PROLOG

12K 541 31
                                        


Hembusan angin malam yang menyelimuti tubuhku seolah mengantarkan rasa dingin dan sensasi asing yang membuat tubuhku merinding. Kaki ini terus melangkah pada sebuah jalan lurus yang tak terlihat ujungnya. Gelap! Dingin! Dan seorang diri!

Jangan bertanya bagaimana bisa aku berada di tempat ini, Aku sendiri juga tidak paham! Aku juga tidak tahu tempat apa ini dan apa yang kucari di sini. Mungkin aku harus terus mengikuti jalan ini untuk pulang ke Rumah.

Samar-samar aku melihat sesosok tubuh yang berdiri membelakangiku. Kupincingkan mataku agar dapat melihat sosok itu lebih jelas.

"Laura?" Panggilku.

Sosok itu tetap bergeming di tempatnya. Jarakku hanya terpaut sekitar tiga meter darinya namun sosok itu hanya terlihat seperti sebuah siluet. Kupikir mataku mengalami penurunan fungsi, atau karena tempat ini remang-remang gelap hingga aku tidak dapat melihat sosoknya.

Perlahan, aku berjalan menghampiri sosok itu. Entah mengapa kaki ini terasa lemas seakan tak kuat menyangga tubuh.

"Ruri?"

Hanya nama kedua teman kost sekaligus teman terdekatku yang terpintas di otakku. Tapi sepertinya bukan, jika itu memang kedua sahabatku pasti mereka sudah berhambur memelukku. Terutama Laura! Dia sangat manja Dan takut gelap, dia pasti sudah mendekap lenganku erat-erat saat ini.

Fiuuuh! Seseorang meniup tengkukku, refleks aku membalikan tubuh sambil mengusapnya seolah menghilangkan rasa dingin yang menjalar. Kosong. Tidak ada siapaun di sana. Mataku menyapu sekeliling, barangkali seseorang mempermainkanku.

Ketika aku membalikan tubuh lagi untuk menatap sosok yang sempat kulupakan tadi, aku bingung sekaligus terkejut. Dia tidak ada di sana! Sosok itu hilang begitu saja. Kembali mataku dengan liar menelusuri sekeliling.

Suara bisikan yang tidak jelas membuat jantungku berdetak lebih kencang. Rasa takut tiba-tiba menelusup begitu saja.

BUG! Ketika aku mundur beberapa langkah ke belakang, tubuhku menabrak sesuatu yang dingin. Pelan-pelan kutolehkan kepalaku untuk melihat sesuatu apa yang kini berada persis di belakangku.

Sebuah wajah yang melepuh dengan mata berwarna merah yang meneteskan air mata berupa darah sedang menunduk menatapku tanpa ekspresi.

Ingin rasanya aku berteriak kencang, namun bibirku tetap terkatup rapat. Aku tahu saat ini aku sangat ketakutan, karena itu aku tak sedikitpun suara keluar dari bibirku.

Tak ada jarak yang memisahkan kami ketika kulihat dia membuka paksa bibirnya yang terjahit rapat hingga benang yang sangat tebal itu terputus dan menampakkan rongga mulutnya yang kosong. Bersamaan dengan itu, suara geraman yang menakutkan terdengar hingga membuat aliran darahku seakan berhenti begitu saja.

"KYAAAAAA!!!"

Aku langsung berteriak kencang sambil berlari menjauh darinya. Kukerahkan seluruh kemampuan berlariku hingga kurasa dia sudah tidak terlihat lagi. Perlahan, aku menurunkan kecepatan. Terdengar deru suara nafasku yang berantakan seirama dengan detak jantungku yang menggila.

Bruggghh! Tubuhku tersungkur jatuh di aspal yang keras. Aku meringis kesakitan ketika daguku mendarat terlebih dahulu. Kusentuh daguku menggunakan tangan kanan, tampak rembesan darah Segar yang membuatku ngeri.

Tidak heran banyak sekali darah yang keluar mengingat rasa sakit yang kurasakan saat ini.

"Ella... Ella...."

Suara bisikan tajam yang mendesiskan namaku membuat air mata yang dari tadi kutahan menetes perlahan.

Sesuatu kini berada di depanku. Dengan tubuh yang masih menelungkup di aspal, aku mengumpulkan seluruh keberanian yang kupunya untuk mendongak dan memastikan makhluk apa yang ada di dahapanku.

Sosok yang mengerikan itu kini berada di depanku! Aku sudah berlari menjauh darinya tapi dia tiba-tiba muncul dan menatapku tajam.

Sekali lagi kukerahkan seluruh tenagaku untuk bengkit berdiri. Belum juga bisa berdiri sempurna, kakiku kehilangan kekuatannya hingga membuat tubuhku jatuh terduduk di aspal yang keras.

"Jangan memainkan permainan terkutuk itu...."

Sosok itu yang mengucapkan kalimat tadi. Suaranya terdengar berat bercampur dengan geraman.

Aku tidak mengerti maksud ucapanya. Satu-satunya yang terpintas di otakku adalah menjauhinya. Kuseret bokongku ke belakang dengan bantuan kedua kakiku yang menjejak aspal.

"Jangan memainkan permainan terkutuk itu...."

Memainkan apa? Sungguh aku tak mengerti ucapanya! Oh Tuhan apa yang harus kulakukan? Mataku bertabrakan dengan matanya. Saat itu terpintas huruf 'A', 'B', 'C', dan beberapa huruf lainnya. Tak ketinggalan juga beberapa angka dan simbol mirip matahari terpintas di benakku.

"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku dengan suara tercekat karena tangis.

Sosok itu tak menjawab malah mendekatkan tubuhnya padaku. Semakin lama semakin dekat. Bahkan dia membungkukkan tubuhnya dan menundukkan wajahnya hingga tatapan kami menjadi sejajar.

Tanpa sadar aku menahan nafasku sendiri. Aku juga dapat mendengar suara degup jantungku sejelas ketika kugunakan stetoskop untuk memeriksa degup jantung keponakanku Annakeponakanku yang masih berumur lima tahun ketika kami bermain dokter-dokteran seminggu yang lalu.

Kembali lagi pada sesuatu yang kini menatapku seolah ingin menerkam mangsa yang sudah tidak berdaya ini. Aku menyebutnya sesuatu karena aku sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

Mungkin dia Manusia jadi-jadian, Hantu, Jin, atau bahkan Monster. Yang jelas sosok menyeramkan ini masih menatapku tajam dari tadi nyaris tanpa jarak yang memisahkan kami.

Tiba-tiba dia membuka mulutnya lebar dan kemudian sesuatu keluar dari mulutnya yang disemburkan ke arah wajahku, bersamaan dengan itu deru angin kecang menari di sekitar kami.

Sesuatu yang berwarna hitam, bisa terbang, memiliki ukuran sebesar telapak tanganku menerpa wajahku. Ya! Kelelawar yang keluar dari mulut makhluk aneh itu! Binatang yang menurutku lebih menakutkan daripada Singa.

Dan kemudian aku hanya bisa menjerit pasrah karenanya.

♚♚♚

Papan Ouija (Full)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang