12. Tantangan

5.6K 311 27
                                        

Tubuh Jane telah dimakamkan, banyak yang menangisi kepergian gadis mungil itu. Kami semua kecuali Stella hadir di sana untuk mendoakan arwah Jane. Aku tahu, Stella pasti terpukul dengan kepergian Jane. Jane adalah sahabat baiknya yang meninggal di depan matanya sendiri dengan cara yang terbilang sadis. Belum lagi memikirkan dirinya sendiri yang mungkin akan bernasib sama.

Tak ada satupun dari kami yang membicarakan perihal acara kemarin malam. Gagalnya berkomunikasi dengan Jane bahkan berakhir dengan kemunculan Merry membuat diri kami shock.

Laura tak berhenti menangis sesenggukan sedari acara pemakaman tadi, Ruri menenangkan Laura, tak tega melihat Laura yang mulai kembali menyalahkan dirinya. Aku menatap keduanya dalam diam, pikiranku kosong.

"Semua gara-gara aku! Aku yang cerita tentang permainan itu!" Keluh Laura.

"Apaan sih?! Buktinya kita sama yang lainnya baik-baik saja. Bukan salah kamu! Saat itu mereka tak menuruti aturan mainnya." Kata Ruri mencoba menenangkan.

"Tapi..."

"Uda Ra, kalaupun kamu menyalahkan dirimu sendiri apakah Jane akan kembali? Apakah Stella akan baik-baik saja? Nggak! Untuk itu kita harus berpikir. Ber-pi-kir!"

Laura menghentikan tangisnya, hanya terdengar isakan-isakan kecil, aku menyetujui ucapan Ruri barusan. Jane tidak akan kembali! Stella tidak akan aman!

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Laura kemudian.

Ruri menghela nafas panjang, dia mengendikan bahu tanda tidak mengerti. Aku mencoba mencari solusi, tapi otak jenius yang kubanggakan ini tak dapat berbuat banyak. Sebal rasanya, sampai satu nama terbesit di otakku.

"Ki Ali..." desisku, membuat Laura dan Ruri menatapku kompak.

"Kita temui Ki Ali, ceritakan semuanya, minta petunjuk." Jelasku.

"Minta petunjuk sama Tuhan! Kok sama Ki Ali?" Protes Laura.

"Beda masalah bego!" Jawabku kesal.

"Bener! Temui Ki Ali lagi." Imbuh Ruri menyetujui.

"Kapan perginya?" Tanya Laura.

"Sekarang!" Jawabku dan Ruri bebarengan.

♛♛♛

Jam memasuki pukul 8 malam dan kami bertiga baru saja tiba rumah Ki Ali. Tanpa banyak bertanya, Ki Ali mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Aku mulai menceritakan maksud kedatangan kami ke sini dibantu oleh Laura dan Ruri.

Ki Ali mendengarkan dengan seksama sembari menutup kedua kelopak matanya. Setelah kami selesai bercerita Ki Ali tak kunjung membuka matanya.

Ki Ali tetap pada posisi duduk bersila dengan kedua tangan di atas paha, mata terpejam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Aku jadi ragu apakah Ki Ali mendengarkan penjelasan kami barusan. Jangan-jangan Ki Ali tidur dan menganggap seluruh cerita kami hanyalah dongeng semata.

Saat asyik melamun sambil memandang wajah Ki Ali, aku tersentak kaget. Bayangkan saja, tiba-tiba pria itu membuka kedua matanya menampilkan mata melotot lebar dengan bola mata hitam legam.

Ruri dan Laura ikut berjingkat kaget bersamaku. Ki Ali memandang kami satu per satu dengan matanya yang tajam. Tak ada sarupun dari kami yang berani bertanya padanya. Pria itu menghembuskan nafasnya berat.

"Hari ke 10 adalah hari di saat dia memergoki prianya berselingkuh dan hari ke 13 adalah hari di mana dia mati dibunuh pria yang sangat dicintai." Ucap Ki Ali.

Aku dan kedua temanku saling bertatapan tak mengerti. Kami kembali menatap wajah Ki Ali dengan raut bertanya menuntut penjelasan.

"Maksud Ki Ali?" Tanya Laura takut-takut.

Papan Ouija (Full)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang