Setelah semua tersusun rapi, Stava, Kavone dan Sika masuk rumah sebelah untuk memberi sesajen yang dijanjikan. "Permisi kerajaan derumay!" ucap Sika yang membawa 2 sesajen. Stava meletakkan sesajen yang dibawa dan membuka pintu rumah sebelah. Setelah terbuka, sesajen tersebut dibawa masuk. Seperti biasa, suasananya sedikit gelap, hanya ruang depan yang terlihat terang.
"Permisi kerajaan derumay!" tambah Stava yang membawa 2 sesajen juga.
"Permisi kerajaan derumay!" imbuh Kavone yang hanya membawa 1 sesajen.
"Kedatangan kami ke sini untuk menepati janji, kami membawa 5 sesajen untukmu wahai Raja Derumay!" ujar Stava. Lalu, mereka meletakkan sesajen tersebut di meja ruang tamu. "Sesajennya kami letakkan di sini ya, karena janji kami sudah tertepati, kami mohon pamit!"
"Eh Kak, kita di sini saja dulu!" desak Kavone.
"Mengapa?" tanya Stava.
"Kita duduk dulu di kursi ini sambil mengamati rumah ini!" jawab Kavone yang duduk di kursi tamu.
"Tidak usah Kak, kita langsung pulang saja!" usul Sika yang sepertinya takut.
"Di sini saja dulu!" rengek Kavone.
"Pulang!"
"Bagaimana sih kalian, ingin pulang atau ingin di sini?" tanya Stava yang bingung dengan kedua adiknya.
"Di sini!"
"Pulang!"
Jawab Sika dan Kavone bersamaan. "Yang paling adil, mending kalian suit, nanti yang menang harus diturutin!" lerai Stava. Sika dan Kavone pun melakukan suit dan pemenangnya adalah Kavone.
"Yey aku menang!" sorak Kavone.
"Ya sudah, karena pemenangnya adalah Kavone dan dia ingin di sini, kita turutin saja ya!" jelas Stava.
"Alah!" keluh Sika menyerah dan menuruti kedua Kakaknya. Stava pun ikut duduk di kursi tersebut bersama kedua adiknya.
"Semuanya gelap ya, cuma ruang ini saja yang terlihat terang!" celetuk Kavone sambil mengamati lantai pertama rumah sebelah.
"Memang dari dulu!" jawab Stava.
"Kira-kira penghuni ini di mana ya?" tanya Kavone sambil menempelkan telunjuknya di dagu.
"Penghuninya pindah rumah, kan mereka sudah bilang ke kita, dulu, kalau mereka pindah rumah di kota Mershi," jawab Stava.
"Kota Mersi itu sebelah mana ya Kak?" tanya Kavone.
"Sebelah timur kota Deru, tempat kuliah Kakak dulu, kamu lupa ya?"
"Oh iya, dulu kan Kakak kuliah di sana!" jawab Kavone.
"Mereka asik mengobrol, aku tidak diajak, mana aku takut, lagi!" batin Sika yang sedikit menyimpan rasa kesal pada kedua Kakaknya.
"Memangnya kamu tidak punya kontaknya Dek Herlin?" tanya Stava menanyakan Herlin, anak dari pemilik rumah tersebut.
"Tidak, bahkan aku sudah lupa dengannya!" jawab Kavone.
"Oh, Kakak pun sudah tidak punya kontak mereka!"
"Kira-kira mereka lupa sama kita atau tidak ya?"
"Mungkin kalau lihat kita masih ingat!"
"Kapan-kapan kita main ke sana yuuk!" ajak Kavone.
"Ke mana?" tanya Stava.
"Kota Mershi."
"Ya nanti, kapan-kapan."

KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri Rumah Sebelah (Completed)
HorreurHello everyone👋Dalam cerita ini, saya mengisahkan seorang perempuan bernama Stava yang tinggal disebuah kota kecil bernama Deru. Rumahnya tidak terlalu besar, namun di sebelah rumahnya terdapat rumah mewah dan megah. Sayangnya, rumah itu kosong sej...