6

9 9 0
                                        

~Tetap terjaga dimana pun kamu berada, semoga tuhan kembali mempertemukan kita dalam satu cerita yang sama~

"Hari ini ustadzah Aisyah ulang tahun gais!"

"Dzah Aisyah? Dzah Aisyah kamar kita?

Pertanyaan perempuan yang tengah duduk sembari memakan coklat ditangannya itu membuat Sasa mendengus.

"Emang ada berapa si, ustadzah yang namanya Aisyah?"

Zara terkekeh. "Beliin kue kan nggak mungkin, kita nggak ada jatah keluar mingguan kan? Buat juga gabisa. Gimana coba?" Perempuan serba ungu itu tengah mengatur baju-bajunya ke dalam lemari. Ia memang baru saja menyetrika baju-bajunya.

Sabrina mengendikkan bahunya bingung.

"Mama aku ntar jenguk, titip aja kali ya?" saran Ziza membuat yang lain mengangguk setuju.

"Iuran aja kita, paling sekitar 75 an kan yang sederhana aja."

Ustadzah Aisyah ini memang paling sederhana dari yang lain, beliau selalu terlihat baby face, pokoknya paling imut deh.

Beberapa jam setelahnya, Ziza datang dengan sekotak roti ditangan kirinya. Kebetulan hari ini adalah jadwal untuk ekstra silat, dan itu wajib bagi semua santriwan dan santriwati, maka dari itu kamarnya kosong hanya ada Asa yang tengah berbaring di lantai dengan novel yang ia pegang. Perempuan itu tidak ikut ekstra karena hari ini adalah hari pertamanya datang bulan.

"Udah dijenguknya?" tanyanya. Ziza mengangguk. Perempuan itu menaruh kotak rotinya diatas meja. Tangannya kemudian menyambar baju silat yang sudah ia gantung di dekat dipan kasurnya.

"Bolos aja ngapa Za. Temenin aku di kamar, daripada plonga-plongo." Pinta Asa pada Ziza yang tengah memakai bajunya.

"Yee, ntar ketahuan ustadzah aja aku yang kena!"

Asa bangun dari tidurnya. "Ustadzah udah keliling tadi, aman kok." Katanya. Ziza berpikir sejenak. Biasanya memang ustadzah akan berkeliling mengecek setiap kamar, takut-takut ada yang membolos ekstra.

"Awas aja kalo ntar kesini."

Asa mengangguk yakin. Perempuan itu melanjutkan membaca novelnya, sementara Ziza? Ia kini sibuk memasukkan makanan ke dalam box kontainer yang sudah ia siapkan.

***

Hampir pukul sebelas malam. Untungnya semua santriwati sudah masuk kedalam kamarnya masing-masing. Pun dengan anak-anak kamar 6 yang kini sudah siap di tempat masing-masing. Kali ini lampu kamar pun sudah padam sedari tadi.

Sasa, Sabrina dan Billa sudah siap dengan lilin ditangan mereka. Sedangkan Teena, Zara, Ziza dan yang lain membawa balon dengan ucapan Happy Birthday. Asa bertugas membawa roti ulang tahun.

"Siap ya?" tanya Asa dengan suara pelan pada yang lain, yang lain mengangguk.

"Siap dong sayang." Sahut Billa semangat.

Semuanya sudah berdiri didepan pintu kamar Ustadzah Aisyah. Tangan Teena terulur mengetuk pintu tersebut.

Tok Tok Tok

"Assalamu 'alaikum, ustadzah."panggilnya pelan.

1 detik

2 detik

3 detik

Tak ada balasan. Teena kembali mengetuk pintu.

Tok Tok Tok

ARLOJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang