Seminggu sudah aku dirawat di rumah sakit ini bersama Ken tentunya. Ada beberapa tulang Ken yang patah. Sedangkan aku hanya menderita luka terkilir di kaki kiri dan pinggangku. Martin, Jose, Laura, dan Ruri selalu mengunjungi kami tiap hari sepulang sekolah. Mereka menceritakan tentang seluruh kejadian di kelas bahkan di sekolah selama kami tidak ada.
Orang tua Martin, Ken, dan Jose sudah mengurus dan membereskan masalah Stella hingga kami terbebas dari interogasi para polisi. Entah bagaimana caranya, aku tak begitu perduli. Pihak sekolah telah dijelaskan oleh Martin perihal eksistensi Papan Ouija dan pengalaman kami bersamanya.
Tentu saja Kepala Sekolah dan guru-guru tidak percaya begitu saja. Beruntung teman-teman sekelas kami mendukung dan membantu Martin menyakinkan tentang betapa menyeramkannya papan itu.
Segera pihak sekolah mengeluarkan ultimatum kepada seluruh murid-muridnya untuk tidak menyebarkan apalagi mencoba bermain-main dengan papan mistis pembawa petaka itu. Pihak sekolah akan memberikan sangsi bagi siapa saja jika berani memainkan permainan hantu itu.
Berita mengenai kematian Jane dan Stella menjadi topik hangat seminggu ini. Kematian tragis mereka membuat orang-orang yang mengenal mereka berduka.
"Mengapa melamun?" Tanya Ken.
Pandangan mataku teralih padanya yang sedang berjalan masuk Kamar inapku yang bersebelahan dengannya. Ken duduk di sisi ranjangku. Entah perasaanku saja atau memang benar Ken menatapku dari tadi.
Tatapan mata yang selalu membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Kubalas pertanyaannya dengan senyum kecil.
"Mengapa melamun?" Ulang Ken.
"Aku hanya memikirkan Stella dan Jane. Mereka terlalu muda, tidak seharusnya mereka mati secepat ini." Keluhku padanya.
Ken diam sejenak. Tangan kanannya mengusap puncak kepalaku.
"Mungkin sudah takdir mereka," jawabnya singkat.
"Ya! Tapi kalau saja kita... kita..."
"Kita sudah berusaha! Bukankah kita semua telah menyepakati untuk tidak saling menghakimi atau menyalahkan diri sendiri?" Potong Ken sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku mengangguk membenarkan ucapan Ken. Tiba-tiba Ken menautkan jemarinya pada jemariku seolah menyalurkan kekuatan.
"Kita tidak dapat membalikan waktu untuk melawan Merry dan menyelamatkan Stella dan Jane tapi kita bisa berdoa untuk mereka agar tenang di alam sana."
"Ya, kau benar..." ucapku setelah menghembuskan nafas berat.
Ken kembali tersenyum. Tanpa melepaskan tautan jarinya Ken mengusap wajahku menggunakan tangan kirinya.
"Mmm, boleh aku bertanya sesuatu?" Ucapku ragu-ragu.
Ken mengangguk, tangannya masih mengusap pipiku dengan lembut. Kurasakan wajahku mulai memanas di bawah tatapan matanya yang intens.
"Mengapa kau baik sekali padaku?"
Ken menghentikan usapan wajahnya padaku, kemudian dia mencolek hidungku gemas. Aku pura-pura cemberut, padahal sangat menyukai sentuhannya.
"Aku memang orang baik..."
"Bukan itu! Maksudku... Akkhh, sudahlah! Anggap aku tidak pernah bertanya." Sahutku frustasi.
Ken tertawa renyah melihat tingkahku. Mungkin ekspresiku saat ini bagaikan hiburan untuknya, tapi memalukan untukku. Bagaimana bisa aku mempermalukan diriku sendiri di depan cowok yang kusukai?! Bodoh! Bodoh! Bodoh!
KAMU SEDANG MEMBACA
Papan Ouija (Full)
Horror*BEBERAPA CHAPTER DI-PRIVATE KARENA CERITA SUDAH TAMAT. FOLLOW UNTUK MEMBACA* Jangan jadi Tante Nyinyir. Kalau mau baca lengkap ya follow dulu. kalau nggak mau ya udah. saya nggak ngelarang untuk unfollow setelah baca kok ^^ Permainan Papan Pemanggi...
