9. Cari Atau Mati

6K 324 42
                                        


Tubuh Jane terlihat lesu, tangisnya pun hampir pecah. Sepulang sekolah kami sibuk mencari cincin milik Merry. Aku mencari dengan teliti di setiap sudut ruangan, ruang musik yang menjadi saksi bisu kematian Merry beratus-ratus tahun yang lalu. Aku merasa bodoh sebenarnya, tak mungkin kami dapat menemukan benda dari ratusan tahun lalu di kelas ini. Apalagi, sebuah cincin yang terlihat sangat cantik dan mahal!

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Jane padaku dengan putus asa.

Aku hanya dapat membalas tatapan mata sayunya dengan iba. Jane mulai menangis sesenggukan, sahabatku Laura menenangkan Jane dengan cara memeluknya. Isakan tangisnya terdengar lebih keras, Stella yang kutahu biasanya cerewet tapi kali ini dia hanya diam dengan pandangan mata yang kosong.

"A, aku... nggak mau mati! Kenapa dia terus mengejarku bahkan dalam mimpi sekalipun, dua hari ini aku memimpikan hal yang sama. Merry, dia membunuhku!"

"Itu mungkin hanya karena kamu terlalu memikirkan ancaman Merry. Kamu akan baik-baik saja." Aku mencoba menghiburnya, walau aku sendiri tak yakin dengan kata-kataku.

Suara decit pintu yang terbuka mampu mengalihkan perhatian kami, terlihat sosok Dina yang wajahnya selalu terlihat datar tanpa senyuman. Dina menghampiri kami lalu duduk bersila tepat di sisi kiriku.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Stella menyeledik.

"Aku hanya ingin mengetahui sesuatu."

Kulihat Dina sama sekali tak ada takut-takutnya walaupun kami berdelapan memandangnya dengan tatapan tidak suka. Bukan apa-apa, ketika kami meminta bantuan darinya kemarin dulu dia sama sekali tak bersedia membantu kami. Sekarang dengan wajah tanpa dosa dia menghampiri kami dan langsung duduk begitu saja.

"Apa?" Tanya Jose tanpa minat.

"Merry, aku melihat dia menerbangkanmu kemarin." Ucap Dina sambil mengalihkan pandangannya padaku.

"Ya, untuk apa kamu ke sekolah selarut itu?" Tanyaku penasaran.

"Aku hanya membuntuti kalian." Jawabnya tenang.

"Untuk apa?" Tanya Stella tak senang.

"Aku hanya ingin tahu."

"Menyebalkan!" Sahutku sebal
Bagaimana bisa seseorang membuntuti kami untuk memuaskan rasa ingin tahunya semata tanpa mau membantu kami menyelesaikan masalah. Aku benci dengaannya!

"Kalian mencari cincin bukan?" Tanyanya kemudian.

Pertanyaan Dina membuat tatapan kami beralih padanya namun kami hanya diam. Tak berminat menjawab pertanyaannya. Mungkin saja dia sudah tahu dan hanya ingin berbasa-basi dengan kami.

"Dengar, pertama kalian tak mungkin menemukan cincin itu di tempat ini. Seseorang pasti sudah membawanya, cincin itu telah ada dari ratusan tahun lalu."

"Kami tahu. Bahkan jarinya dipotong agar seseorang bisa mengambilnya." Ketusku.

"Oke. Kedua, apa yang akan kalian lakukan bila cincin itu dapat ditemukan? Memberikan padanya? Setelah itu dia akan memaafkan kalian? Ayolah... dia hantu! Bukan pemain sinetron!" Hardik Dina tajam pada kami.

Kami tahu pernyataannya benar, Merry tidak akan melepaskan Stella dan Jane begitu saja. Tak ada satupun dari kami yang bisa menjawab kata-kata Dina barusan.

"Lalu apa yang harus kami lakukan?" Tanya Jane takut-takut.

"Tidak ada. Dia menunjukan cara kematiannya pada kalian bukan berarti dia memberikan petunjuk untuk mengalahkannya. Bisa saja hantu itu menyesatkan cara berpikir kalian." Jelas Dina tanpa tedeng aling-aling.

Papan Ouija (Full)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang