VIII-Obeisance

1.2K 174 4
                                    

Xerena menarik kembali perkataannya yang menyangkut hal 'senang' tadi. Jantungnya berdegup kencang. Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul 18.30 dan dirinya belum kunjung pulang. Ya sebenarnya orang tuanya tidak keberatan, akan tetapi sekarang pasti keberatan karena Xerena tidak meminta izin. Bagaimana bisa meminta izin jika HPnya ada di tangan tukang ancam yang sedang duduk menyetir di sebelahnya.

"Dimana rumahmu?" Xerena menoleh ke arah Gevano yang masih berkonsentrasi dengan kegiatan mengemudinya.

"Komplek XX1 nomor 198." Jawab Xerena. Dirinya kembali sibuk memikirkan alasan apa untuk pertanyaan yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya. Tidak mungkin memakai alasan kegiatan Student Council. Karena pastinya mereka menghubungi Gardenia untuk bertanya jika Xerena tidak sempat mengabari mereka pada saat kegiatan Student Council.

'Jelas-jelas Gardenia akan mengatakan bahwa tidak ada kegiatan Student Council hari ini.' Batin Xerena merutuki. Mobil Gevano pun berhenti di suatu rumah yang terlihat sederhana, tidak terlalu besar ataupun kecil. Rumah itu diwarnai dengan dominan cat warna putih.

"Turun." Wajah Gevano tetap datar menatap arah depan walaupun mobilnya sudah berhenti. Sebenarnya, dirinya menghindari tatapan mata dengan Xerena, merasa tidak nyaman dengan kejadian di pantai tadi.

Xerena yang malas berdebat akhirnya pun menuruti perkataan Gevano. Dan benar saja, ketika Ia sudah keluar dari mobil, pintu rumahnya pun terbuka dan terlihat Ayahnya yang berdiri disana dengan wajah khawatir. Dirinya segera membuka pagar rumah dan menghampiri Katharine.

"Ayah khawatir Eren, sampai menghubungi semua temanmu tapi temanmu bilang kamu tidak ada urusan Student Council." Xerena sudah menduga bahwa Ayahnya akan bertanya pada Gardenia.

"Kemana saja dirimu itu?"

"Nomormu tidak dapat Ayah hubungi." Suara Ayahnya terlihat amat sangat khawatir. Ayahnya pun memeluk tubuh Xerena, melepaskan kelegaannya karena putrinya pulang dengan selamat.

Inilah yang Xerena takuti. Ayahnya memang tidak bisa marah pada dirinya, namun Xerena tidak suka melihat wajah Ayahnya yang khawatir tersebut. Seperti menyakiti dirinya, dirinya tidak tega melihat Ayahnya seperti itu. Rasanya sama sekali tidak nyaman. Merasa perlu meminta maaf, Xerena mendorong tubuh Ayahnya pelan sehingga menciptakan jarak diantara mereka.

"Maafkan aku Ayah, tad-."

"Selamat malam Mister Yvonne, maaf atas kelancangan saya."

"Katharine tidak salah sama sekali, sayalah yang salah." Katharine menoleh ke arah Gevano yang sudah ada tepat dibelakang Xerena.

Mata Xerena melotot ke arah Gevano yang sedang melakukan sesuatu. Gevano dengan sopannya membungkuk sembari tangan kanannya memegang satu totebag, tanda meminta maaf pada Ayahnya. Ayahnya sedikit terkejut mendapati seorang pemuda yang tengah membungkuk sopan pada dirinya sembari meminta maaf.

"Sebelumnya perkenalkan nama saya Gevano Leeverton, saya berada dalam satu sekolah dengan Xerena."

"Gevano Leeverton?" Tanya Ayah Xerena memastikan agar tidak salah mendengar namanya.

"Benar sekali, mohon maaf atas kelancangan saya pada putri anda dikarenakan saya meminta bantuan untuk belajar beberapa mata pelajaran dan membuat putri anda yang baik ini bersedia membantu saya, ini salah saya, saya mohon untuk tidak memarahi Xerena."

[1] Our Universe : Cold Heart |✔ JENRINA BLUESY JENO X KARINATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang