Bagian ke Delapan

22 4 0
                                        

Membran Kasih
~ Delapan ~

Senin adalah pembuka hari di awal minggu. Senin saatnya menyetorkan amalan dan Allah sangat suka jika umatnya menyetorkan amalan saat shaum.

Malam-malam Dinar terasa panjang. Masih ingat benar bagaimana Dimas menjatuhkan talak tiga padanya dengan emosi yang membara. Baru beberapa hari saja, lukanya masih basah dan menganga.

Talak tiga karena Dinar belum memberi Dimas momongan. Tak ada seorang wanita pun yang menghendaki itu terjadi. Jika Allah belum memberi itu artinya Kehendak Allah memang begitu, tak bisa ditolak. Sepanjang ikhtiar tetap dilakukan dengan sabar, Dinar berbesar hati suatu saat Allah akan menitipkan janin di rahimnya. Menurut pemeriksaan genekolog, Dinar normal dan subur. Usianya juga masih memungkinkan untuk hamil walau sudah tiga puluh empat tahun, delapan tahun lebih muda dari Dimas.

'Aku harus move on.' batin Dinar sambil membalikkan dadar telur untuk sahur.  Dinar belum memutuskan akan tinggal di mana setelah peristiwa mengoyak hati beberapa hari lalu. Tak mungkin kembali ke rumah Ibunya di Cimindi, tak mau membuat orang tuanya ikut terluka. Lagi pula, terlalu jauh ke kantornya di bilangan Setiabudi. Untuk sementara, dia menyewa sebuah kamar kos tak jauh dari kantornya. Hari ini pertama masuk lagi setelah cuti lebaran. Dinar masih menata hatinya yang terluka dalam.

Saat pergi, Dinar hanya membawa sedikit saja baju dan perlengkapannya. Mau tak mau, Dinar membeli beberapa baju, kerudung, tas dan sepatu untuk bekerja.

🏡🏡🏡🏡🏡

"Pagi-pagi sudah ngelamun," ucap Karin mengagetkan dan membuyarkan lamunan Dinar.

"Siapa yang ngelamun? Aku cuma ngantuk tauuu," tawa Dinar berderai renyah seperti kerupuk.

"Emang kamu begadang?"

"Nggak juga sih, bangun lebih awal untuk sahur."

"O iya sekarang Senin, wanita saleha di sampingku ini tak pernah meninggalkan shaum Senin Kamis."

"Kalau sudah terbiasa, rasanya aneh kalau gak. Kenapa kamu gak?"

"Mau juga sih tapi aku selalu telat bangun, malas bangun untuk sahur."

"Emang kalau Ramadhan gak siapin sahur?"

"Gak, tinggal makan saja sambil merem. Mas Razka yang siapin."

"Bahagianya punya suami begitu."

"Ya dong, kan Mas Dimasmu juga baik."

Seketika wajah Dinar panas, pasti merah kaya udang goreng. Dia harus menggunakan topeng tebal yang selalu tersenyum, berpura-pura bahagia.

🏡🏡🏡🏡🏡

Sepanjang hidupnya selepas Ayah tiada adalah sebuah perjalanan panjang dalam konteks perjuangan untuk keluarganya, untuk Ibu dan adik-adiknya. Wifri bekerja keras mulai dari kerja serabutan, menjadi office boy, kasir super market sampai akhirnya bergabung dengan developer Cluster Greeen House sampai sekarang. Sedikit demi sedikit karirnya naik. Walau tidak kuliah tapi pengalaman yang banyak menjadi bekal berharga dan mempertajam kemampuannya.

Kini, ibu tercinta terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Hasil cek darah dan CT Scan memberi diagnosis yang mengerikan. Di otak Ibu ada sesuatu. Untuk memastikannya harus melalui beberapa tahap pemeriksaan lagi. Ini diketahui saat Wifri ke rumah sakit tadi malam, dari cerita Wini. Malam ini giliran Wifri dan Mang Kusdi menemani Ibu di rumah sakit.

Hari ini Wifri sudah izin pada Pak Dimas untuk tidak masuk kerja, dia akan membuat BPJS untuk Ibunya. Untuk Itu, Wifri harus pulang dulu ke rumah Ibunya untuk mengambil Kartu Keluarga sekalian menjemput Esti yang sudah menunggunya di teras dengan tas besar di atas meja, berisi baju-bajunya dan baju orang tuanya.

Membran KasihTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang