Hari sudah mendekati tengah malam. Jam dinding sudah menunjuk pukul 10.56. Stava dan keluarga telah sampai di rumah sakit, Stava langsung di tangani oleh dokter. Ia masuk di sebuah ruangan nomor 105 lantai 5. Di sana, bagian kepalanya yang bocor akan di jahit. Walau terasa sangat sakit, namun, Stava masih bisa diam, menahan dan bersabar. Stavone dan Tika yang menunggu di depan ruangan, tak henti mengucap do'a untuk sang Putri sulungnya.
Keadaan Stava saat ini cukup parah, karena benturan yang terlalu keras menyebabkan kepalanya bocor dan mengalami sakit yang luar biasa.
"Ya Allah, perlancarlah penanganan anakku, sembuhkanlah dia seperti sediakala, aku sedih bila melihat anakku terus berteriak kesakitan, tolong sembuhkanlah Ya Rabb!" do'a Tika dalam hati dengan kedua tangan menempel di wajah. Hati sangat sedih bak terpukul. Mata sangat perih ingin menangis, namun Tika berusaha tegar dan menahan air mata.
Ucapan do'a dalam hati terus mengalir dari Tika dan Stavone. Kini Stava yang masih dalam kondisi penanganan, juga turut mengucap do'a dalam hati untuk diri sendiri. "Yang sabar ya Mbk!" ucap seorang dokter bernama Ayona yang tengah menjahit kepala Stava.
"Iya Dok, bagaimana kondisi kepala saya?" tanya Stava yang terbaring.
"Ini sudah mau selesai jahitannya, dan darahnya sudah tidak mengalir lagi!" jawab Ayona.
"Alhamdulillah, terima kasih dokter Yon!" ucap Stava yang dibalas Ayona dengan senyuman.
Beberapa waktu kemudian, bagian kepala Stava yang bocor, telah terjahit lengkap. Kapas dan plester terlihat menutupi luka pada kepala Stava. Ia tidak lagi merasakan sakit. Dan kini saatnya pulang.
Sebelum pulang, Stavone membayar biaya pengobatan anak sulungnya.
Jam dinding tengah menunjuk pukul 01.00, mereka pun pulang bersama.
"Alhamdulillah, sudah sampai rumah! Kita masuk yuuk!" ucap Stavone. Mereka semua pun masuk.
"Tante Ari sama Herlin di mana?" tanya Stava sambil berbaring di kasur kamarnya.
"Mungkin lagi tidur di rumah!" jawab Tika.
"Lalu, Kavone di mana?" tanya Stava.
"Di rumah sebelah, mungkin!" jawab Sika.
"Assalamualaikum!" Terdengar suara Kavone yang sepertinya sedang berjalan masuk.
"Waalaikumsalam!" jawab Stava, Stavone dan Tika. Kavone pun masuk. Ia tidak sendiri, tapi bersama Ari dan Herlin.
"Kavone, Tante Ari, Herlin, kalian dari mana?" tanya Stava.
"Dari rumah!" jawab Ari.
"Owwhhh."
"Stava ini aku bawa sosis buat kamu, kita berdua tadi habis melaksanakan barbeque di teras rumah ku!" ucap Herlin sambil memberi beberapa sosis dengan wadah styrofoam.
"Ma Sya Allah, Tabarakallah, terima kasih banyak!" jawab Stava sambil menerima sosis tersebut dan memberi senyum lebar.
"Sama-sama Va," jawab Herlin. "Lalu bagaimana kondisi kamu sekarang?" tanya Herlin.
"Alhamdulilah baik, sudah tidak sakit lagi... Oh iya terima kasih ya Her, karena tadi kamu telah menolongku dan terima kasih juga karena kamu telah memberi aku sosis yang lezat kesukaanku!" jawab Stava sambil sambil memakan sosis.
"Sama-sama Va, yang penting sekarang kamu sudah sembuh!" jawab Herlin memasang senyuman lebar.
"Oh jadi yang menolong kamu Herlin?" tanya Tika.
"Iya Bu, dia yang menggendongku masuk kamar, setelah aku jatuh!" jawab Stava.
"Ma Sya Allah, terima kasih banyak, ya Herlin, kalau tidak ada kamu, mungkin Stava masih teriak kesakitan di sana!" ucap Tika.
"Terima kasih ya, Herlin!" imbuh Stavone.
"Btw penyebab kamu jatuh apa?" tanya Herlin.
"Saat aku berjalan, di depanku seperti terlihat sosok hitam yang berlari, dan aku menabraknya sehingga aku jatuh!" jawab Stava.
"Hah? Perasaan aku tadi melihat kamu berjalan baik-baik saja, tapi tiba-tiba kamu jatuh!" imbuh Herlin.
"Iya, itu yang membuat aku jatuh, sosok hitam!"
"Pastinya itu setan!" gumam Herlin.
"Pastinya! Tapi biarkan saja, yang penting Stava sudah tidak kesakitan lagi!" jawab Tika.
Herlin hanya membalas dengan anggukan. Walau harapan Herlin untuk menjadikan Stava sebagai pelayannya, gagal, namun ia masih bahagia, karena banjir ucapan 'Terima kasih' dari keluarga Stava.
Seorang laki-laki yang berambut mejeng dan mengenakan jam di tangan kanannya, kini telah melahirkan bunga dalam hatinya. Dia sangat bahagia dan mencintai Stava. Namun, ia masih malu untuk mengungkapkan, sehingga ia memilih untuk menyembunyikannya cintanya terlebih dahulu.
"Sekarang, kalian semua tidur ya, Herlin dan Ari bisa tidur di kamar paling belakang ya, karena di sana kosong, tidak tertempati!" pinta Stavone. Mereka semua mengangguk dan berjalan ke kamar masing-masing.
Bibir Stava mengeluarkan angin, matanya mulai terpejam, Stava mengantuk. Saat hendak tidur nyenyak, Stava mendengar suara aneh yang jarang di dengar.
Ngak ...
Ngak ...
Ngak ...
Stava sontak kaget mendengar suara itu. "Astaga, itu kan suara burung gagak. Malam-malam ada burung gagak berbunyi, pertanda bahwa, jangan-jangan.... Isshhh, tidak-tidak aku tidak boleh berprasangka buruk dulu kalau belum tahu sebenarnya. Aaiihhh... Semoga semua baik-baik saja!" batin Stava.
Menurut kepercayaan masyarakat deru, jika ada burung gagak muncul pada malam hari, pertanda bahwa beberapa hari kemudian, akan ada orang yang meninggal. Hal itu sangat membuat Stava kaget dan sangat takut. Malam itu, jantung Stava berdegup kencang. Bibirnya bergerak mengucap do'a. Mata yang sedari tadi terpejam, langsung terbuka lebar. Semua itu membuat Stava tak bisa tidur.
"Ya tuhan, lindungilah orang-orang di sekitarku, jika takdir maut sudah dekat, tolong jauhkanlah, aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku ingin membiarkan mereka bahagia di dunia. Namun, jika memang takdir mautku sudah dekat, aku ikhlas, tidak mengapa jika aku harus pulang terlebih dahulu, tapi jangan ambil keluargaku. Wahai tuhanku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tolong kabulkan do'aku pada malam ini... Aamiin!" ucap Stava sangat pelan.
Setelah do'a tersebut keluar dari mulut Stava, hatinya terasa tenang. Di tengah ke tenangan hatinya, tiba-tiba ia mendengar suara bayi menangis yang terdengar nyaring. Ia pun turun dari ranjang dan keluar menghampiri suara tersebut.
"Di mana bayi itu?" tanya Stava dalam hati. Sepertinya suara tersebut dari kawasan belakang rumah sebelah. Ia pun menghampirinya.
Saat sampai di belakang, ia melihat sesuatu berwarna hitam di tanah. Apakah itu bayi? Tanpa lama, Stava langsung mendekati. Ternyata benar, di situ ada bayi yang tergeletak di tanah. "Sayang, kamu kok bisa di sini?" tanya Stava sambil mengangkat bayi tersebut dan membawanya pulang. "Ushushushushush... Tenang sayang, jangan menangis!" ucap Stava sambil mengelus-elus bayi tersebut yang sedang menangis. "Malam ini, kamu tidur bersamaku ya sayang... Ushushushush..." Stava pun berbaring sambil memeluk bayi tersebut.
Bayi tersebut sontak diam setelah dipeluk Stava. "Tidur sayang, ini sudah malam loh! Sudah jam tiga lebih tujuh, yuukk tidur yuukk, sebentar lagi pagi kok, kamu akan merasakan terangnya cahaya matahari. Kalau sekarang kamu tidur dulu ya!" ucap Stava masih mengelus-elus bayi tersebut.

KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri Rumah Sebelah (Completed)
TerrorHello everyone👋Dalam cerita ini, saya mengisahkan seorang perempuan bernama Stava yang tinggal disebuah kota kecil bernama Deru. Rumahnya tidak terlalu besar, namun di sebelah rumahnya terdapat rumah mewah dan megah. Sayangnya, rumah itu kosong sej...