Part 4

15 3 1
                                    

  Beberapa waktu kemudian, matahari mulai terbenam. Stavone, Stava, Sika dan Kavone nampak asik menyiapkan barang dan alat yang hendak dibawa saat menelusuri rumah sebelah. Usai semua beres, mereka menunggu malam tiba sambil makan bersama. "Setelah makan kita langsung ke sana kan?" tanya Sika sambil mengunyah makanan.

  "Tunggu malam tiba!" jawab Stava juga mengunyah makanan.

  "Eiittss ... Makan dulu, stop bicara!" desak Stavone. Mereka langsung diam seketika.

  Usai makan, hari sudah memasuki malam. Namun, mereka masih duduk bersama di ruang keluarga. "Ayo kita ke sana, sekarang!" ajak Sika.

  "Sika, mengapa kamu, sepertinya kamu ingin cepat masuk ke rumah sebelah?" tanya Stava.

  "Memang benar, aku penasaran banget dengan isi rumah itu dan ingin segera memeriksanya!" jawab Sika.

  "Nanti dulu ah, tunggu 1 jam lagi agar semakin gelap dan semakin serem, siapa tau nanti kamu takut ... Ihihihihihi!" ledek Stava kepada adik perempuannya.

  "Iiihh Kakak, siapa yang takut? Kan aku yang ajak jadi ya tidak mungkin takut lah, karena aku sudah siap mental untuk melihat hantu-hantu secara langsung!" jawab Stava mengaku berani.

  "Secara langsung, kamu yakin?" tanya Stava yang hendak memancing rasa malu adik perempuannya.

  "Yakin dong, kan di sana serem banget pastinya banyak hantu dan kita akan melihatnya secara langsung!" jawab Sika.

  "Bwahahahahahahaha, kamu bilang secara langsung, itu kalau hantunya mau menampakkan diri, kalau tidak ya tidak akan kelihatan dong!" sahut Stava sambil tertawa bahak-bahak. Raut muka malu mulai terpasang pada diri Sika, karena ia merasa ucapannya benar, namun ternyata masih ada yang salah.

  "Iiihh, ya sudah deh terserah Kakak!' kesal Sika seraya pergi.

  "Tuh orang lagi kesal kayaknya!" celetuk Kavone.

  "Mengapa kesal?" Stavone yang sedari tadi asik menonton televisi, kini mengalihkan kefokusannya pada ketiga anaknya.

  "Karena diledek sama Kak Stava." jawab Kavone.

  "Aiihh ... Ini sudah pukul 19.30, katanya ingin ke rumah sebelah, ayo sekarang!" ajak Stavone sambil menengok arloji yang terpasang di tangan.

  "Sika, kita mau berangkat nih, kamu ikut atau tidak?" tanya Stava yang mencoba memberhentikan rasa kesal adiknya.

  "Sekarang?" jawab Sika yang berada di kamar.

  "Iya, katanya tadi kamu ingin segera ke sana, ya sudah ayo, kita sudah siap ini." ujar Stava.

  "Kalian ke sana saja, dulu, nanti aku susul, aku ingin berbaring di sini!" alasan Sika yang tak ingin jujur bahwa ia kesal dengan Stava.

  "Oke deh, awas ya kalau kamu tidak menyusul kita!" jawab Stava dengan ancaman tersembunyi untuk Sika.

  "Ibu, kita ingin pergi, dada!" pamit Stava dari ruang keluarga.

  "Iya silakan, jangan pulang terlalu malam!" nasehat Tika yang ada di kamar. Lalu, mereka keluar dari rumah menuju rumah sebelah. Nampak Kavone yang sedang menggendhong sebuah tas berisi alat-alat pembantu.

  "Bagaimana cara membuka pintunya?" tanya Stava.

  "Ini ada obeng di tas, aku ambil dulu!" jawab Kavone seraya mengambil obeng tersebut.

  "Btw kita hanya pergi di sebelah rumah, tapi kok tasnya sebesar itu ya, kayak mau muncak saja," gumam Stava.

  "Loh iya, astaga, Ayah baru sadar ini kalau ternyata tasnya besar. Tapi tak apa-apa deh!" desak Stavone.

Misteri Rumah Sebelah (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang