Membran Kasih
~ Dua Puluh ~
Hari ini Wira baru saja menyelesaikan paket tour bersama tujuh wisatawan asing selama tiga hari. Mengantar ke sembilan curug di kawasan Geopark, Ciletuh yaitu Curug Awang, Puncak Manik, Cimarinjung, Sodong, Cikanteh, Cigangsa, Cikaso, Puncak Jeruk dan Curug Tengah. Bagi para wisatawan itu, keindahan curug-curug itu luar biasa indah, tak ada di negaranya.
Sebagai salah satu dari enam taman bumi atau geopark yang berada di Indonesia, tak dipungkiri bahwa Ciletuh merupakan objek wisata menarik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tepatnya di kawasan Ciemas.
Geopark Ciletuh adalah kawasan yang terdiri atas gunung dan pantai serta komposisi batuan purba. Batuan itu muncul ke permukaan karena terendapkan dalam palung laut di bawah lempeng benua pada Zaman Kapur sekira 50-65 juta tahun silam.
Kawasan ini telah mendapatkan sertifikat sebagai Geopark Nasional dari Komite Nasional Indonesia untuk Unesco dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Sepulangnya ke rumah jelang Maghrib, Wira mandi lalu makan tumis tahu toge dan ikan peda bakar yang disiram dengan minyak panas hasil menggoreng cabe dan rawit serta ditetesi perasan jeruk limau. Tidak lupa lalapan dan kerupuk sumbersari yang bantat, kesukaan Wira.
Kelelahan dan kekenyangan adalah perpaduan serasi yang membuat mata mengantuk.
"Jangan dulu tidur Kang, tunggu Isya sebentar lagi." Diah menepuk pundak Wira yang terantuk-antuk di kursi di depan TV tabung yang menyala menayangkan pertandingan sepak bola antara Persib dan Persija. Bukannya nonton TV tapi TV yang nonton Wira.
"Siapa yang tidur? Akang lagi nonton Persib," sangkal Wira dengan mata yang dibelalakkan.
"Ya gak tidur cuma ngalenyap (tertidur sesaat tanpa sengaja)."
"Bikinin kopi atuh, biar mata Akang melek."
Diah beranjak ke dapur, memenuhi permintaan suaminya lalu kembali menghampiri Wira yang malah sudah berbaring di kursi, mendengkur. Kopi di tangannya diletakkan di meja. Tak tega rasanya membangunkan suaminya. Diah hendak mengunci pintu saat azan Isya terdengar dari mesjid di dekat rumah. Biasanya Wira dan Bapak salat di mesjid. Benar saja, Bapak keluar rumah dan menengok ke paviliun tempat anak mantunya tinggal.
"Mana Wira? Ayo ke mesjid."
"Kang Wira ketiduran di kursi."
"Kecapean."
"Kekenyangan juga."
"Ya sudah, salat di rumah saja."
"Tadi sudah Diah bangunkan, katanya gak tidur, sedang nonton Persib."
"Persib kalah sama ngantuk."
Diah membereskan piring-piring bekas makan. Makanan yang tersisa dimasukkan ke kulkas. Piring-piring, gelas dan sendok kotor dicuci. Saat menutup keran, Diah merasakan tendangan kuat di perutnya diikuti rasa sakit berdenyut-denyut yang menyebar ke pinggang dan pinggulnya. Diah menarik nafas panjang dan rasa sakit itu hilang.
Diah lantas ke kamar mandi, berwudu dan salat. Saat sujud, rasa sakit dirasakannya kembali, malah lebih kuat. Berulang kali menghela nafas, berulang kali pula rasa sakit itu hilang tapi timbul lagi. Diah pun rebah di ranjang, mengolesi perutnya dengan kayu putih. Tak lama, dia pun terlelap.
Desir angin malam menggemeretakkan ranting-ranting. Suara burung hantu menimpali suara angin bagai konser alam. Bayangan burung hantu di pohon di bawah sinar bulan purnama membentuk siluet yang luar biasa.
Wina terjaga oleh tendangan keras di perutnya. Rasa sakit kembali dirasakannya, makin lama makin kuat. Berkali-kali menghela nafas tapi sakit itu tidak reda. Wira ternyata sudah pindah ke kamar. Di lantai, sajadah dan sarung teronggok tanpa dilipat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Membran Kasih
RomanceKisah perjuangan seorang lelaki bernama Wifri sejak dia ditinggal Ayahnya menghadap Ilahi. Wifri muda berperan sebagai Ayah untuk tiga adiknya: Wina, Wira dan Wini. Wifri mengantar adik-adiknya menuju kesuksesan sehingga dia seolah lupa pada diriny...
