《DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA 》⚠️Dilarang berkomentar menggunakan bahasa yang kasar ⚠️Awas Baper
| ⚠️ Romance-Reality |
Cerita ini menceritakan tentang seorang perempuan yang terlalu berharap kepada ciptaan Allah sehingga ia se...
Pagi yang sangat cerah membuat gadis berwajah putih itu terbangun disofa kamarrnya, ia tak sadar jika dirinya tertidur di sofa. Akhirnya gadis itu pun beranjak dari sofa dan bergegas membersihkan diri. Setelah selesai gadis itu pun membuka hp nya hanya untuk mengecek notifikasi, tak sengaja ia melihat notif dari sahabatnya yang berada di Amerika saat ia sekolah disana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Erina Wilson ia adalah sahabatku sejak aku sekolah di Amerika. Dia adalah salah satu orang yang pertama kali aku temui saat disekolah. Erina dikenal sebagai gadis yang cantik dan sangat pintar bahkan ia selalu mendapati juara kelas. Meskipun kita dulu berbeda kelas namun ia selalu menemuiku dikelas. Kita berdua selalu pergi bersama kemana pun itu.
Meskipun ia non Muslim tapi ia sangat menghargai Muslim. Bahkan saat aku pergi masjid ia selalu ikut dan menunggu ku didalam. Bahkan yang membuatku hatiku tersentuh sama Erina itu saat ia berusaha memakai mukena yang ada dimasjid dan ia berkata "On day, I want to be a moeslim. I think Islam a beautiful.". MasyaAllah kata-kata itu yang membuat air mataku menetes dan sontak memeluk Erina. Dan aku menjawabnya dengan berbisik kepadanya, "In Syaa Allah. Bismillah Erina. I'm sure you can and I advise you to strengthen your good intentions, don't let it falter Erina." Tangisku pecah didalam pelukan Erina. Aku tak menyangka ia mengucapkan seperti itu.
Aku hara pia menepati niatnya untuk menjadi seorang muslim. Dan saat ini aku berniat untuk menemuinya nanti. Jujur selama ini aku dan Erina lost contact dan baru kali ini kita saling kabar-kabar lagi dan saling bertukar cerita. Aku dan Erina itu mempunyai selisih umur yang tidak jauh ia berusia 23 tahun sedangkan aku 22 tahun. Namun kita tidak pernah membedakan umur bahkan kita terlihat seperti teman bukan seperti adik atau kakak.
🌼🌼🌼
Aku pun keluar dari kamar untuk menghampiri Umi,Abi,Maryam dan kak Ryan di ruang makan. Aku pun duduk disebelah kak Ryan, yang berhadapan dengan Abi dan juga Umi. Abi melihatku dengan tatapan tajam, aku pun langsung menundukkan kepala.
"Zahra? Kamu kenapa sayang? Ko mata kamu sembab gitu, kamu habis nangis?" tanya Abi. Aku membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Ko nunduk. Lihat Abi sini sayang?" ucap Abi. Mau tak mau aku pun mendongkakan kepala menatap Abi.
"Kenapa sayang? ceita sama Abi apa yang terjadi." Ucap Abi lagi
"Gapapa ko Bi. Zah Cuma kurang tidur ajah ko." Bohong ku.
"Kamu mau bohongin Abi yah! Sejak kapan kamu belajar bohong sama Abi. Siapa yang nyuruh kamu bohong?" tanya Abi.
"Ga ada bi. Zahra Cuma kurang tidur aja ditambah malam habis teleponan juga sama temen dan dia cerita kalau orang tuanya meninggal. Disana Zah ikut sedih." Bohongku lagi. Ya Allah maafkan Zahra. Zahra ga berniat bohong sama Abi, Zah Cuma gamau bikin Abi khawatir ajah.
"Benar? Kamu ga bohong sama Abi? Tanya Abi memastikan.