Pesan Pertama

55 4 0
                                        

Mengapa saya dipertemukan dengan dia didalam keadaan masih terikat
- Aufal Rahman Hidayat -

🌱🌱🌱🌱

+628242424

Assalamualaikum Rahman,
10.30 ✓✓

Ini saya Selembayung. Kalian dimana? Ditahan di pos atau tidak?

10:30 ✓✓

Hampir setengah jam lama Selembayung menunggu tetapi belum mendapatkan balasan dari Rahman, padahal sudah centang dua biru menandakan pesan itu sudah dibaca.
Tetapi mengapa lama sekali pria itu membalas pesannya.

🌱🌱🌱🌱

Rahman memperhatikan sekitarnya sekaligus memikirkan bagaimana ia bisa kabur dari pemeriksaan kesehatan. Hey! Satu hal yang kalian harus ketahui Rahman sangat takut yang namanya jarum suntik dan jarum-jarum tes kesehatan lainnya, dan itu fakta yang tak banyak orang ketahui.

Memastikan semuanya aman ia mulai berjalan kearah masjid yang seperti nya tempat yang aman untuk dia bersembunyi dari polisi-polisi yang berjaga disini.

Kakinya mulai bergerak perlahan, sejauh ini aman batinnya tetapi tiba-tiba.

"hey mau kemana kamu?"

Tubuh nya menegang seketika ia yakin suara itu berasal dari salah satu polisi yang berjaga. "mampus gue" batin Rahman.

Membalikkan badannya menghadap kearah polisis yang sudah berdiri tegak dihadapannya.

"aduh pak ada apa ya? ini saya sudah kebelet pak udah gak tahan pipa saya nahan air mancur ini" ucap rahman dengan gaya menutup area depan pipanya yang berbalut celananya.

"beneran mau ketoilet kamu? Tidak berbohong kan?." Tanya polisi dengan postur tinggi besar dan perut buncit itu.

Bergerak gelisah seolah-olah menahan sesuatu yang ingin keluar "enggak pak ini beneran udah gak tahan saya".

Polisi tersebut tampak yakin dengan raut wajah dan gerak gerik Rahman. "yasudah pergi kamu, setelah selesai langsung kesini jangan kabur"

"iya-iya pak, tenang aja gak bakalan kabur saya"

Rahman membalikkan badannya dan berlari kearah toilet masjid.

"bodoh banget sih polisi buncit tadi mau aja di bohongin gue, gila akting gue tadi hebat banget cocok udah jadi aktor gue ini". Bangga Rahman sambil terkekeh.

TING

TING

Bunyi dering handphone Rahman terdengar dari dalam saku jas almamaternya.

Dahinya menyerngit heran, "nomor tidak dikenal, siapa?" batinnya.

Dibukanya pesan dari nomor tak dikenal tersebut, seketika matanya membola jantungnya langsung dugum-dugum eh maksudnya berdetak kencang. Pandangannya  mengarah pada layar handphone. Tubuhnya lemas otaknya berhenti bekerja seluruh mukanya sudah merah padam.

Tangan nya gemetaran memegang benda pipih tersebut. Dipegangnya dadanya dengan sebelah tangannya.

"i-ini beneran Selembayung ngechat gu- gue duluan, gue gak mimpi kan?" tanyanya pada diri sendiri. Diceknya sekali lagi pesan yang masuk

+628050505
Assalamualaikum Rahman,
10.30
Ini saya Selembayung. Kalian dimana? Ditahan di pos atau tidak?

10.30

Selembayung (On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang