Bab 4 | Arya si Pria Idaman

15 0 0
                                        

Karena aku lagi seneng banget karena Indonesia menang Thomas Cup, aku update double hari ini hahaha

Walaupun mereka gak baca tapi, aku mau ucapin terima kasih atas perjuangan para atlet olahraga yang sudah membanggakan dan membawa harum nama negara. Kalian semua pahlawan kami.

Terima kasih Minions, Ginting, Jojo FajRi, ko Hen, Babah, Sesar, Daniel, coach Naga Api, dan coach tunggal putra saya gak tau namanya 😁✌

Sekali lagi terima kasih sudah berjuang. Kami bangga pada kalian semua.

With love,
BabuBohay.

Alur, tempat, dan instansi yang disebutkan dalam cerita ini hanya fiksi.

*
*
*

Sore saat hari hampir berganti jadi malam, Arya pulang. Dia mengucap salam yang tidak dihiraukan Didi.

Wanita itu duduk berselonjor di ruang depan. Punggungnya disandarkan ke dinding. Memainkan ponsel yang Arya tidak tau isinya apa.

Arya masuk ke dalam rumah. Membersihkan diri lalu lanjut menunaikan ibadah. Selesai salat dia menghampiri Didi, "sudah makan? Aku buatkan makan malam ya?"

Didi diam saja. Tidak apa-apa, Arya tidak butuh jawaban apa pun. Dia tahu Didi pasti belum makan. Hidup sendiri selama beberapa tahun membuat Arya cukup pandai memasak.

"Ayo makan."

Nasi hangat dengan terong goreng serta sambal terasi Arya sajikan untuk Didi. Tidak bohong, Didi memang lapar. Siang tadi dia tidak makan apa-apa.

Merasakan sambal buatan Arya, Didi kagum juga. Sambalnya enak. Tidak menyangka pria di depannya ini mahir juga. Sambal ini bahkan lebih enak dari buatan bu Sari.

Didi tahu diri, dia tidak membantu memasak tadi. Maka sekarang dia menolong membawakan peralatan makan mereka ke dapur.

"Saya mau bicara." Ujarnya pada Arya, lalu segera kembali ke tempat dia duduk tadi.

Arya tidak langsung datang. Laki-laki itu sedang mencuci bekas makan mereka. Setelah selesai barulah dia menghampiri Didi.

"Ada apa, Divya?" Arya duduk bersila menghadap Didi.

Didi menoleh menatap lawan bicaranya. "Kenapa ngelakuin ini?"

"Maksudnya? Melakukan apa?"

"Menikahi saya." Ketus Divya.

"Karena aku gak mau disebut seperti bapakku."

"Saya nggak paham."

"Bapak selingkuh dari ibuku. Dia juga suka main perempuan. Dia meninggalkan ibu yang sedang sakit-sakitan." Didi memerhatikan mata itu. Redup dan terlihat menahan kesedihan serta kecewa. "Bertahun-tahun kami bertahan hidup berdua tapi sakit ibu makin parah. Ibu akhirnya meninggal saat aku berumur tujuh belas."

"Semua orang di sini tahu sifat bapakku. Banyak juga perempuan-perempuan di sini yang jadi korbannya. Mereka menganggap aku akan sama seperti bapak. Suka main perempuan. Tapi aku tidak begitu, Divya. Aku menghormati kaummu." Sialan! Bisa-bisanya Didi terenyuh melihatnya. Dia, 'kan ingin mencecar pria ini.

"Saat kita diarak kemarin, aku dengar mereka bilang kalau sifat bapak turun padaku. Dan kamu adalah salah satu korbanku. Kami tidak sama. Kami berbeda. Itu sebabnya aku memutuskan menikahimu agar aku beda dengan bapak. Aku bukan orang yang suka main perempuan."

"Tapi nggak gitu caranya, Arya." Nadanya mulai memelan.

"Itu jalan satu-satunya, Divya. Mereka tidak percaya pada kita."

Cukup Hanya DirimuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang