopi, dia memiliki motor dan dua mobil. Pun dengan Pak Fauzi dan Bu Ida. Bos Arya itu memiliki sebuah mobil dan truk.

Melihat itu Didi tidak iri. Dia juga punya sebuah mobil di kota. Dia tidak memerlukan kendaraan karena menurutnya, hakikat tinggal di desa adalah untuk menjauh dari benda penyebab polusi itu.

Yang membuat Didi agak kesulitan yaitu akses listrik. Dia membutuhkan listrik untuk bisa sering-sering mengisi ulang baterai laptopnya. Belakangan Didi menggunakan komputer portable itu untuk menonton drama Korea yang sudah dia download beberapa bulan lalu saat masih di rumahnya.

Didi seorang penggemar drama Negeri Ginseng itu. Pengusir bosan selagi menunggu suaminya pulang dari kebun.

Selagi listrik masih menyala, Didi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengisi daya hidup laptopnya. Dia pun mulai menyiapkan makan malam. Sebentar lagi Arya akan pulang.

Setelah tubuhnya bersih dan sudah bersuci maka Arya akan mengimami Didi salat. Kegiatan yang mulai disukainya. Namun kadang Arya akan pergi salat di surau.

Lampu kecil di laptop Didi berubah warna menjadi biru. Telat setelah mereka selesai makan malam. Seperti biasanya, Arya membawa bekas makan mereka ke dapur dan akan mencucinya besok pagi.

Mempunyai suami yang bersedia membantu istri melakukan pekerjaan rumah adalah sebuah anugerah. Memang benar. Didi pun bersyukur memiliki Arya. Kini pria itu adalah dunianya. Membuat Arya bahagia dan nyaman adalah tujuan Didi sekarang.

Bunyi kabel yang dilepaskan dari stop kontak terdengar. Didi lalu menyimpan kabel dan laptopnya pada tempat semula. Keluar dari kamar dia menghampiri Arya yang sedang duduk sambil meluruskan kaki, beristirahat.

"Capek, sayang?" Ikut duduk, mulai memijat tangan kekar suaminya itu. Tangan yang sudah enam bulan ini memberinya nafkah.

Arya perlahan menyuruh Didi berhenti memijat, dia tahu istrinya pun sama lelah karena mengurus rumah.

"Nggak apa-apa. 'Kan aku yang mau." Kata Didi lagi. Akhirnya Arya membiarkan saja.

"Karena udah mau panen, jadi kerjaan aku nggak begitu banyak tadi. Cuma bersih-bersih kebun aja."

Didi mengangguk. Sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu tapi takut Arya tersinggung. "Hmm... Ar," dia tampak ragu.

"Ya, kenapa, sayang?"

"Gimana kalau kita renovasi rumah?"

"Renovasi? Memang rumah kita kenapa? Kan masih baik-baik aja."

"Ya biar lebih bagus dan nyaman aja. Kita buat rumahnya jadi minimalis gini, Ar." Didi mengeluarkan ponsel. Membuka gallery foto, memperlihatkan gambar-gambar desain rumah minimalis modern yang memang dia simpan untuk referensi jika merenovasi rumah nanti.

Menunjukkan pada sang suami dengan semangat, "keren, 'kan? Ntar kita juga beli tv baru, kulkas, sofa, dan prabotan lain biar ruangannya gak keliatan kosong banget."

Air muka Arya sedikit berubah namun belum Didi sadari. Dia tentu ingin memenuhi semua permintaan istrinya. Tapi uangnya tidak sebanyak itu untuk melakukannya sekaligus.

"Nanti ya, Di. Uangku belum cukup buat renovasi rumah." Demi menyulap tempat tinggal mereka pasti memerlukan dana yang besar. Tabungan Arya memang ada namun, bukan untuk dihamburkan.

"Aku ada!" Sahut Didi cepat. "Pakai uangku aja ya."

Arya menghela napas panjang. Ada yang terasa tercubit dalam dirinya. Ego Arya. Dia pun lelaki biasa. Sebagai kepala rumah tangga, Arya mau dialah yang memenuhi semua keinginan istrinya, dengan uangnya sendiri. Bukan uang Didi.

"Aku pasti akan memenuhi permintaan kamu, Divya. Tapi nanti ya. Kita berhemat dan uangnya ditabung untuk renovasi." Kata Arya mengulangi dengan nada agak tegas supaya Didi mengerti.

Wanita itu mengerjap. Sedetik kemudian paham maksud suaminya. Dia tidak mau menggunakan uang milik Didi. Padahal Didi tidak keberatan untuk itu.

Masih mencoba merayu, Didi berucap lagi. "Ayolah, Ar. Nggak apa-apa kok pakai uangku. Kan buat kita juga. Buat kamu. Aku mau kamu bahagia dan nyaman." Dia mengusap pipi Arya dengan ibu jari.

"Untukku, atau untuk diri kamu sendiri?"

Deg!

Itu benar. Sebenarnya untuk Didi. Dia berlindung dibalik kalimat 'supaya Arya nyaman'. Padahal dialah yang menginginkannya. Membuat rumah Arya nyaman untuknya seperti rumah Didi di Jakarta. Mengingat untuk selamanya Didi akan tinggal di desa ini.

Menurunkan tangan dari wajah suaminya, Didi menunduk lalu berucap maaf. "Ya, memang untukku. Maafin aku."

"Nggak apa-apa. Kita akan renovasi pelan-pelan. Sabar ya, sayang." Arya memeluk bahu Didi. Menyandarkan kepala sang istri ke dadanya lalu mengecup puncak kepala Didi.

Lama mereka dalam posisi itu, Arya mengalihkan pembicaraan. "Biasanya kamu nonton Oppa-Oppa kesukaan kamu itu. Kok sekarang nggak nonton?"

Pria itu mulai tahu beberapa istilah dalam bahasa Korea. Kadang dia mendengar Didi menyebut kata itu saat menonton, Arya bertanya apa artinya.

"Oppa artinya kakak laki-laki, tapi yang manggil harus perempuan. Bisa juga panggilan buat pacar." Kata Didi saat itu.

"Jadi aku ini Oppa kamu?" Kata Arya. Entah kenapa terdengar agak lucu ketika Arya yang mengatakannya.

Didi tertawa, "ya enggak lah, Ar. Kamu bukan 'Oppa', tapi kamu Arya Risjad yang paling ganteng, suaminya Divya Hardana." Dia semakin tertawa karena Arya yang tersenyum malu dan wajahnya tampak memerah. Akhirnya Didi menghadiahi kecupan di bibir pria itu.

Wanita yang Arya peluk ini menggeleng. "Lagi pengen sama kamu." Katanya manja.

"Di kamar?"

Badan Didi langsung tegak mendengarnya. Kini Arya sudah mulai terbiasa memberi kode. Belum dalam tahap berkata dengan frontal. Berbeda dengan Didi, dia selalu meminta secara langsung.

Karena sudah tahu bagaimana rasanya, Didi selalu bersemangat ketika Arya meminta. Dia tidak tahu apa wanita lain seperti dirinya juga atau tidak. Yang jelas Arya menyukai tingkah Didi yang kadang agresif.

"Kalau aku mau di sini, gimana?"

Arya terkekeh, "udah gak sabar banget kamu?"

"Kalau tentang kamu, aku selalu gak sabar." Didi mendekatkan wajahnya. Berbisik seduktif.

Menarik pinggang istrinya mendekat, Arya mengulur waktu lagi. Membuat Didi semakin tidak sabar. "Di kamar aja ya?"

"Oke. Tapi aku yang diatas ya?"

Arya mengangkat tubuh Didi dengan menaruh tangan di bawah lutut Didi dan punggung wanita itu. "Tentu."

Ah! Berdekatan dengan Arya membuat otak mesum Didi ada di mode aktif. Salah Arya kenapa pria ini begitu menggiurkan. Kesukaan Didi adalah meraba-raba otot perut Arya selagi pria itu sibuk menggerakkan pinggulnya naik turun.

Tapi Didi akan memimpin malam ini. Dia akan melakukan apa yang dia mau. Dan Arya harus pasrah dibawah permainannya.

*
*
*

With love,
BabuBohay.

Cukup Hanya DirimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang