Bab 9 | Aku Mau Punya Anak

19 0 0
                                        

Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita hanya fiksi.

*
*
*

Sebelum pulang Arya dan Didi memberikan selamat pada pengantin. Sekalian meminta maaf karena membuat sedikit keributan. Untung saja tadi belum banyak tamu yang datang, jadi tidak banyak yang tahu pertengkaran itu.

Diperjalanan menuju rumah mereka melewati rumah Lilis. Pintunya tertutup rapat. Anak maupun ibu wanita itu juga tidak terlihat.

Ya, Lilis adalah seorang janda. Suaminya dulu bekerja di kota, namun saat anak Lilis berusia setahun suaminya meninggal karena kecelakaan.

Sementara ibu Lilis sudah sepuh. Kini mereka bertahan hidup dengan menjual beberapa hasil ladang mereka.

Beberapa warga kampung ini menyebutnya 'janda gatel' karena sering menggoda Arya. Pria itu pun sebenarnya sungkan tapi kalau hanya dengan ucapan atau pemberian, tak apa. Arya maklum. Tapi kalau sudah bersentuhan fisik, dia akan segera menjauh.

Namun kali ini Lilis sudah sangat keterlaluan. Apalagi mengatai orang lain mandul. Kalaupun yang disebut mandul bukan Didi, Arya akan tetap memperingatkannya seperti tadi.

Lilis pikir karena selama ini dia merasa dekat dengan Arya, dia bisa berkata seenaknya. Itu tidak akan terjadi. Arya akan melindungi istrinya dari siapun dan apapun.

"Sayang, kamu tadi keren banget sih pas belain aku dari si Lilis" Didi datang memeluk leher Arya dari belakang, menyandarkan dagunya pada bahu Arya. Sementara pria itu duduk di tepi kasur, melipat sajadah yang dia pakai salat isya tadi.

"Kamu panggil aku apa, Di?"

"Sayang. Gak boleh memangnya manggil kamu, 'sayang'?"

"B-boleh kok." Arya tergagap. Dia merasa Didi semakin membuka diri padanya. Arya tentu senang dengan itu.

"Ih liat tuh, muka kamu jadi merah gitu kayak tomat busuk." Canda Didi lalu tertawa. Listrik masih hidup, jadi Didi masih bisa melihat wajah Arya dengan jelas. "Walaupun badan kamu gede dan berotot, kamu itu cute banget tau, Ar." Didi gemas mencubit pelan pipi suaminya.

"Kiyut? Apa itu, Di?" Tanya Arya dengan pelafalan yang lucu. Membuat Didi semakin tertawa.

"Bukan 'kiyut', Ar. Tapi cute. Ngomongnya jangan diperlambat, sayang. Cute itu artinya imut. Kamu imut kayak boneka beruang gede." Didi kembali terkikik. Semenyenangkan ini menjahili suaminya.

"Apapun sebutanmu untukku, aku terima, Di. Kalau kamu senang, aku pun ikut senang." Tangannya terangkat mengusap surai Didi.

"Sweet banget sih, suamiku ini. Si boneka beruang gede." Lalu mengecup pipi kanan Arya.

Lama mereka terdiam masih dengan posisi memeluk Arya, Didi mulai mengutarakan keinginannya. Jari-jarinya bermain di dada Arya yang masih terlapisi kaus. "Ar, aku pengen deh punya satu yang kayak Syifa. Tapi yang mirip kamu."

"Kayak Syifa? Maksudnya anak Farhan?"

Mengangguk semangat lalu melanjutkan, "Iya, yang mirip kamu dan punya kita sendiri. Kamu paham, 'kan?"

Arya tak langsung menjawab. Dia tahu maksud dari ucapan istrinya, yaitu punya anak. Tapi kalau mau punya anak kan harus...

"Kamu mau kita punya anak, Di? Kamu kepikiran omongannya Lilis?" Arya tidak menunjukkan rasa hormat lagi meski Lilis lebih tua.

"Enggak! Bukan karena dia. Sebelum dia ngomong gitu, aku juga udah kepikiran."

"Tapi kalau mau punya anak kita harus melakukan..."

Cukup Hanya DirimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang