Stella berjalan mundur teratur menjauhi Merry. Kini, dia sudah berkeringat dingin dengan wajah ketakutan. Merry tiba-tiba saja sudah berada tepat di belakang tubuh Stella. Merry meniup tengkuk Stella hingga membuatnya menjerit kaget. Aku dan Ken hanya bisa diam terpaku melihat Merry melancarkan aksinya.
Merry menjambak rambut lurus Stella hingga dia memekik kesakitan. Stella berusaha untuk menjauhkan tangan Merry dari rambut hitamnya. Namun, Merry tak memperdulikan Stella dan makin mengetatkan tarikan rambutnya.
"Ken, lakukan sesuatu!" suruhku.
Ken terlihat gelagapan dan bingung, dia mencari suatu benda yang ada di dekatnya. Mataku juga turut menyapu seluruh penjuru ruangan. namun kami tidak menemukan satu benda apapun! Ruangan ini kosong melompong!
Stella akhirnya menyerah, kepalanya mulai mengikuti arah tarikan Merry hingga dia melakukan kayang sempurna dan kepalanya hampir saja menyentuh lantai. Martin dan Jose membuka pintu dan menarik tubuh Stella menjauh dari hantu Belanda yang terus saja menyiksa kami.
Stella menangis sesenggukan, tubuhnya gemetar ketakutan. Ruri dan Laura menghampiri dan menenangkan Stella.
Merry menatap kami tidak senang, ditariknya tubuh Stella hingga gadis itu terpeleset jatuh dengan kepala menghantam lantai terlebih dahulu. Hanya dalam waktu singkat tubuh Stella telah menjauh keluar dari gedung ini bersama dengan suara jeritanya yang melengking.
"Kejar mereka!" Teriak Jose.
Kami mengangguk lalu mulai mencari mereka berdua. Tak ada tanda-tanda keberadaan mereka di manapun. Aku menjadi frustasi, kami sudah mencari Stella di sekitar gedung ini. Di antara pohon-pohon beringin yang lebat bahkan Ken, Martin, dan Jose memeriksa gedung tadi hingga lantai paling atas.
"Nggak ada!" Ucap Martin ketika mereka sudah kembali dan berjalan ke arah kami yang sedang bersandar di salah satu pohon beringin.
"Cari lagi! Mereka tidak mungkin menghilang begitu saja!" Balas Ruri.
"Ke mana lagi?" Tanya Jose emosi.
Ruri berdecak keras, dia sendiri bingung harus mencari Stella ke mana lagi. Padahal mereka sudah berjanji akan membantu Stella dan menyelamatkan gadis itu dari serangan Merry.
Konyol! Hanya karena sebuah papan mereka harus mengalami semua ini. Berlari dan mengejar hantu yang bahkan keberadaan mereka sebelumnya tak pernah bisa mereka rasakan.
Kucengkram kedua kepalaku yang terasa seakan mau pecah. Kami berenam duduk melingkar dan menunduk dalam keterdiaman kami.
"Padahal kita sudah memiliki petunjuk untuk menghancurkan hantu itu." Keluh Laura dengan tangis yang tertahan.
"Benar! Petunjuk! Kita pikirkan sekali lagi petunjuk itu. Siapa tahu kita akan menemukan mereka." Sahut Ken, ada binar kelegaan di matanya.
"Maksud kamu 10 dan 13?" tanya Jose.
"Benar!" jawab Ken yakin.
"Kita sudah mencarinya, dan sama sekali tidak menemukan sesuatu yang berbau angka sial itu!" Kata Jose kemudian.
"Karena kita mencari tanpa berpikir! Sekarang kita hanya perlu berpikir!" Balas Ken sengit.
"Ken benar... kita harus memikirkan angka sial itu! Gosh! Aku baru mengerti sekarang mengapa banyak orang yang mempercayai angka itu adalah angka sial." Ujarku tersenyum kecut.
"Ella, bagaimana kamu bisa berada di gedung itu berdua dengan Merry?" tanya Laura penasaran.
"Ah, dia menariku. Kepalaku terbentur sesuatu lalu pingsan. Saat aku tersadar. aku kembali melihat wajah menyebalkan itu! Kamu tahu? Dia berjalan lambat menghampiriku dan mengatakan akan membunuh gadis manapun yang memiliki cincin merah kepunyaannya." Jelasku bergidik ngeri.
"Kita tidak memilikinya! Cincin itu sudah hilang ratusan tahun lalu. Mustahil masih ada hingga sekarang!" Sahut Martin.
"Sepertinya cincin itu terbuat dari batu mulia, kemungkinan sampai sekarang masih ada." Tambahku.
"Sudah! Nanti saja bahas cincin itu. Kita harus temukan Stella." Kata Ken.
Perkataan Ken kembali menyadarkan kami. Suasana hening kembali mewarnai kami yang tengah sibuk berkutat dan menebak-nebak keberadaan mayat Merry. Martin dan Jose sudah membawa sebotol bensin beserta dengan koreknya. Tapi apa gunanya jika mayat itu tak ditemukan?
Di tengah kebisuan kami tiba-tiba saja aku merasakan benda cair tengah menetes di dahiku. Kuusap dahiku menggunakan tangan kanan. Tampak cairan merah menempel di telapak tanganku. Kuusap dahiku lagi ketika cairan kental itu kembali menetes.
"Lukamu terbuka lagi La?" Tanya Ruri padaku.
Kukernyitkan dahiku lalu menggeleng pelan. Memang lukaku terasa perih, tapi aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit hingga membuat darahku kembali merembes. Kudongakan kepalaku ke atas, melihat pohon beringin rimbun bersama dengan batangnya yang kokoh.
Aku duduk persis bersandar pada pohon itu, sempat ada rasa was-was ketika kuputuskan kepalaku untuk mendongak. Betapa terkejutnya aku ketika kulihat sebuah tubuh berayun-ayun dan bibirku hanya bisa ternganga lebar.
Teman-temanku mengikuti, mendongakan kepala mereka. Sedih! Sakit! Kesal! Takut! Marah! Ngeri! Perasaan campur aduk membuat hati kami seperti disayat oleh pisau. Kami bangkit berdiri lalu berjalan mundur menjauhi pohon itu.
Leher Stella terjerat oleh tali tambang di dahan tertinggi, tubuhnya berayun-ayun dengan mata terbelalak lebar. bagaimana bisa kami tak melihat atau bahkan menyadarinya?
Tubuh Stella masih berayun-ayun bersama dengan hembusan angin hingga leher yang terjerat oleh tali itu terputus!! Leher! Bukan tali yang mengikat, tapi LEHER!!!
Membuat kepala dan tubuhnya terpisah menjadi dua lalu jatuh di tanah dengan cepat. Darah Stella muncrat ke mana-mana, membuat tanah yang tadi bewarna gelap tercampur oleh warna merah darah.
Tubuhnya penuh dengan luka sayatan, entah dari mana luka itu berasal, seingatku tak ada luka ditubuhnya tadi sebelum kami berpisah. Kepalanya menggelinding berada di dekat kakiku, matanya menyorot padaku seolah menggambarkan penderitaan yang sudah di alaminya pada saat-saat terakhir hidupnya.
"TIDDAAAKKKKK!!!" Jerit kami histeris.
♚♚♚
KAMU SEDANG MEMBACA
Papan Ouija (Full)
Horror*BEBERAPA CHAPTER DI-PRIVATE KARENA CERITA SUDAH TAMAT. FOLLOW UNTUK MEMBACA* Jangan jadi Tante Nyinyir. Kalau mau baca lengkap ya follow dulu. kalau nggak mau ya udah. saya nggak ngelarang untuk unfollow setelah baca kok ^^ Permainan Papan Pemanggi...
